Mukernas Gerakan Petani Nusantara: Merevitalisasi Semangat Empat Windu Pengendalian Hama Terpadu | Villagerspost.com

Mukernas Gerakan Petani Nusantara: Merevitalisasi Semangat Empat Windu Pengendalian Hama Terpadu

Ketua Gerakan Petani Nusantara (GPN) Hermanu Triwidodo di acara pembukaan Musyawarah Kerja GPN 2018 (dok. gerakan petani nusantara)

Indramayu, Villagerspost.com – Sejumlah 120 petani dari 6 provinsi yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Lampung, Sabtu (27/1) berkumpul di Desa Nunuk, Indramayu, Jawa Barat. Para petani yang merupakan anggota Gerakan Petani Nusantara tersebut, berkumpul untuk melaksanakan Musyawarah Kerja Nasional tahun 2018, untuk memantapkan program-program kerja organisasi.

Pertemuan kali ini mengambil tema “Merevitalisasi Semangat Empat Windu Pengendalian Hama Terpadu”. Tema itu diambil dari pelajaran yang diterima para petani, khususnya petani padi yang sepanjang tahun 2017 lalu mengalami kerugian besar akibat gagal panen yang disebabkan menghebatnya serangan hama wereng yang diikuti oleh serangan virus kerdil hampa (klowor) yang menghancurkan ratusan ribu hektare sawah di Indonesia.

Kepala Klinik Tanaman Institut Pertanian Bogor Dr. Ir. Widodo mengatakan, serangan itu dalam satu tahun (2-3 kali tanam) telah menyebabkan kegagalan panen pada lahan seluas tak kurang dari 650 ribu di 30 Kabupaten se-Indonesia. Dampaknya besar karena kabupaten-kabupaten yang terserang itu sentra produksi padi seperti sepanjang kawasan Pantai Utara (Pantura) Jawa Barat mencakup Karawang, Subang, Indramayu dan Cirebon. Kemudian di kawasan Cilacap-Banyumas, Jawa Tengah, dan kawasan Bojonegoro-Pasuruan, Jawa Timur.

“Di Jawa Barat saja, sebagai lumbung pangan, serangan itu dalam dua musim tanam mengakibatkan kegagalan panen pada lahan seluas hancurkan tak kurang dari 150 ribu hektare sawah,” ujar Widodo.

Ketua Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian IPB Dr. Ir. Suryo Wiyono mengatakan, kegagalan panen ini terjadi karena adanya salah kelola dalam pembangunan pertanian. Salah satunya adalah upaya menggenjot produksi padi dengan memaksakan pola tanam padi tiga kali dalam satu tahun atau yang dikenal dengan nama Indeks Penanaman (IP) 300. “Ini menyebabkan serangan hama menghebat karena tidak ada pemutus siklus serangan hama,” kata Suryo.

Kemudian hal ini diperparah dengan cara petani menghadapi serangan wereng yang tidak lagi mengindahkan kaidah Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Pendekatan pengendalian hama dengan cara cepat dan menggunakan input luar (pupuk kimia sintetis, pestisida, varietas unggul) yang sangat tinggi ternyata tidak efisien dan tidak berkelanjutan. Hal itu ditunjukkan dengan meningkatnya penggunaan pestisida dan insektisida sejak tahun 2014 menjadi menjadi 11 liter per hektare per musim.

Peserta Mukernas GPN 2018 menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya (dok. gerakan petani nusantara)

Yang juga mengkhawatirkan, kata Suryo, frekuens penyemprotan pestisida pada padi di Pantura Jabar juga mengalami lonjakan signifikan. Survei pada tahun 1991 menunjukkan, frekuensi penyemprotan pestisida pada padi hanya sebanyak 3 kali per musim. Sementara data tahun 2017 menunjukkan lonjakan pesat yaitu sebanyak 9-12 kali per musim tanam.

“Jumlah yang luar biasa besar dan memiliki dampak yang sangat luas. Tidak hanya terkait aspek lingkungan dan kesehatan, besarnya penggunaan pestisida juga memungkinkan rusaknya agroekosistem yang berujung pada terganggunya produksi seperti yang akhir-akhir ini terjadi,” kata Suryo.

Karena itu, seperti diungkapkan oleh Ketua Gerakan Petani Nusantara Dr. Ir. Hermanu Triwidodo, dalam kerangka ini, maka tidak ada pilihan lain selain memikirkan dan menguatkan kembali kebijakan PHT dalam arena pembangunan pertanian di Indonesia. “Ini seperti sejarah berulang, ketika Pak Harto, dulu pada akhirnya mencanangkan PHT pada 32 tahun lalu,” kata Hermanu.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *