Menjadi Laki-Laki Baru Bersama CIS Timor | Villagerspost.com

Menjadi Laki-Laki Baru Bersama CIS Timor

William Fangidae, relawan CIS Timor dan rekannya Senol, memaparkan program laki-laki baru CIS Timor (dok. villagerspost.com/istimewa)

William Fangidae, relawan CIS Timor dan rekannya Senol, memaparkan program laki-laki baru CIS Timor (dok. villagerspost.com/istimewa)

Kupang, Villagerspost.com – Bagi Bani Sabloit (26 tahun) konsep laki-laki sejati, seperti umumnya pandangan orang di Nusa Tenggara Timur yang memiliki budaya patriarki kuat, adalah laki-laki yang garang, berani dan tak ragu bersikap keras pada siapa saja, termasuk perempuan. Di lingkungannya, Bani yang berbadan kecil, termasuk dihitung “jagoan” karena dia termasuk hebat dalam urusan minum minuman keras.

“Istilahnya, kalau di kawan-kawan Bani ini, kalau belum datang Bani, pesta minum belum mulai,” kata William Fangidae, salah seorang relawan dari Centre for Internally Displaced People’s Service (CIS) Timor, saat berbincang dengan Villagerspost.com, di Kupang, beberapa waktu lalu.

Bani sendiri tak sungkan untuk mengakuinya. “Di sini, kalau laki-laki itu memang gambarannya adalah berani mabuk, dilayani oleh perempuan untuk kopi, makan, kita duduk-duduk saja, setelah mabuk kita berkelahi,” katanya.

Namun, sikap Bani perlahan berubah ketika di awal tahun 2013, dia diajak oleh salah seorang relawan CIS Timor Senol, untuk mengikuti diskusi terkait gerakan Laki-Laki Baru (LLB) yang digagas CIS Timor. “Awalnya saya bertanya-tanya, apa ini laki-laki baru, kenapa harus laki-laki baru, dengan konsep laki-laki lama toh, saya tetap laki-laki,” katanya.

Namun toh, Bani, meski segan, mau juga mengikuti undangan Senol untuk berdiskusi terkait konsep LLB ini. Dari diskusi-diskusi itu, Bani mulai paham bahwa konsep “jantan” yang selama ini dianutnya sebagai laki-laki lebih banyak kelirunya. Dari diskusi itu, Bani paham bawha laki-laki yang “jantan” itu justru laki-laki yang mau bertanggung jawab, berbagi beban pekerjaan di rumah tangga dan bukan yang sekadar minta dilayani. “Saya sadar dengan konsep laki-laki yang lama, saya tidak berguna sama sekali bagi keluarga apalagi di masyarakat,” katanya.

Sejak itu, Bani pun berubah sikap. Dia tak lagi ragu untuk turun tangan membantu pekerjaa domestik membantu mengurangi beban pekerjaan ibunya. Dia tidak ragu lagi untuk terjun ke kebun dan bekerja engolah tanah. Langkah awal Bani menjadi laki-laki baru ini dimulai dari meninggalkan kebiasaan buruk minum-minumn keras, yaitu miuman keras lokal dari nira yang disebut sopi. “Di kami CIS Timor ada semacam kampanye meninggalkan minuman keras yaitu dari sopi ke kopi, jadi kalau kita kumpul-kumpul minum kopi saja,” kata William menimpali.

Langkah pertobatan Bani yang mulai meninggalkan minum-minuman keras ini mulanya dipandang aneh oleh kawan-kawannya. “Saya bahkan diledek dianggap berubah menjadi perempuan, diejek pakai rok saja kamu,” kata Bani.

Toh, Bani memilih tak menghiraukan semua ejekan itu. Dia bahkan kemudian bisa menjadi salah satu community organizer untuk program LLB CIS Timor. Bani sendiri selain merasakan perubahan pada dirinya, juga merasakan perubahan di keluarga. Ayahnya, yang mula-mula tak suka dengan Bani yang kerap mendiskusikan isu-isu laki-laki baru di rumah, sekarang tak lagi menentang. Bahkan sang ayah pun mengikuti Bani untuk berhenti minum. “Suasana di rumah juga tidak kaku, kami sekarang bisa berbincang di meja makan, tadinya sulit, kaarena kalau ayah makan di meja saya makan di dapur,” kata Bani.

Di kelompok pun, Bani bersama kawan-kawannya kini mengembangkan sebuah kebun percontohan di areal seluas setengah hektare yang ditanami umbi-umbian. “Kami tanami ubi ungu, dan langkah kami ini juga diperhatikan oleh pemerintah desa,” katanya bangga.

Perubahan serupa juga dialami Yoksan Koa (24 tahun). Meski di rumah dia sudah dibiasakan mengerjakan pekerjaan domestik, namun tetap saja sebagai laki-laki yang tumbuh di lingkungan dengan budaya patriarki yang kuat, Yoksan masih malu untuk bisa bekerja membantu ibunya secara terang-terangan. Padahal, dia sendiri punya niat membantu ibunya berjualan sayur di pasar yang lumayan berat karena harus berjalan menjunjung keranjang sayuran dari tempat pangkalan angkutan umum ke dalam pasar.

Sayangnya dalam pandangan umum masyarakat di Kupang, harga diri laki-laki akan jatuh jika dia membawa-bawa keranjang dan berjualan sayur di pasar. Namun semua itu berubah setelah Yokan bergabung dengan gerakan Laki-Laki Baru di tahun 2013 lalu. “Awalnya saya juga bingung apa itu laki-laki baru, tetapi karena tak ada kesibukan saya ikut saja,” katanya.

Namun ternyata keikutertaannya itu membawa dampak positif pada dirinya. Yoksan mengaku menjadi tahu apa itu konsep laki-laki yang sesungguhnya yaitu mereka yang mau membagi beban pekerjaan dalam keluarga. Akhirnya dia pun mulai berani membantu ibunya berjualan di pasar. “Mulanya saja hanya bantu angkat-angkat keranjang saja dari tempat pangkalan ke pasar, tetapi lama-lama saya berani juga membantu mama berjualan sayur di pasar,” katanya.

Seturut cerita William Fangidae, program Laki-Laki Baru itu sendiri, merupakan salah satu program yang dijalankan oleh salah satu divisi di CIS Timor yaitu, Divisi NTT Setara. “Lewat divisi ini kami menjalankan program keadilan gender, hidup setara, hidup adil,” kata pria yang akrab disapa Willy ini.

Ada beberapa program terkait kesetaraan gender lewat divisi ini. Pertama adaah program “We Can” yaitu terkait program pemberdayaan perempuan. “Tujuannya agar perempuan mampu berdaulat, bisa memimpin dan sebagainya,” kata Willy. Kedua, adalah program Laki-Laki Baru yaitu mengubah pandangan kaum laki-laki atas maskulinitas bahwa maskulinitas adalah ketika lelaki mampu untuk lebih peduli dan memahami perempuan dan tidak melakukan kekerasan terhadap perempuan.

Program “We Can” sendiri, kata Willy, sebenarnya di awal-awla ditujukan untuk pemberdayaan perempuan pengungsi. “Karena ketika para pengungsi dari Timor Leste (dulu Timor Timur), datang ke Timor Barat kebanyakan mereka datang sudah berstatus janda. Kita dorong mereka menjadi perempuan yang berdaulat, perempuan yang mampu mengambil keputusan atas hidup mereka sendiri,” terang Willy.

Sementara untuk program LLB, kata Willy, CIS Timor berupaya mengubah pandangan masyarakat NTT pada umumnya terkait maskulinitas. “Kalau di Kupang misalnya, ada satu budaya, anak laki-laki itu harus nakal, dia kalau tidak nakal disebut banci, karena budaya inilah laki-laki kemudian menjadi sangat superior, karena itu lewat LLB kami punya aktivitas sekolah bagi community organizer (CO) tentang kesetaraan gender, kami kemas dalam bentuk sekolah informal, dari situ teman-teman bisa paham kesetaraan gender, anti kekerasan terhadap perempuan, dan setelah kembali ke lingkungan mereka memiliki kemampuan untuk identifikasi kalau ada kasus KDRT, kami beri pemahaman tentang apa itu kekerasan terhadap perempuan, apa itu bentuk-bentuk kekerasan terhadap perempuan,” papar Willy.

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *