Nuryasin: Petani Biasa Jadi Luar Biasa | Villagerspost.com

Nuryasin: Petani Biasa Jadi Luar Biasa

Nuryasin, petani biasa yang jadi luar bisa lewat dorongan program Restoring Coastal Livelihood (dok. Oxfam/Irwan Firdaus)

Nuryasin, petani biasa yang jadi luar bisa lewat dorongan program Restoring Coastal Livelihood (dok. Oxfam/Irwan Firdaus)

 
Makassar, Villagerspost.com – “Saya awalnya petani biasa saja, saya tanam sayur mayur, lahannya seluas 3 are, 3000 meter persegi. Saya pinjam lahan milik orang lain,” begitu Nuryasin (34 tahun) membuka pembicaraan. Villagerspost.com menemui Nuryasin di acara penutupan program Restoring Coastal Livelihood (RCL), di Makassar, Sabtu (22/8) lalu. RCL sendiri adalah sebuah program yang diluncurkan Oxfam bersama pemerintah Kanada sejak tahun 2010 lalu. Program itu, sesuai namanya adalah sebuah program untuk memulihkan penghidupan masyarakat di pesisir.

Ada empat kabupaten di Sulawesi Selatan yaitu, Kabupaten Takalar, Maros, Barru dan Pangkep yang dijadikan pilot project program ini. Kembali ke Nuryasin, petani asal desa Pao-Pao Kecamatan Taneterilau Kabupaten Barru itu, adalah salah seorang penerima manfaat program RCL. Keterlibatan Nuryasin dengan program RCL sendiri bermula dari sebuah ketidaksengajaan.

Seperti yang dia ceritakan di awal, sebenarnya dia hanyalah petani biasa yang membudidayakan sayuran seperti cabai, kangkung, mentimun dan terong di atas lahan yang dia sewa dari orang lain. Dari bertani sayur-sayuran itu, dia setiap bulannya mampu meraup penghasilan antara Rp300.000-Rp500.000 per bulan. Penghasilan sebesar itu mulanya cukup-cukup saja bagi Nuryasin untuk hidup saban bulannya. Hanya saja, semuanya berubah ketika ia menikah beberapa tahun lalu.

Semenjak menikah Nuryasin merasa penghasilannya tak lagi memadai untuk menghidupi dia dan istrinya. Beruntung sang istri yang adalah seorang kader kelompok pemberdayaan masyarakat (KPM), yang kemudian ikut aktif terlibat ketika program RCL masuk ke desa tersebut pada tahun 2012 lalu. Nuryasin akhirnya ikut bergabung dengan program tersebut di akhir tahun 2013.

Kebetulan sekali, sejak memutuskan untuk bertani sayur-mayur, Nuryasin dengan tidak sengaja telah mengembangkan sistem pertanian organik. “Saya sebenarnya mengembangkan pertanian organik karena terpaksa karena tidak ada uang untuk membeli pupuk dan obat-obatan,” kata pria kelahiran Lampung Tengah tahun 1981 itu.

Namun oleh Oxfam, “keterpaksaan” Nuryasin ini justru dianggap sebagai sebuah keunggulan yang harus dikembangkan dan selaras dengan tujuan program RCL yang tidak hanya berupaya memulihkan dan menghidupkan penghidupan masyarakat pesisir, tetapi juga menjaga kelestarian lingkungan sebagai prasyarat pemulihan perekonomian.

Oleh Program Officer RCL Oxfam Tua Hasiholan, Nuryasin pun ditantang untuk bisa mengembangkan pertanian sayurannya. “Saya memang saat itu mulai dari nol. Modal hanya Rp100.000, tidak mungkin beli pupuk dan sebagainya. Saya pakai kotoran ayam, sapi saya fermentasi dan dijadikan pupuk,” katanya.

Karenanya saat ditantang oleh Tua untuk mengembangkan kemampuannya, Nuryasin pun terpikirkan untuk mengembangkan kemampuannya membuat pupuk organik tersebut. Selain itu, Nuryasin juga ingin mengembangkan kemampuannya dalam bidang penetasan dan peternakan itik.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *