Mereka Menjadi Laki-Laki Baru | Villagerspost.com

Mereka Menjadi Laki-Laki Baru

Aliansi Laki-laki Baru mendapatkan pelatihan dari yayasan Sanggar Suara Perempuan (dok. oxfam)

Aliansi Laki-laki Baru mendapatkan pelatihan dari yayasan Sanggar Suara Perempuan (dok. oxfam)

Timor Tengah Selatan, Villagerspost.com – Tangan Yandri Ome (32) nyaris melayang ke pipi istrinya Adriana Baifeto (28). Kekesalannya yang memuncak entah karena persoalan apa, hampir membuatnya lupa dengan statusnya sebagai “Laki-laki Baru” yang tidak seharusnya bertindak keras kepada perempuan, terkhusus istrinya sendiri. Beruntung sikap pasrah Adriana yang justru malah menyorongkan kepalanya untuk dipukul, malah menyadarkan pria kelahiran 6 Juni 1984 itu.

“Saya menangis, saya ingat harus memberikan contoh yang baik agar orang percaya kepada saya supaya tidak melakukan kekerasan kepada istri, kalau saja saya lakukan, pasti orang tidak percaya lagi kepada saya,” kata Yandri kepada Villagerspost.com, beberapa waktu lalu.

Yandri memang bukan lagi laki-laki biasa seperti umumnya lelaki di Nusa Tenggara Timur yang kerap ringan tangan kepada perempuan. Lelaki yang tinggal di kampung Oehani, Kecamatan Kualin, Timor Tengah Selatan, NTT itu, adalah “laki-laki baru”. Laki-laki NTT yang berubah dari “ringan tangan” alias memukul menjadi ringan tangan untuk membantu istri mengerjakan pekerjaan sehari-hari.

(Baca Juga: Kisah Paralegal Perempuan, Meruntuhkan Tembok Kekerasan)

(Baca Juga: Kekuatan Agama, Adat dan Desa Hapus Kekerasan Terhadap Perempuan)

Bagi tetangganya, perilaku Yandri yang kerap membantu istri menyapu halaman, menimba air, dan memandikan anak adalah sesuatu yang aneh. Maklum dalam adat di sana, laki-laki adalah “raja” yang selalu harus dilayani oleh perempuan. Namun bagi Yandri semua itu adalah rintangan yang mesti dia lewati sebagai “laki-laki baru”. Lelaki NTT yang tidak bertindak kasar kepada anak dan istri, lelaki yang rela berbagi beban tugas rumah tangga dengan istri.

“Saya harus terus memberikan contoh agar tetangga dan teman-teman yang melihat mau ikut berubah,” katanya dengan ekspresi penuh keyakinan.

Perubahan sikap Yandri sebenarnya sudah mulai terjadi ketika dia menemani Adriana, melahirkan anak pertamanya. Saat itu dia menyaksikan sendiri bagaimana beratnya beban seorang perempuan yang bertaruh nyawa melahirkan anak. Yandri semakin tersentuh ketika tahu anak yang dilahirkan Adriana adalah anak laki-laki, penerus garis keturunannya.

“Di situ saya sadar betapa berat beban perempuan, melahirkan anak, melahirkan bayi yang akan menjadi penerus bagi marga saya,” katanya.

Sejak itulah, dia bukan Yandri yang dulu lagi, yang tak segan bertindak kasar kepada perempuan. “Dulu sebelum punya istri, saya suka kasar, suka main pukul terutama sama adik perempuan,” akunya.

Keyakinan Yandri berubah menjadi “laki-laki baru” (LLB) semakin tebal ketika dia berkenalan dengan rekan-rekan dari Sanggar Suara Perempuan (SSP) di kota SoE. Oleh rekan-rekan SSP, Yandri dikenalkan dengan Aliansi Laki-Laki Baru. Yandri kemudian bergabung dengan kelompok itu dan menjalani berbagai pelatihan.

“Pada awalnya perkenalan saya dengan LLB masih menimbulkan tanda tanya, apa itu laki-laki baru,” katanya dengan mimik polos.

Lama kelamaan setelah bergaul semakin intens dan selama proses mengikuti kegiatan LLB dia semakin memahami apa itu LLB dan bagaimana menjadi seorang laki-laki baru. Terlebih setelah dia mengikuti pelatihan Training for Trainer Community Organization (CO) LLB.

Yandri mengakui mulanya sangat berat mengemban tugas sebagai laki-laki baru. “Saya tidak berhenti memikirkan tuntutan perubahan perilaku sebagai sebagai salah seorang CO. Tuntutan perubahan tersebut semakin membuat saya serba salah, karena ketika saya nantinya mengajak laki-laki lain untuk memahami bagaimana semestinya menjadi lelaki ideal konsekuensinya saya dikucilkan oleh lingkungan dan teman-teman saya,” katanya.

Tuntutan sebagai CO memang tidak main-main. Yandri mesti bisa mempengaruhi laki-laki lain di desan untuk tidak menggunakan cara-cara kekerasan untuk menunjukkan maskulinitasnya. Dia juga mesti bisa mempengaruhi laki-laki lain di desanya untuk tidak mendominasi dalam berelasi dengan pasangan.

Namun, semua kekhawatiran itu dia tepis jauh-jauh. Semakin terlibat dengan kegiatan LLB membuat Yandri semakin paham makna lelaki ideal. Selama ini seturut budaya setempat lelaki ideal dipahami sebagai lelaki bisa mendominasi dan ditakuti. Tetapi dengan belajar bersama kelompok LLB dia memahami lelaki ideal justru adalah mereka yang bisa berelasi dengan pasangan tanpa dominasi dan kekerasan. Lelaki yang tidak segan turun tangan berbagi beban pekerjaan domestik dan pengasuhan anak.

“Tetapi saya sekali lagi juga berpikir konsep laki-laki yang diusung laki-laki baru di mata masyarakat akan dianggap sebagai suami takut istri,” katanya.

Pengalaman Yandri mengajak orang di lingkungannya sebagai laki-laki baru datang ketika suatu ketika bertemu dengan teman yang kerap melakukan kekerasan terhadap istrinya yang dalam keadaan hamil. “Melihat itu, saya perlu berbuat sesuatu, maka saya mulai melakukan pendekatan dengannya,” kata Yandri.

Yandri mengajak temannya itu berbicara dari hati ke hati dan menceritakan pengalamannya saat menemani Adriana menjalani proses melahirkan anak. Dia ceritakan bagaimana perjuaangan perempuan melahirkan darah daging si lelaki yang dengan bertaruh nyawa sudah seharusnya dihargai dengan tidak melakukan kekerasan kepada perempuan dan mau berbagai beban dengannya. “Saya bahagia sekali karena pada akhirnya teman saya tidak lagi melakukan kekerasan terhadap istrinya,” kata Yandri.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *