Nuryasin: Petani Biasa Jadi Luar Biasa | Villagerspost.com | Page 2

Nuryasin: Petani Biasa Jadi Luar Biasa

Mikro organisme lokal yang digunakan untuk membuat pupuk organi (dok. oxfam/Irwan Firdaus)

Mikro organisme lokal yang digunakan untuk membuat pupuk organi (dok. oxfam/Irwan Firdaus)

 

Mengembangkan Usaha Pupuk dan Bibit Ikan

Dengan kemampuan yang dimiliki Nuryasin, Oxfam kemudian memberikan bantuan berupa alat penetasan itik berkapasitas 300 butir. Nuryasin mendapatkan empat unit alat penetasan sehingga kapasitas total penetasan itik yang dimiliknya menjadi 1200 butir. Hanya saja, dia tidak menggunakan seluruhnya.

Mula-mula Nuryasin justru hanya menetaskan 10 butir telur itik. “Dari sepuluh itu yang jadi cuma tujuh,” katanya. Nah, ketujuh itik hasil tetasan pertama inilah yang dia kembangkan menjadi bakalan induk itik untuk menghasilkan telur-telur lain untuk ditetaskan.

Hasilnya luar biasa, berkat ketekunannya, Nuryasin dalam tempo enam bulan saja sudah mampu memelihara sampai 300 ekor itik. Tidak semua itik itu dia pelihara untuk dijadikan itik petelur, selebihnya dia jual dalam bentuk bibit alias day old duckling (DoD).

Beres dengan ternak itik, Nuryasin tidak begitu saja merasa puas. Dia pun kemudian mengembangkan kemampuannya dalam memproduksi pupuk organik yang sebagian dipakai untuk keperluan sendiri dan sebagian lainnya untuk dijual. “Saya sama Oxfam dikasih alat untuk pembuatan pupuk,” katanya. Alat itu adalah alat pencacah kompos untuk dijadikan bahan dasar pupuk organik.

Lewat usaha ini, Nuryasin bisa menjual antara 50-100 karung pupuk dalam sebulan, tergantung permintaan. Hasil dari usaha ini membuat Nuryasin yang tadinya tidak memiliki lahan pertanian, kini sudah bisa memiliki lahan sendiri seluas 3700 meter persegi. Dia juga punya lahan untuk rumah yang lumayan luas yaitu 12×30 meter persegi. “Aset saya diperhitungkan saat ini mencapai nilai Rp130 juta,” katanya.

Toh, semua itu tak membuat Nuryasin cepat berpuas diri. Dia terus berupaya mengembangkan usahanya agar bertambah maju. Selain berjualan pupuk, Nuryasin juga mengembangkan usaha menjual bibit ikan lele dan ikan nila.

Untuk memulai usaha itu, Nuryasin meninggalkan usaha peternakan itik miliknya. Nuryasin beralasan, usaha ternak itik di wilayah pesisir, tantangannya terlalu berat bagi petani yang baru berada dalam taraf mengembangkan usaha seperti dirinya.  Masalah utamanya adalah pada ketersediaan pakan berupa dedak yang tak selalu ada di setiap musim. Ketika dedak tak ada, Nuryasin harus mengakali dengan membuat pakan dari kulit padi dan batang pisang.

Namun pakan ini relatif tak bisa menggantikan nutrisi seperti laiknya dedak. “Kasihan itiknya, produktivitasnya bisa turun sampai 70 persen,” kata Nuryasin. Ketika ditetaskan pun kualitas telurnya kurang baik. Nuryasin pernah menetaskan 200 butir namun yang berhasil hanya 20 saja.

Akhirnya daripada merugi, terpaksalah Nuryasin mencari penghasilan alternatif yang lebih menguntungkan. Pilihannya jatuh pada usaha pembiakan bibit lele dan ikan nila. Karena itu dia pun menjual semua itiknya sehingga bisa mendapatkan modal awal sebesar Rp9 juta. Namun dia tetap mengusahakan penjualan bibit itik jika ada pesanan

Modal sebesar itu dia pakai untuk membuat kolam penetasan dan indukan ikan lele seharga Rp300 ribu per induk. “Untuk induk saya beli empat ekor jadi keluar biaya Rp1,2 juta,” katanya. Dari indukan lele itu, Nuryasin bisa mendapatkan 100.000 ekor bibit lele. Per ekor dia jual dengan harga bervariasi.

Untuk bibit dengan panjang badan 5 centimeter, dia menjual seharga Rp250 per ekor. Sedangkan untuk bibit lele berukuran 1 cm, dia menjual seharga Rp100 per ekor. Dari hasil usaha ini, Nuryasin bisa memperoleh omset sampai Rp12 juta saban bulannya.

One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *