Rembuk Petani Nusantara: Petani Harus Menjadi Tulang Punggung Bangsa | Villagerspost.com

Rembuk Petani Nusantara: Petani Harus Menjadi Tulang Punggung Bangsa

Sesi pleno bidang ekonomi "Rembuk Petani Nusantara" di Ciawi, Bogor (dok. villagerspost.com/Said Abdullah)

Sesi pleno bidang ekonomi “Rembuk Petani Nusantara” di Ciawi, Bogor (dok. villagerspost.com/Said Abdullah)

Bogor, Villagerspost.com – Pertanian Indonesia dihadapkan pada situasi yang sulit. Ancaman iklim, degradasi dan konversi lahan merupakan sedikit persoalan yang ada. Hal ini mengemuka di acara “Rembuk Petani Nusantara” yang dihelat hari ini, Selasa (19/1) di Gedung Diklat Pusat Pelatihan Manajemen Dan Kepemimpinan Pertanian (PPMKP) di Ciawi, Bogor, Jawa Barat.

Sejumlah 200-an orang petani dari seluruh wilayah di Indonesia datang untuk bersama-sama merumuskan rencana aksi petani untuk mewujudkan kedaulatan petani sebagai tulang punggung kedaulatan pangan seperti yang dicita-citakan. Para petani yang hadir merupakan perwakilan petani dari 112 kabupaten di pulau Jawa, Sumatera Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara dan Maluku.

Beberapa masalah yang terungkap selain isu perubahan iklim dan lahan, adalah usia petani saat ini yang semakin menua. Tak kurang dari 62 persen petani yang ada saat ini berusia diatas 55 tahun. Sementara petani muda hanya 12 persen.

Kemiskinan juga menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan petani. Data statistik Maret 2016 menunjukkan bahwa penduduk miskin mencapai 28,59 juta orang (11,22 persen), dimana penduduk miskin di perkotaan sebesar 8,29 persen. Sedangkan di pedesaan sebesar 14,21 persen. Penduduk miskin di pedesaan didominasi oleh petani.

Ali seorang petani dari Jember, Jawa Timur mengungkapkan, kemiskinan yang mendera petani juga pada akhirnya menempatkan sektor pertanian menjadi sektor yang tidak menguntungkan, tidak menjanjikan. “Di pedesaan, generasi muda sudah enggan bertani karena lebih memiliki bekerja di kota atau industri yang menjanjikan. Lama ke lamanaan sektor pertanian tak ada tenaga kerjanya,” urai Ali.

Berbagai masalah yang dihadapi petani ini menjadi sangat kontras dengan kenyataan bahwa kebutuhan pangan terus meningkat. Dengan jumlah penduduk yang mencapai 250 juta jiwa kebutuhan beras misalnya, dengan konsumsi rata-rata 113 kg/kapita/tahun, setiap tahunnya tak kurang dari 28 juta ton. Belum lagi bahan pangan lainnya.

Wardiono, petani asal Klaten, Jawa Tengah mengatakan, menghadapi masalah-masalah tersebut, maka tak bisa tidak yang dibutuhkan adalah kerja keras, cerdas dan dilakukan secara bersama-sama oleh seluruh elemen, terutama petani dan pemerintah. “Sayangnya petani masih dalam posisi yang lemah, perlu diperkuat. Petani dan pemerintah perlu saling mengisi dan memahmi kebutuhan masing-masing,” ujarnya.

Hasil pertemuan ini juga merupakan ekspresi atau seruan petani kepada para pihak terutama pengambil kebijakan terutama kementerian pertanian. Kegiatan ini bertajuk “Petani Nusantara Berseru” ini mengambil tema “pertanian yang memuliakan petani, jalan lurus mewujudkan kedaulatan pangan”. Digelarnya kegiatan ini dimaksukan sebagai upaya memperkuat petani sebagai tulang punggung bangsa dengan mendorong terjadinya berbagi pengetahuan dan teknologi.

“Selain itu kegiatan ini juga ditujukan untuk menghimpun para petani sehingga menjadi lebih terorganisir. Dengan demikian kerja kerja mewujudkan kedaulatan pangan menjadi lebih mudah dan terorganisir,” kata Ketua Panitia Rembuk Petani Nusantara David Ardhian.

Kegiatan ini dijadwalkan berlangsung hingga 21 Januari mendatang. Diantara narasumber yang dipastikan hadir adalah tokoh gerakan agraria Gunawan Wiradi, akademisi Institut Pertanian Bogor Dr. Suryo Wiyono, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian Kementerian Pertanian Dr. Pending Dadih Permana, Perwakilan Komisi IV DPR RI dan Anggota Dewan Pertimbangan Presiden. Dalam acara ini juga akan diputar sebuah video kesaksian dari Budayawan sekaligus Kiai NU KH Mustofa Bisri atau akrab disapa Gus Mus terkait posisi petani dalam wawasan nusantara.

Inisiator Rembuk Petani Nusantara Hermanu Triwidodo mengatakan, diharapkan kedepan melalui kegiatan ini para petani menjadi lebih mandiri dan solid karena secara nature┬ápetani memiliki budaya gotong royong, berbagi dan saling peduli. “Semangat inilah yang menjadi kekuatan bagi petani sekaligus negara ini,” ujarnya.

Hermanu yang juga merupakan pengajar di Institut Pertanian Bogor ini menegaskan, dalam sejarah, semangat dan nilai-nilai inilah yang turut membangun dan menjaga keutuhan Indonesia. Dengan demikian petani sesungguhnya menjadi salah satu elemen penting, soko guru bangsa yang mulai karena turut menjaga nusantara.

“Saat ini ketika alam dan kebijakan pertanian tak lagi sesuai dan mendukung kehidupan petani, barangkali karena kita melupakan kemuliaan petani,” pungkasnya. (*)

One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *