Selamatkan Kakatua Jambul Kuning, DPR dan Menteri LHK Didesak Revisi UU Konservasi | Villagerspost.com

Selamatkan Kakatua Jambul Kuning, DPR dan Menteri LHK Didesak Revisi UU Konservasi

Burung kakatua jambul kuning (Cacatua sulphurea) satwa langka yang terancam punah (dok. kutilang.or.id)

Burung kakatua jambul kuning (Cacatua sulphurea) satwa langka yang terancam punah (dok. kutilang.or.id)

Jakarta, Villagerspost.com – Kasus penyelundupan burung kakatua jambul kuning (Cacatua sulphurea) yang terungkap belum lama ini, telah menimbulkan keprihatinan berbagai kalangan. Bayangkan saja, burung kakatua yang oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN) dikategorikan sebagai satwa yang sangat terancam punah itu (critically endangered) malah coba diperdagangkan dengan cara biadab.

Puluhan kakatua jambul kuning itu dibius dan dijejalkan hidup-hidup dalam botol. Publik pun prihatin dan sebuah petisi pun dilayangkan melalui situs www.change.org/KakatuaBotol yang diluncurkan sejak Jumat (8/5) lalu. Sejak diluncurkan, petisi itu sudah didukung lebih dari 11.500 tandatangan.

Petisi yang dibuat oleh Kelompok Kerja Kebijakan Konservasi itu ditujukan kepada Ketua Komisi IV DPR, Ketua Komisi VII DPR dan Badan Legislasi DPR RI serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Lewat petisi itu masyarakat sipil mendesak perlunya segera melindungi kakaktua jambul kuning dengan merevisi Undang-Undang No.5 tahun 1990. UU Konservasi tersebut dianggap lemah terhadap penegakan hukum mengenai satwa langka.

Berikut kutipan petisinya: “Penyelundupan [kakaktua] ini bukanlah yang pertama! Kasus penyeludupan dengan modus botol mineral sering kali  terjadi. …bahkan dengan cara yang lebih kejam, mereka dimasukkan dalam pipa, bahkan ada yang disembunyikan di kaos kaki dan celana dalam.  

Mirisnya, tidak ada efek jera bagi pelaku yang tertangkap tangan. Seringkali hakim hanya memvonis pelaku beberapa bulan penjara saja. Ini terjadi karena berdasarkan peraturan, pelaku hanya menghadapi sanksi penjara MAKSIMAL 5 tahun  dan denda 100 juta rupiah. Artinya, sanksi yang diterima pelaku bisa saja jauh dibawah itu…

Mengapa hal ini terjadi? Sebagian besar karena akar kebijakannya yang lemah. Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya yang mengatur kebijakan tentang konservasi spesies langka, ketentuan didalamnya banyak yang sudah tidak relevan. Bayangkan UU itu sudah 25 tahun dibuat dan belum pernah direvisi!”

Petisi ini pun bersambut. “Saya menandatangai petisi ini dikarenakan sanski hukum yg ada memang kurang tegas dan tidak menjaring hingga akar para oknum tersebut,” kata Nadhira Baagil, salah seorang penandatangan petisi, seperti dikutip dalam surat elektronik yang diterima Villagerspost.com, Minggu (10/5).

Dari kalangan DPR dukungan juga mengalir dari Ketua Komisi IV DPR-RI Edhy Prabowo. “Ribuan orang memberikan petisi kepada saya dan pemerintah agar bersikap. Adapun sikap saya terkait kasus #Kakatuabotol adalah: Saya mengecam keras dan menyesalkan atas tindakan penyelundupan dan penyiksaan #kakatuabotol,” kata Edhy Prabowo lewat akun twitternya @Edhy_prabowo.

Tragedi #kakatuabotol adalah tindakan sangat kejam. Satwa langka seperti kakatua jambul kuning tak boleh diperlakukan demikian, terlebih satwa langka. “Saya mendukung perubahan UU yang tujuannya melindungi satwa. Karena menjaga kekayaan Indonesia termasuk satwa… namun, saya meminta waktu untuk membahas hal ini dengan teman-teman di Komisi IV, Fraksi Gerindra dan para pakar. Setidaknya pasca-reses,” pungkas Edhy. (*)

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *