Nuryasin: Petani Biasa Jadi Luar Biasa | Villagerspost.com | Page 4

Nuryasin: Petani Biasa Jadi Luar Biasa

Alat menggiling kompos (dok. Villagerspost.com/M. Agung Riyadi)

Alat menggiling kompos (dok. Villagerspost.com/M. Agung Riyadi)

 

Tularkan Ilmu ke Sesama Petani

Dengan semua sukses yang diraihnya itu, Nuryasin tetaplah seorang Nuryasin yang rendah hati. Kepada Villagerspost.com, dia mengaku masih memiliki satu cita-cita lagi. “Cita-cita saya tidak terlalu tinggi. Saya ingin aset yang saya punya ini menjadi percontohan untuk masyarakat setempat,” katanya.

Dia juga ingin masyarakat hidup sehat dengan mengembangkan dan mengkonsumsi hasil pertanian organik yang dikembangkannya. Dia mengakui itu memang tidak mudah. Karena itu, kata Nuryasin, dalam berbagai kesempatan dia selalu berupaya bertukar pikiran dan berdiskusi dengan sesama petani terkait berbagai masalah pertanian termasuk mengembangkan pertanian organik.

Pelan-pelan usahanya itu mulai menunjukkan hasil. Kini dia punya satu kelompok terdiri dari 10 orang petani yang mulai mengembangkan pertanian organik. Pilihan Nuryasin mengembangkan pertanian organik mulanya memang sederhana. Pertanian ini lebih murah diusahakan karena dia tak punya modal membeli pupuk dan obat kimia.

Namun belakangan kesadaran dan pengetahuannya bertambah bahwa pertanian organik selain menguntungkan secara ekonomi juga lebih sehat dan ramah lingkungan. Ekonomis, lantaran dari pupuk organik yang dibuat sebagai pupuk cair, bisa juga digunakan untuk mengusir hama. “Jadi pupuk organik, khususnya yang cair itu multiguna,” kata Nuryasin.

Karena itu pembuatan pupuk organik khususnya pupuk cair ini juga bisa dikembangkan sebagai sayap usaha lainnya. Dia sehari-hari mengumpulkan urin sapi dari peternak di sekitar desanya. “Ada yang saya dapatkan gratis, ada juga yang beli Rp1500 per liter,” katanya.

Urin sapi itu kemudian dia fermentasi dan dijadikan pupuk organik cair dan dijual seharga Rp35.000 per liter. Dalam sebulan Nuryasin bisa memproduksi antara 200 liter hingga 800 liter pupuk organik cair. Sisanya dia juga tetap mengembangkan usaha pupuk kompos.

Produktivitas lahan pertanian organik, kata Nuryasin, tidak kalah dengan pupuk kima. Untuk padi misalnya, dari satu hektare lahan, bisa menghasilkan 7,9 ton gabah. Jika dibandingkan dengan hasil dari lahan non organik yang maksimal bisa mencapai 8-9 ton seolah kelihatan kecil. Namun karena jarang diserang hama, produksi lahan padi organik cenderung konstan sementara lahan non organik naik-turun. “Bahkan pernah ada lahan non organik ketika diserang hama hasilnya turun hanya 6 ton per hektare,” katanya.

Karena itu, Nuryasin yakin pertanian organik yang dia kembangkan bersama kelompoknya adalah pilihan yang tepat. Selain produktif, hasil pertaniannya juga dia nilai lebih enak rasanya dan sehat. Buktinya, kata dia, pada sebagian petani yang mengembangkan pertanian organik di separuh lahan, maka hasil dari lahan organik akan disimpan sendiri untuk kebutuhan pangannya. Sementara hasil dari lahan non organik seluruhnya dijual.

One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *