Nuryasin: Petani Biasa Jadi Luar Biasa | Villagerspost.com | Page 3

Nuryasin: Petani Biasa Jadi Luar Biasa

Kebun sayur organik yang dikembangkan Sitti Rahmah, seorang petani maju hasil binaan program RCL (dok. oxfam/Irwan Firdaus)

Kebun sayur organik yang dikembangkan Sitti Rahmah, seorang petani maju hasil binaan program RCL (dok. oxfam/Irwan Firdaus)

 

Beradaptasi Dengan Iklim

Sebagai petani, Nuryasin sebelumnya sudah banyak belajar bahwa iklim dan musim sangat berpengaruh pada hasil pertaniannya. Karena itu dia menerapkan asa fleksibilitas dengan menjalankan usaha yang cocok dengan musimnya. “Saya sebelum ini memang pernah belajar sedikit lewat kursus di sebuah perguruan tinggi pertanian di Trenggalek,” kata Nuryasin.

Meski secara formal dia hanya lulusan sekolah menengah pertama, namun dia nekat ikut kursus pertanian di sekolah tinggi pertanian itu demi menambah pengetahuannya. Beruntung, neneknya adalah salah satu pengajar di situ, sehingga dia bisa ikut kursus singkat pertanian yang berharga itu.

Lulus kursus tahun 1998, dia kemudian pergi ke Padang mengikuti kakeknya yang mengembangkan usaha ternak itik dan sapi, juga ikan. “Di situ saya praktikkan semua ilmu yang saya dapat dari Jawa” katanya.

Dia kemudian merantau ke Sulawesi Selatan tepatnya di Kabupaten Barru, tahun 2012 untuk memulai usaha mandiri sebagai petani. Kembali ke soal musim, persoalan utama yang dihadapi Nuryasin sebagai petani adalah air.

Untuk itu, dia membuat sendiri sebuah sumur bor untuk mengatasi masalah ini. Meski tinggal di kawasan pesisir, Nuryasin tidak kesulitan untuk mendapatkan air tawar yang bersih tanpa ada intrusi air laut.

Menurut Sonikusnito, pembimbing lapangan program RCL yang juga ikut mendampingi warga di desa Pao-Pao, termasuk Nuryasin, intrusi air laut dapat dicegah karena masyakat secara turun temurun menanam tanaman bambu nyaris di sepanjang pinggiran pantai yaitu sejarak 100-200 meter dari pinggir pantai setelah deretan tanaman mangrove.

“Akar bambu ini menahan air laut dan menyerap garam sehingga yang tersisa adalah air tawar,” kata Soni. Karena itu masyarakat juga banyak yang menanam bambu di sekitar pemukiman. “Mereka juga akan membutuhkan bambu untuk membuat pagar di kebun untuk melindungi tanaman sayur,” tambahnya.

Terkait musim ini, selain persoalan air, persoalan adaptasi juga menjadi penting mengingat ternak jenis tertentu seperti lele misalnya, yang tak tahan panas. Dari pengalamannya, Nuryasin belajar, ikan lele kulitnya hanya ditutupi lendir sehingga jika suhu udara terlalu panas, kulitnya akan mengelupas dan mudah mati.

Karena itu di musim kemarau seperti ini, Nuryasin meninggalkan bisnis lelenya dan beralih ke bisnis pembibitan ikan nila yang lebih tahan panas karena kulitnya bersisik. Untuk ikan nila, Nuryasin tak hanya menjual bibit dengan harga Rp100 per ekor, tetapi juga menjual ikan yang sudah besar dengan harga Rp15.000 per kilogram.

Dia akan kembali mengembangkan bisnis pembibitan lele pada saat musim berganti menjadi musim penghujan dan suhu lebih dingin. Kemampuan Nuryasin dalam beradaptas inilah yang membuat Nuryasin mampu terus mengembangkan usaha pertaniannya meski menghadapi tantangan iklim yang keras.

One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *