Pitusunggu: Desa Sejahtera Lewat Tangan Perempuan | Villagerspost.com

Pitusunggu: Desa Sejahtera Lewat Tangan Perempuan

Rumah Sitti Rahmah yang juga menjadi pusat kegiatan kelompok Pita Aksi (dok. villagerspost.com)

Rumah Sitti Rahmah yang juga menjadi pusat kegiatan kelompok Pita Aksi (dok. villagerspost.com/M. Agung Riyadi)

Pangkep, Villagerspost.com – Pagi itu, Sabtu (7/3) cuaca cukup cerah menaungi desa Pitusunggu, Kecamatan Ma’rang, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Seiring matahari menyembul dari balik horison, sekelompok perempuan paruh baya tampak mulai bergegas untuk melakukan kegiatan rutin mereka. Para perempuan yang tergabung dalam kelompok tani Pita Aksi itu, tanpak berkumpul di sebuah rumah kayu berlantai dua yang terletak di sisi jalan kecil yang menjadi akses jalan utama ke desa tersebut.

Rumah panggung yang didominasi kelir warna hijau itu, memang menjadi semacam markas atau tempat berkumpul para anggota Pita Aksi. Rumah itu sejatinya adalah milik Sitti Rahmah, seorang perempuan yang cenderung pemalu, namun energik yang menjadi pimpinan kelompok beranggotakan 25 orang perempuan itu. Pagi itu, para anggota Pita Aksi memang punya agenda untuk membersihkan lahan sawah mereka dari gulma atau tanaman pengganggu yang bisa menghambat pertumbuhan tanaman padi yang baru dua bulan lalu mereka tanam.

Beriringan, para perempuan itu kemudian segera bergerak dipimpin Ibu Rahmah–panggilan akrab Sitti Rahmah– berjalan meniti pematang demi pematang yang masih becek tersiram air hujan yang pada pekan-pekan itu, memang rutin menyapa desa mereka. Bagi para perempuan tani itu, hujan adalah berkah yang dikucurkan Tuhan untuk mengairi lahan sawah seluas 8 hektare milik mereka yang memang merupakan lahan tadah hujan.

Tak lama mereka pun tibalah di sebuah petak lahan yang serupa sebuah lapangan kecil berumput. Rahmah pun segera mengatur barisan para anggotanya untuk memulai pekerjaan mereka hari itu. Rahmah memimpin sebagian kelompok untuk membersihkan sepetak lahan di sisi Selatan desa yang memang sudah tampak dipenuhi rumput dan teratai, tanaman air yang kerap tumbuh di sela-sela tanaman padi yang tergenang air semata kaki.

Serentak, para perempuan itu, dibantu beberapa orang kaum lelaki berbanjar mengikuti alur tanaman padi dan mulai turun ke sawah mencabuti gulma-gulma pengganggu itu. Tak sampai setengah jam, tangan-tangan mereka tampak sudah dipenuhi tanaman pengganggu yang telah mereka cabuti. Mereka menumpuk tanaman-tanaman itu di pematang dan setelah selesai mengerjakan satu petak, mereka mulai bergerak ke petak lainnya yang terletak tak jauh dari petak pertama.

Matahari belum terlalu tinggi ketika para perempuan itu menyudahi kerja mereka. Tak lama, mereka kembali berbaris dan bergerak menuju sebuah lahan yang merupakan lahan tambak ikan air tawar milik Rahmah. Setibanya di sana, para perempuan itu segera beraktivitas kembali. Mereka mengambil beberapa joran pancing yang memang sengaja dibawa oleh Muh Arif (49), suami Rahmah.

Pagi itu mereka memang sengaja akan mengambil beberapa ekor ikan yang kebanyakan adalah ikan nila untuk sekadar menunjukkan hasil kerja keras mereka kepada beberapa wartawan yang sengaja berkunjung ke Pitusunggu. Selesai menangkap ikan, mereka pun kembali ke pematang sawah tempat mereka meletakkan gulma yang sudah dicabuti dari sawah. Gulma-gulma itu akan mereka olah lagi menjadi pupuk kompos atau pakan ikan organik.

Booming Udang Mengundang Bencana

Melihat kondisi Desa Pitusunggu saat ini, tentu tak ada yang menyangka jika sekitar 20 tahun lalu, desa tersebut pernah menjadi desa yang gersang dan miskin. Seturut cerita Arif, dahulu desa Pitusunggu adalah sebuah desa seperti umumnya desa-desa di tanah air. Sebagian warganya menggantungkan hidup dari hasil bertani di lahan tadah hujan dan sebagian lagi menjadi petambak.

Arif sendiri mengaku, sejak menikah dengan Rahmah di tahun 1990, ikut membantu mertuanya mengolah sawah seluas 0,7 hektare. “Penghasilan dari bertani ini sebenarnya cukup lumayan,” kata Arif kepada Villagerspost.com.

Ketika itu, setiap kali panen, sebagian hasil panen sekitar 120 ikat padi dijual untuk bekal membeli berbagai keperluan hidup. Dengan harga satu ikan sekitar Rp5000, ketika itu keluarga mereka bisa mendapatkan uang sebesar Rp600.000 setiap kali panen. Nilai yang cukup besar untuk saat itu. “Saya waktu itu ada sekitar dua tahun bekerja ikut mertua,” ujarnya.

Sayangnya mimpi sejahtera dari bertani mendadak sirna ketika “demam” udang windu melanda Desa Pitusunggu di tahun 1992. “Waktu itu harga udang memang sedang bagus,” kata Arif.

Sebagai perbandingan, harga satu kilogram udang windu saat itu mencapai Rp120 ribu rupiah. Dari satu tambak saja, cerita Arif, bisa menghasilkan puluhan kilogram udang sekali panen dalam masa 3-4 bulan. Mendadak udang windu pun menjadi primadona bagi para penduduk desa.

Mereka yang tadinya bekerja sebagai petani, ramai-ramai mengubah sawahnya menjadi tambak udang windu. Sayangnya seiring ‘mabuk’ udang menjalar, aspek lingkungan menjadi hal yang terabaikan. Para penduduk yang letak tambaknya agak jauh dari laut sekitar 1-2 kilometer, kemudian ramai-ramai pula membuat sumur bor untuk menyedot air asin dari laut untuk mencukupi kebutuhan air asin bagi tambak-tambak mereka.

Tanpa sadar, tindakan warga pelan-pelan mulai mendatangkan bencana. Sumur-sumur bor yang mereka bangun, ternyata menimbulkan masalah terjadinya intrusi air laut. Air asin yang tadinya dibutuhkan mengairi tambak, merembes ke dalam tanah melalui sumur-sumur yang dibuat.

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *