Suhartati: Mantan Buruh Migran Pembela Buruh Migran | Villagerspost.com

Suhartati: Mantan Buruh Migran Pembela Buruh Migran

Suhartati, koordinator Solidaritas Perempuan di Kabupaten Sigi, Palu, Sulawesi Tengah (Dok. Villagerspost.com/M. Agung Riyadi)

Suhartati, koordinator Solidaritas Perempuan di Kabupaten Sigi, Palu, Sulawesi Tengah (Dok. Villagerspost.com/M. Agung Riyadi)

Jakarta, Villagerspost.com – “Ibu mohon keluar dulu bersembunyi, turun ke jurang, tutupi badan dengan daun-daunan,” mendadak suara sang supir bus memecah lamunan Suhartati dan seorang sahabatnya sesama tenaga kerja Indonesia (TKI) yang selama berjam-jam, sudah bersembunyi di balik tumpukan tas di dalam bus. Tatik–demikian dia biasa disapa– memang sedang dalam sebuah pelarian. Bersama sang sahabat, Tatik ingin melarikan diri dari jeratan ‘perbudakan’ yang menderanya selama lebih dari dua bulan.

Air mata Tatik beberapa kali menetes menceritakan pengalaman gelap yang dia alami di tahun 2003 silam itu. “Saya sebenarnya pergi meninggalkan kampung halaman saya di Lengaleso, Kabupaten Sigi, Palu, Sulawesi Tengah tahun 2000 untuk mencari kerja ke Arab Saudi demi membantu menyekolahkan adik-adik saya,” kata Tatik kepada Villagerspost.com yang menemuinya pada sebuah acara yang dihelat Oxfam, di Jakarta, Rabu (22/4) lalu.

Melanjutkan ceritanya, Tatik mengatakan, dia kemudian dengan perasaan terpaksa, segera keluar dari bus dan pelan-pelan meniti jalan menuruni jurang sedalam beberapa meter. Perlahan, Tatik dan sahabatnya bersembunyi dibalik tumpukan semak dan dedaunan. Dari kejauhan terdengar suara mobil patroli Polisi Diraja Malaysia mendekat ke arah bus yang membawa mereka.

Sekitar 20-30 menit, Tatik menunggu petugas kepolisian yang memang kerap berpatroli mencari para TKI yang menyusup baik masuk ataupun keluar Malaysia dari wilayah itu. Tatik sendiri mengaku tak tahu nama wilayah tersebut. “Saya sudah nggak ngerti lagi, karena kita memang kabur lewat perkebunan sawit,” ujarnya.

Setelah petugas pergi, Tatik bersama kawannya pun kembali mendaki dan masuk ke dalam bus, tidur meringkuk di bawah tumpukan tas. Namun, penderitaan masih jauh dari berakhir. Tak seberapa jauh berjalan, bus kembali harus melewati pemeriksaan dari polisi Malaysia. Tatik dan kawannya kembali harus pergi turun ke jurang dan bersembunyi dibalik tumpukan daun-daunan.

Tatik mengingat setidaknya lima kali dia harus melakukan hal serupa demi menghindari tertangkap oleh polisi Malaysia dan dikembalikan ke agen-agen mereka untuk kemudian dipekerjakan kembali pada majikan-majikan tertentu tanpa menerima upah dan waktu istirahat yang kurang. Belum lagi siksaan fisik yang kerap diterima jika kebetulan mereka ditempatkan pada majikan yang “ringan tangan”.

Keberuntungan memang masih menghampiri Tatik. Dia selalu bisa lolos dari pemeriksaan ketat polisi Malaysia. Hanya saja, sopir bus yang membawa mereka akhirnya mesti menyerah, tak tahan harus kucing-kucingan dan bermain “drama” saban kali busnya dinaiki petugas kepolisian Malaysia untuk diperiksa. Jika ketahuan menyelundupkan tenaga kerja, dia juga bakal ketiban pulung dan pasti akan mendapatkan hukuman.

Akhirnya dengan terpaksa, kata Tatik, sang supir meminta dia dan kawannya untuk turun dan berjalan menyusuri perkebunan sawit dengan berjalan kaki mengikuti rute tertentu. Sang supir berpesan, jika Tatik berhasil mencapai jalan raya, dia harus menunggu sampai ada sebuah mobil berwarna merah yang akan membunyikan klakson sebanyak tiga kali. “Itu mobil yang akan menjemput ibu,” kata sang supir.

Rupanya, sang supir memang sudah mengontak seorang kawannya untuk bisa menunggu rombongan kecil Tatik di sebuah jalan tertentu. Maka Tatik pun kemudian pergi berjalan kaki menyusuri perkebunan sawit yang ternyata sudah dekat dengan perbatasan Entikong, di Kalimantan Barat, Indonesia, wilayah yang sedang ditujunya untuk kembali meraih kebebasan.

Beberapa lama berjalan, sampailah Tatik di titik yang dijanjikan. Demi keamanan diri, dia bersama kawannya tetap bersembunyi di sebuah parit sambil menunggu mobil dengan ciri-ciri yang ditentukan muncul. Tak lama, memang muncul sebuah mobil minibus berwarna merah sesuai ciri yang diceritakan. Tatik sumringah, namun dia tak buru-buru keluar dari pesembunyiannya. “Saya tunggu dulu mobil itu berbunyi tiga kali,” katanya.

Beruntung, mobil itu memang benar-benar mobil yang ditunggu Tatik. Tak lama mobil merah itu berhenti–tak jauh dari tempat Tatik bersembunyi– dia membunyikan klakson tiga kali. Berhati-hati, Tatik dan kawannya keluar dari persembunyian dan berlari menuju ke mobil itu. “Kebebasan sudah di depan mata!” pikir Tatik.

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *