Nuryasin: Petani Biasa Jadi Luar Biasa | Villagerspost.com | Page 5

Nuryasin: Petani Biasa Jadi Luar Biasa

Kelompok tani penerima manfaat program RCL membersihkan gulma dari sawah. Gulma akan diolah menjadi pupuk organik. (dok. Villagerspost.com/M. Agung Riyadi)

Kelompok tani penerima manfaat program RCL membersihkan gulma dari sawah. Gulma akan diolah menjadi pupuk organik. (dok. Villagerspost.com/M. Agung Riyadi)

 

Perlu Dorongan Pemerintah

Hanya saja, kata dia, petani memang mengharapkan bantuan pemerintah agar harga dari hasil pertanian organik ini bisa lebih menguntungkan daripada non organik. “Untuk saat ini harga di pasar memang masih sama antara yang organik dan non organik,” katanya.

Namun, kata dia, saat ini pembeli juga mulai ada kesadaran untuk membeli hasil pertanian organik. “Untuk tukang gorengan misalnya, lebih suka beli cabai rawit yang organik karena lebih awet, 10 hari nggak layu, sementara yang non organik cuma tahan dua hari,” kata Nuryasin.

Nuryasin yakin dengan bantuan pemerintah agar harga hasil pertanian organik lebih baik, maka akan semakin banyak petani yang mau mengembangkan pertanian organik yang lebih ramah lingkungan. “Untuk saat ini masih susah meyakinkan petani beralih ke pertanian organik. Mereka harus dicontohkan, harus lihat contohnya dulu, berhasil nggak,” kata Nuryasin.

Dia mengaku besyukur meski harga belum ada perubahan, namun melihat hasil pertanian organik yang lebih baik, sudah ada beberapa petani di lingkungannya yag berminat mengembangkan pertanian organik. “Kemarin sudah ada yang pesan untuk dibuatkan sawah padi yang organik untuk musim tanam tahun depan,” ujar Nuryasin.

Musim depan akan dimulai pada Desember hingga Januari 2016. Nuryasin pun sudah mendapatkan pesanan pupuk organik dari para petani itu. “Ada empat orang, lahannya semua luasnya empat hektare,” katanya.

Meski belum semua petani di desanya mengembangkan pertanian organik, Nuryasin tetap optimis pertanian organik akan jadi pilihan ke depannya. Dia memberi contoh di Kabupaten Palopo, ada perkebunan cengkeh yang dikembangkan secara organik. Mereka kerap memesan pupuk organik ke Nuryasin.

“Mereka pesan pupuk padat, volumenya antara 100-120 karung sekali pesan,” kata Nuryasin. Dia menjual pupuk-pupuk itu dengan harga Rp120.000 per karung. Nuryasin berharap suatu saat usaha ini akan berjalan dengan baik seiring semakin maraknya pertanian organik di wilayahnya. (*)

One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *