Sejahtera Bermodal Rumput Laut, Kepiting dan Jaring | Villagerspost.com

Sejahtera Bermodal Rumput Laut, Kepiting dan Jaring

Tempat pertemuan kelompok Kalaroang (dok. villagerspost.com)

Tempat pertemuan kelompok perempuan nelayan Kalaroang (dok. villagerspost.com/M. Agung Riyadi)

Pangkep, Villagerspost.com – “Kelompok Usaha Rumput Laut Kalaroang”, demikian tulisan yang terpampang di sebuah rumah panggung berkelir dominan hijau muda. Saat Villagerspost.com berkunjung ke sana, Minggu (8/3) kemarin, di rumah yang juga kediaman sang pimpinan kelompok, Syarifah, tengah dihelat pertemuan antara anggota kelompok tani yang anggotanya kebanyakan adalah perempuan paruh baya yang sebagiannya sudah menjanda.

Mereka berkumpul untuk membicarakan berbagai program kelompok sekaligus bekerja mengikat bibit-bibit rumput laut yang siap untuk ditebar di laut dekat dermaga di Dusun Kekean, Desa Tamarupa, Kecamatan Mandalle, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Kondisi pantai yang berupa tanah berlumpur sedikit menyulitkan Syarifah dan kelompoknya serta umumnya petani rumput laut di Desa Tamarupa untuk membiakkan rumput laut.

“Kami harus membiakkannya sekitar 50 meter-100 meter dari pantai ke arah sana yang airnya biru,” kata Syarifah kepada Villagerspost.com, sambil menunjuk ke arah barat dari tempat kami berdiri.

Situasi pantai di dekat dermaga Desa Tamarupa memang kurang begitu menggembirakan. Selain berlumpur saat air surut, barisan mangrove yang seharusnya menjadi tempat perlindungan pantai dari abrasi sekaligus tempat berpijahnya ikan, udang, kepiting dan hewan laut lainnya yang bisa menjadi mata pencaharian penduduk, juga tampak sangat tipis.

Sisa kerusakan pesisir akibat demam udang windu yang melanda sejak 20 tahun lalu masih terasa akibatnya. Kerusakan lingkungan ini jelas berdampak pada masyarakat desa yang umumnya memang mengandalkan penghidupan dari hasil laut seperti mencari ikan, kepiting, betani rumput laut selain hasil tambak dan sawah.

Beruntung di tahun 2013, Oxfam hadir di desa tersebut melalui program Restoring Coastal Livelihood (RCL). Menurut Project Officer RCL Fatmasari Hutagalung, terbentuknya kelompok Kalaroang adalah hasil dari sosialisasi proyek RCL untuk restorasi penghidupan pesisir .

Kegiatan sosialisasi dilakukan bersamaan kepada pemerintah desa setempat dan perwakilan anggota masyarakat yang rentan (vulnerable).
“Pada saat tersebut kita melihat lahan tambak dan sawah hanya dimiliki oleh orang-orang kaya sementara masyarakat miskinnya¬† menggantungkan hidup dari di bidang rumput laut, tangkap kepiting dan pembuatan jaring dalam skala yang sangat kecil dan sering juga tersendat-sendat,” kata Fatma kepada Villagerspost.com.

Meski begitu dari hasil need assesment yang dilakukan RCL diketahui bahwa masyarakat yang rentan tadi bisa diberdayakan lewat pengembangan kapasitas pada mata pencaharian yang selama ini mereka geluti yaitu bertani rumput laut, kepiting dan memproduksi jaring. Hanya saja, kata Fatma, masyarakat selama ini memang terkendala masalah modal terutama alat dan bahan kerja yang sangat minim.

“Terutama di kegiatan rumput laut yang mana mereka selalu putus bibit untuk memulai lagi penanaman pada musim tanam berikutnya, ini dikarenakan mereka biasanya akan menghabiskan semua penghasilan dari panen sebelumnya itu sehingga tidak ada lagi uang untuk pembelian bibit berikutnya,” kata Fatma.

Kendala yang sama juga terjadi pada usaha produksi jaring kepiting dan udang. Penggalian kebutuhan kemudian ditindaklanjuti dengan terbentuknya kelompok budidaya rumput laut sebagai hasil dari kesadaran mereka bahwa jika ingin berhasil dan berkelanjutan kegiatan dan hasilnya maka kerjasama sangat diperlukan. “Merekapun menghimpun diri dengan nama kelompok Kalaroang,” ujar Fatma.

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *