Nehas Liah Bing: Perjuangan Warga Dayak Wehea Melestarikan Hutan Desa | Villagerspost.com

Nehas Liah Bing: Perjuangan Warga Dayak Wehea Melestarikan Hutan Desa

Prasasti penanda kawasan hutan lindung Wehea, di Desa henas Liah Bing (dok. tnc/chris djoka)

Tanjung Batu, Villagerspost.com – Desa Desa Nehas Liah Bing, Kecamatan Muara Wahau, Kutai Timur, adalah desa yang didiami oleh masyarakat dayak dari suku Dayak Wehea. Nehas Liah Bing adalah desa pertama di Kalimantan Timur yang merintis upaya pengelolaan hutan desa secara lestari sebelum lahirnya UU Desa dan aturan terkait perhutanan sosial.┬áNehas Liah Bing adalah salah satu contoh desa di sekitar kawasan hutan yang di sekitarnya sudah berdiri berbagai perusahaan mulai dari izin hutan tanaman industri, HPH, pertambangan dan sawit.

Kepala Desa Nehas Liah Bing Kristian Hasmadi Lung Eng mengatakan, upaya warga mengelola hutan sekaligus kawasan desa sudah dimulai sejak pertengahan tahun 2000-an. Pak Lung–sapaan akrab Kristian–bercerita, dari pemetaan oleh pihak kabupaten pada tahun 2002, diketahui luas wilayah Desa Nehas Liah Bing yang didiami suku Dayak Wehea mencapai 737 ribu hektare.

Namun dari luas itu, beberapa puluh ribu hektare di antaranya sudah dikuasai perkebunan sawit. Belum lagi beberapa usaha pertambangan dan juga HPH yang mengelilingi kawasan desa tersebut. Hal ini mempersulit kehidupan warga desa yang umumnya merupakan petani ladang yang hanya menyisakan lahan seluas 1000 hektare dan harus berbagi dengan usaha budidaya sayuran dan peternakan serta tanaman pangan lainnya. Namun, usaha ini juga mendapat tantangan dari dampak kerusakan ekologi yang dihadirkan perusahaan besar yang ada di sekitar desa.

Dari sawit misalnya, dari pembukaan lahan sudah membawa perubahan pada kondisi air di sungai Wehea. “Airnya menjadi seperti susu, dahulu waktu musim hujan pun meski banjir, airnya masih tetap jernih, sekarang menjadi putih seperti susu, kita tidak mengerti ini dampak dari apa, kemungkinan dari pemupukan sawit, satu pohon saja, kebutuhan sawit memang besar bisa mencapai 1,5 sampai 3 kilogram, ini sepertinya membawa dampak ketika semua tak terserap tanah, ketika hujan terbawa ke sungai. Air pun juga memberi dampak gatal jika terkena kulit karena airnya berlendir. Kita belum tahu apa dampak kerusakan air ini pada ikan,” kata Pak Lung, kepada Villagerspost.com, akhir Juli lalu.

Karena itu, kata dia, sejak tahun 2005 lalu, warga desa sudah berjuang mempertahankan sepotong lahan hutan seluas 38.000 hektare di hulu sungai sebagai hutan lindung bagi desa. Hutan Lindung Wehea itu sebelumnya adalah eks-hutan ekploitasi perusahaan HPH PT Gruti III. Kemudian pada 1995 digabung dengan PT Inhutani II menjadi PT Loka Dwihutani. Pada tahun 2003, hutan dievaluasi oleh Pemprov Kaltim dan dinilai kondisinya masih baik. Pada tahun 2005 melalui melalui Surat Keputusan Bupati Kutim No. 44/02.188.45/HK/II/2005 dibentuklah Badan Pengelola Hutan Lindung Wehea (BP-HULIWA) yang terdiri dari unsur pemerintah, masyarakat adat, lembaga pendidikan, dan LSM.

Berada di ketinggian 250 m di timur sampai 1750 m di barat, dengan tipe hutan mulai dari dataran rendah hingga hutan pegunungan, hutan Wehea mempunyai fungsi hidrologis yang penting karena merupakan DAS untuk Sungai Wehea di Kabupaten Kutai Timur dan Sungai Long Gi di Kabupaten Berau yang terletak di Muara Wahau. Hutan Lindung Wehea terdapat berbagai jenis satwa liar antara lain 19 jenis mamalia, 114 jenis burung, 12 hewan pengerat, 9 jenis primata, dan 59 jenis pohon bernilai ekonomi. Salah satu primata yang menggantungkan hidupnya terhadap kelestarian Hutan Wehea adalah orangutan (Pongo pygmaeus).

Masyarakat Wehea sendiri pernah menyampaikan tuntutan serius kepada pemerintah melalui kementerian lingkungan hidup pada tahun 2014 lalu. Mereka dia antaranya menuntut pengakuan atas masyarakat adat Dayak-Wehea dan hak ulayat sebagai sebuah entitas masyarakat adat di Indonesia. Mereka juga menuntut penghentian penerbitan ijin baru untuk segala jenis usaha yang dapat merusak hutan adat, budaya dan lingkungan hidup. Masyarakat juga menuntut pencabutan semua Ijin Usaha Pertambangan (IUP) dan penghentian ijin baru pertambangan di wilayah Ulayat Masyarakat Adat Wehea Kutai Timur Kalimantan Timur.

Namun, kata Pak Lung, hingga kini belum jelas seperti apa proses tuntutan itu ditanggapi pihak pemerintah. Meski demikian, warga desa Nehas Liah Bing tidak berputus asa dalam menjaga hutan milik mereka tersebut. Secara mandiri mereka membentuk sekelompok anak muda yang bertugas menjaga hutan lindung yang diberi nama “Petkuq Mehuey”. “Tugas mereka melakukan ronda keliling kawasan yang masih bisa dijangkau, dan mencegah pihak mana pun untuk masuk ke sana,” ujar Pak Lung.

Tim tersebut bergiliran berjaga setiap satu bulan sekali. Pernah sekali waktu, ada sekelompok penambang emas luar memasuki kawasan tersebut karena batasnya memang tidak terlalu jelas antara sungai Wehea dan Sungai Ling Gie. Untungnya sebelum sempat melakukan aktivitasnya, para penambang liar itu berhasil dipergoki tim petkuq mehuey dan di usir keluar dari kawasan.

“Selain dengan petkuq mehuey, kita juga bekerjasama dengan Desa Long Gie, yang berdasarkan batas alam berbatasan dengan wilayah kami, mereka ikut mengamankan wilayah kami, meski pun untuk wilayah mereka warga Long Gie masih mengijinkan untuk penambangan emas untuk pemasukan mereka,” kisah Pak Lung.

Kesadaran menjaga hutan–khususnya kawasan lindung yang tersisa itu– kata Pak Lung memang lahir dari kebiasaan hidup masyarakat Wehea sejak nenek moyang yang selalu berdampingan dengan alam. “Dari budaya, kami senang melihat hutan asri, terutama mempengaruhi udara kondisi menjadi sejuk, udara segar. Di hulu sungai hutan kita ini hanya tinggal satu, kalau hancur, akan berdampak pada kehidupan di hilir, jika di hulu kita amankan, air jernih masih bisa kita rasakan di hilir,” kata Pak Lung.

Masuknya perusahaan besar seperti perkebunan sawit memang sedikit banyak mempengaruhi kehidupan warga desa. Untuk penghidupan, sebagian warga memang masih mengandalkan dari berkebun sawit menjadi plasma bagi perusahaan besar di sekitarnya. Namun, untuk menjaga pembangunan ekonomi yang berkelanjutan, pelan-pelan warga desa juga mengembangkan usaha yang lebih lestari yaitu mengembangkan sektor wisata alam seperti di Gunung Kombeng.

Usaha wisata ini dikelola sekelompok anak muda, dan hasil pendapatan sebagian di setor ke kas desa. Awal mula lahirnya usaha ini adalah melihat kebiasaan warga dari wilayah sekitar dan wilayah luar yang suka berkumpul menikmati keindahan alam di kawasan Gunung Kombeng. Salah satu daya taring kawasan itu adalah keberadaan gua angin di mana saat dilewati hembusan angin kencang dari gua tersebut akan keluar suara-suara seperti siulan atau lolongan yang menarik.

Maka oleh anak-anak muda Desa Nehas Liah Bing, kawasan itu kemudian mulai dibangun beberapa fasilitas dengan memperhatikan kawasan agar jangan merusak. Fasilitas yang dibangun seperti toilet, tempat pertemuan, dan tempat istirahat. Selain wisata Gunung Kombeng, Desa Nehas Liah Bing juga memiliki daya tarik berupa atraksi kesenian menyambut panen yang disebut Lomplai. Selain ritual adat, upacara Lomplai juga diisi dengan kesenian hudoq, yaitu tarian mistis yang ditarikan menggunakan menggunakan topeng sebagai perwujudan dari binatang, leluhur dan dewa. Hudoq sendiri berarti “menjelma”.

Uniknya, di acara Lomplai, ada satu ritual tertentu yang memang tidak diizinkan untuk dilihat orang luar. Saat ritual ini berlangsung, wisatawan yang datang akan dialihkan perhatiannya dengan menyaksikan atrasi lain semisal upacara perang-perangan di atas perahu yang dilakukan di sungai Wehea. Para pemuda dengan pakaian perang adat lengkap dengan tameng akan beradu keahlian melempar “tombak” dari pelepah sawit untuk saling menjatuhkan lawan ke sungai.

Untuk pesta Lomplai ini, kata Pak Lung, memang masih diusahakan agar wisatawan bisa terus mengikuti upacara tanpa menganggu kesakralannya. Belum lama ini, kata dia, seorang warga suku Wehea yang kebetulan duduk di DPRD Kaltim, sempat melakukan kunjungan kerja ke Sangatta dan bagaimana desa di sana menjadikan atraksi yang nyaris serupa dengan kemasan yang lebih menarik.

Kemudian di Long Lanuq, warga Wehea juga mempelajari ada atraksi menarik yang disajikan dari kebiasaan penduduk setempat mencari madu. Mereka memperlombakan atraksi memanjat pohon untuk mengambil madu. Menjadi menarik karena ada tantangan tersendiri selain pohonnya tinggi bisa mencapai 40 meter, juga para peserta lomba harus mampu menghindari sengatan lebah untuk mengambil madu. “Kita juga memiliki tradisi yang hampir serupa yang sebenarnya bisa untuk disajikan sebagai atraksi wisata,” tegas Pak Lung.

Untuk kepentingan ini, saat ini di Wehea juga tengah dilakukan penataan perumahan penduduk agar tidak ada lagi rumah-rumah yang berdiri di bantaran sungai Wehea. “Kita sekarang kembangkan perumahan ke arah daratan, jadi mereka yang mau pindah dari pinggir sungai kita minta rumah yang di pinggir sungai dibongkar agar nantinya pemandangan ke arah sungai tidak terganggu, supaya Desa Nehas Liah Bing nampak serasi sebagai desa wisata,” pungkasnya.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *