Tradisi Panen Madu Hutan Olin Fobia | Villagerspost.com

Tradisi Panen Madu Hutan Olin Fobia

Pemanen madu, memanjat pohon. Satu pohon inang madu dapat menampung kurang lebih 100 lebah. (Nanang Sujana/CIFOR )

Pemanen madu, memanjat pohon. Satu pohon inang madu dapat menampung kurang lebih 100 lebah. (Nanang Sujana/CIFOR )

Jakarta, Villagerspost.com – Bagi masyarakat Olin-fobia, yang tinggal di kawasan Cagar Alam Gunung Mutis, Timor Barat, Nusa Tenggara Timur, panen madu hutan adalah kegiatan sakral yang melibatkan kombinasi dari ritual adat dan agama. Karena itu, setiap tahun, masyarakat yang menjadi penjaga tradisional cagar alam tersebut, melakukan perjalanan kembali ke tanah leluhur mereka untuk ritual budaya panen madu hutan.

Masyakarat Olin-fobia sebagai penjaga tradisi menjalani dua hari perjalanan menuju hutan, tempat mereka mengumpulkan madu. Ketika bunga dari alba Eucalyptus mulai bermekaran, persiapan dimulai untuk berkemah selama dua-tiga minggu. Makanan dan tempat tinggal harus siap selama dalam perjalanan, dan setiap konflik pribadi diharapkan diselesaikan sebelum keberangkatan, memastikan harmoni sosial dan kerukunan antar anggota masyarakat.

Perkemahan didirikan di suatu tempat yang dianggap sebagai ‘gerbang’ ke area lokasi panen untuk melakukan upacara doa. Setelah doa dipanjatkan, ritual adat dimulai dengan melantunkan tutur merdu pujaan, bersamaan dengan prosesi penyembelihan seekor babi hutan untuk dimakan bersama seluruh anggota keluarga suku masyarakat.

YouTube play

Peneliti dari Center for International Forestry Research (CIFOR) Ani Adiwinata Nawir mengatakan, panen madu tahunan ini tidak hanya penting untuk keberlanjutan tradisi leluhur. Tradisi panen madu ini juga sekaligus membuktikan, kearifan lokal merupakan kontributor penting bagi keberlangsungan harmoni sosial, mata pencaharian dan pelestarian cagar alam seperti yang ingin dilaksanakan oleh hukum nasional.

“Hal ini merupakan sebuah kisah sukses untuk tata kelola bentang alam berbasis masyarakat dan bagaimana hal itu dapat berkontribusi untuk konservasi hutan selaras dengan kebijakan nasional,” kata Ani dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Kamis (13/10).

Ani Nawir bergabung dengan proyek penelitian Kanoppi, kerjasama riset antara CIFOR dan World Agroforestry Centre (ICRAF). Proyek Kanoppi bertujuan untuk mengembangkan produksi dan pemasaran hasil hutan kayu dan non-kayu yang dapat meningkatkan mata pencaharian petani kecil.

Sebagai hasil hutan non-kayu, madu Gunung Mutis memberikan penghasilan tambahan bagi masyarakat pemanen. Dan karena produksi madu bergantung pada lingkungan hutan yang sehat, ada insentif ekonomi ekstra untuk memastikan perlindungan ekosistem itu tergantung pada hutan.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *