Mukalal: Mengubah Tanah Api Jadi Lumbung Padi | Villagerspost.com

Mukalal: Mengubah Tanah Api Jadi Lumbung Padi

Tanjung Batu, Villagerspost.com – Mukalal masih mengingat dengan jelas saat saat pertama dia menginjakkan kakinya di Kalimantan Timur, tepatnya di desa Labanan Jaya, Kecamatan Teluk Bayur, Kabupaten Berau pada tahun 1982 lalu. “Saat itu Berau belum ada kendaraan roda empat, menuju Berau (dari Samarinda) bisa dua hari perjalanan,” katanya, saat ditemui di sela acara Lingkar Belajar Mandiri masyarakat Kalimantan Timur di aula SMKN 3 Berau, Minggu (29/7) lalu.

Mukalal sendiri aslinya adalah orang Berau, namun lahir di Tulung Agung Jawa Timur. Dia datang kembali ke kampung halamannya, untuk mengikuti program transmigrasi. Dari sekian banyak kilasan kesan yang bisa dia tangkap tentang Berau saat itu, ada satu hal yang paling berkesan terkait kondisi tanah di desa Labanan Jaya. “Tanahnya sangat gersang, kalau dicangkul keluar api dia,” ujarnya.

Ini tentu sebuah kenyataan yang pahit sekaligus tantangan bagi Mukalal dan 12 orang rekannya. Tantangan berat untuk mengubah tanah api ini menjadi kawasan subur lumbung penghasil padi, sesuai tujuannya datang ke Labanan Jaya yaitu mengembangkan pertanian. Maka sejak tahun 1995, ke-12 orang ini termasuk Mukalal segera pancang tekad untuk sukses membangun pertanian di “tanah api” itu.

Tentu bukan upaya mudah karena ke-12 orang hampir saja tak mampu mewujudkan yang dicita-citakan, namun tekad membaja terus dipancangkan. Untuk menambah semangat dan keyakinan, mereka juga membentuk sebuah grup ludruk yang saban pentas menghadirkan isu-isu pertanian. Perlahan tapi pasti, usaha mereka mulai menunjukkan hasilnya, dua tahun bekerja keras mengolah tanah, akhirnya lahan di Labanan Jaya mulai bisa ditanami, khususnya untuk tanaman padi. “Sekarang Alhamdulillah, lahan sawah di Labanan Jaya bisa mencapai 500 hektare,” kata Mukalal.

Tak hanya membuka areal persawahan, Mukalal juga membina para petani dalam kelompok-kelompok tani. Mukalal sendiri hingga kini menjabat sebagai ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Manunggal Karsa. Gapoktan yang didirikan pada tahun 1998 ini memiliki empat unit kegiatan usaha dalam rangka melayani kebutuhan anggotanya, meliputi usaha pengadaan sarana produksi pertanian (saprotan), simpan pinjam, pengolahan serta unit pemasaran hasil pertanian.

Pada awal pembentukannya Gapoktan Manunggal Karsa hanya beranggotakan empat Kelompok Tani (Poktan), dengan anggota 93 orang. Kini, keanggotaannya telah berkembang menjadi 15 Poktan, yang terdiri dari 10 Poktan, tiga kelompok wanita tani, satu kelompok penangkar benih, dan satu Kelompok Perhimpunan Petani Pemakai Air (P3A), dengan total jumlah anggota 257 petani.

Total luas lahan yang digarap pun bertambah. Jika awal pembentukannya Gapoktan Manunggal Karsa baru mampu mengelola lahan seluas 108 hektare, kini total luas lahan yang digarap oleh 257 orang petani anggota Gapoktan tak kurang dari 294 hektare. Mukalal juga mengembangkan Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S) yang dibiayai secara mandiri. Dia memberikan kebebasan kepada petani dari desa manapun untuk datang belajar mengembangkan pertanian di P4S.

“Kalau ada yang mau berusaha membuat pupuk organik, kita siap memberikan bahan belajar, demikian juga yang mau belajar memelihara lele tanpa pakan kita punya S.O.P-nya, mau belajar ternak kita ada,” ujarnya.

Tak puas dengan hasil yang sudah dicapai, Mukalal juga menginisasi pengembangan pertanian padi organik di Labanan Jaya. Dia menegaskan, petani saat ini harus mampu mengembangkan pertanian ramah lingkungan. Untuk itu, atas kerja sama dengan pihak Bank Indonesia, Mukalal pun mengembangkan pertanian organik pada lahan seluas 5 hektare di Labanan Jaya.

Mukalal mengatakan, petani harus mengembangkan pertanian ramah lingkungan karena kalau terus menggunakan input kimia, lingkungan akan rusak, pertanian akan hancur karena banyak serangan hama. “Sebaliknya kalau jaga lingkungan, pertanian akan baik, pangan sehat, tidak mengandung residu kima, lebih sehat lagi,” tegasnya.

Mukalal yang juga dipercaya sebagai Ketua Kontak Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Berau itu pun menyemangati petani lain untuk mampu mengikuti jejak yang sudah dirintisnya. Tak hanya bertanam padi, Mukalal dan kelompoknya juga bertanam hortikultura dan juga belajar untuk memasarkan produk dan mencari mitra untuk permodalan. “Kami juga siap membantu bapak-ibu mencarikan mitra,” tegasnya.

Terkait permodalan, Mukalal sendiri punya ide yang cukup unik namun sangat mungkin dilaksanakan yaitu membangun gerakan seribu rupiah atau “Gerbu”. “Permodalan nggak harus uang negara, setiap petani bisa kumpulkan uang seribu rupiah, ‘Gerbu’ gerakan uang seribu, setiap hari nabung seribu rupiah, kalau penduduk satu kampung ada seribu orang, maka satu hari dapat satu juta rupiah, setahun ada 360 juta, apa nggak bisa buat bangun kampung kita?” kata Mukalal.

Dia juga meyakinkan petani untuk memanfaatkan aplikasi SIGAP yang dikembangkan TNC untuk saling bertukar pengetahuan, memberikan inspirasi dan tentu saja mengimplementasikan berbagai pengetahuan yang didapat dengan aksi nyata. “Mari kita turun bersama, kerjasama di kampung, antar kampung, melihat pembangunan yang dilakukan, meniru hal-hal yang baik, itu kita laksanakan bersama,” kata Mukalal.

Sebagai ketua KTNA, Mukalal sendiri mengaku akan selalu siap mendengarkan berbagai keluhan, masukan, dan saran dari petani untuk disampaikan kepada pemerintah daerah maupun pemerintah pusat. “KTNA adalah mitra pemerintah, saya senang mendengarkan masukan dari petani karena kalau ada pertemuan pasti akan saya sampaikan keluhan bapak-ibu kepada pemerintah, berbagai masalah bisa disampaikan, untuk dicarikan solusinya,” kata Mukalal.

Dari berbagai masalah yang dihadapi, ada satu hal yang menjadi perhatian Mukalal, yaitu semakin banyaknya perkebunan sawit yang dibuka berdekatan dengan lahan persawahan. Bahkan, ada pula lahan pertanian yang dialihfungsikan menjadi lahan perkebunan sawit. Karena itu, kata Mukalal, perlu ada tata ruang yang benar untuk menegaskan, lokasi untuk perkebunan dan pertanian secara terpisah.

Dia mengatakan, keberadaan kebun sawit di sekitar lahan pertanian, menghambat upaya perluasan lahan. Selain itu keberadaan perkebuna sawit di sekitar areal persawahan juga mengancam pertanian karena penyerapan air untuk tanaman kelapa sawit sangat kuat, sehingga air yang harusnya digunakan untuk persawahan, terserap tanaman sawit

Mukalal meminta, agar pemerintah kabupaten bisa mengatur tata ruang ini sehingga lokasi perkebunan sawit tidak berdekatan dengan lahan pertanian. Dia mengingatkan, pada 2019 mendatang, Kabupaten Berau akan menjadi tuan rumah Peda (Pekan Daerah). Kegiatan tersebut akan dihadiri 3.000 petani dari seluruh kabupaten dan kota di Kaltim. Akan banyak pihak yang datang untuk mempelajari berbagai ilmu pertanian, salah satunya menanam bibit padi dengan transplanter (mesin tanam padi).

“Kita harus menjaga kepercayaan ini, dengan cara kerja sama untuk membangun pertanian yang lebih baik, khususnya pemecahan masalah yang ada yaitu penataan ruang pertanian supaya lebih rapi lagi,” tegas Mukalal.

Menyemangati para petani, Mukalal menegaskan, petani adalah raja, karena petani menghasilkan pangan. “Kita harus bangga, petani setiap hari berdoa untuk penghidupan bangsa, tanpa petani bangsa kita akan lapar negara kita akan ambruk. Kata Bung Karno, jatuh bangunnya suatu negara adalah dari pangan. Petani sangat terhormat, jangan merasa kalau kita petani adalah orang kecil. Kita harus bangga jadi petani,” tegas Mukalal.

Dia sendiri membuktikan, seorang petani pun bisa berdiri sejajar dengan presiden. Tahun 2016 lalu, Mukalal menerima penghargaan Adhikarya Pangan Nusantara 2015 untuk kategori “Pemangku Ketahanan Pangan Nasional” yang diserahkan langsung oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara. Penghargaan ini merupakan sebuah pengakuan dari negara terhadap Mukalal atas keuletan dan kegigihannya dalam membangun pertanian di Kabupaten Berau.

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *