Tua Hasiholan: Jalan Hidup Memberdayakan Masyarakat | Villagerspost.com

Tua Hasiholan: Jalan Hidup Memberdayakan Masyarakat

Tua Hasiholan, Program Manager Restoring Coastal Livelihood Oxfam (dok. oxfam/Irwan Firdaus)

Tua Hasiholan, Program Manager Restoring Coastal Livelihood Oxfam (dok. oxfam/Irwan Firdaus)

 

Makassar, Villagerspost.com – Mungkin sudah suratan takdir bagi Tua Hasiholan Hutabarat bahwa dalam hidupnya dia memang harus terlibat dengan program-program pemberdayaan masyarakat. Lelaki kelahiran Langkat, Sumatera Utara tanggal 6 Mei 1974 itu, sejak masih menjadi mahasiswa di jurusan sosiologi Universitas Sumatera Utara, sudah kerap terlibat dengan isu-isu tersebut. Tahun 1996-1999, dia sudah terlibat menjadi fasilitator pemberdayaan buruh perkebunan yang banyak mengalami tekanan pada masa itu.

Selulusnya dari USU, dia sempat menimba ilmu lingkungan di program pasca sarjana di Universitas Gadjah Mada (UGM). Setelahnya pada tahun 2006-2008, dia mengabdi menjadi pendamping dalam program rehabilitasi pasca tsunami di Aceh. Tahun 2006-2008, dia terlibat menjadi pendamping masyarakat dalam program penataan kawasan Gunung Rinjani di Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Selepas itulah dia bergabung dengan Oxfam dan menjadi Project Officer progam Restoring Coastal Livelihood (RCL) yang dilaksanakan di empat kabupaten yaitu Kabupaten Takalar, Maros, Barru dan Pangkep. Berikut penuturan Tua kepada Villagerspost.com, terkait pengalamannya mendampingi masyarakat petani dan nelayan kawasan pesisir dalam upaya meningkatkan perekonomian mereka lewat program RCL.

Apa yang membuat anda tertarik untuk bergabung di program RCL?

Pertama terkait latar belakang keilmuan yaitu lingkungan. Saya belajar soal perilaku masyarakat dalam mengelola lingkungan, tesis saya pun mengenai konflik pengelolaan lingkungan, dengan mengambil sampel konflik yang terjadi antara masyarakat dengan PT Indorayon di Sumatera Utara. Saya di sini menjadi project officer di Kabupaten Takalar dan Maros. Tugas saya sendiri memberikan pendampingan kepada mitra terkait masalah konservasi laut, pengembangan kapasitas, serta kegiatan lain.

Apa kesulitan yang dialami selama melakukan pendampingan untuk program ini?

Tentunya yang utama adalah ritme kerja yang tidak mudah diadopsi oleh masyarakat, misalnya mengenai bagaimana cara berbisnis yang benar. Mereka selama ini memang sudah berekonomi dan memiliki penghasilan dengan memproduksi sesuatu. Namun mereka belum tahu bagaimana pola berbisnis seperti menjaga kepuasan konsumen, memproduksi dengan rutin dan sebagainya. Selama ini mereka produksi namun sebisa-bisanya saja, tidak ada kontinuitas dan konsistensi pasokan hasil produksi.

Lantas bagaimana upaya memacu agar masyarakat bisa cepat memahami persoalan ini?

Kita mencari trigger, kunci. Ada beberapa cara yang berbeda-beda di setiap kelompok. Ada yang kita pancing dengan mencarikan pembeli untuk memacu agar mereka bisa berproduksi secara rutin. Misalnya di Desa Sombalia, Kecamatan Marusu di Maros, mereka meproduksi telur asin. Kita create permintaan dari warung-warung di Makassar, Maros dan juga rumah makan. Kita dorong mereka bertemu dengan buyer. Juga kita berikan trigger lain, di wilayah pesisir ini beternak itik susah, pakan susah, maka kita tambah dengan usaha alternatif seperti misalnya produksi bakso ikan, krupuk, atau ketika itik sulit bertelur kita dorong untuk berjualan itiknya. Ada juga yang kita pancing dengan kelembagaan, ditata kelembagaannya agar bisa disiplin, berorientasi bisnis. Intinya dilihat yang menjadi titik lemah di situ yang kita trigger.

Berapa lama untuk bisa mengubah pola pikir ini?

Prosesnya berbeda-beda ada yang enam bulan, satu tahun, itupun perubahannya sedikit-sedikit. Bahkan ada yang kita bisa dari basis sekali, misalnya mebaca dan menulis. Selama enam bulan kita ajarkan membaca, menulis dan juga cara untuk berargumentasi. Kemudian kita lakukan mapping persoalan dilakukan bersama-sama masyarakat, kalau dipaksakan nanti hanya akan dikuasai beberapa orang saja. Kita sentuh persoalan terbesar itu biar mereka tahu apa itu modal, penjualan, produksi. Mereka mulai bisa berusaha rutin setelah dua tahun, yang lain berjalan secara paralel, makanya program ini dirancang jangka panjang 5 tahun.

Apakah juga tidak melibatkan pengusaha lokal?

Kalau kita sentuh pengusaha lokal, mudah, tetapi nanti orang miskin hanya menjadi pekerja. Itu hal yang tidak kita inginkan. Kita ingin masyarakat miskin punya inisiatif berusaha. Kita libatkan pengusaha besar sebagai pembina, ketua kelompok. Kita dorong masyarakat miskin untuk terjun di bisnis alternatif yang bukan usaha dominan di situ. Misal usaha dominan di situ rumput laut, maka kita dorong kembangkan usaha lain. Inti dai RCL adalah membangun kemampuan berusaha. Meski pendapatan belum besar tetapi sudah jalan, nah ketika pencaharian utama dia punya alternatif lain.

Secara personal, apa target yang diharapkan akan dimiliki setiap anggota masyarakat?

Secara personal kita berupaya menumbuhkan kepercayaan diri, punya kemauan menjalankan usaha, ketika mereka pelan-pelan yakin tidak ada apa-apa dengan keluarga merekadengan kehidupan anak istri dan hidup keluarganya, suara mereka didengar. Ini dibangun dengan usaha pelan-pelan.

Khusus untuk kaum perempuan apa target yang akan dicapai?

Selama ini kaum perempuan, jarang atau bahkan tidak pernah didengar, tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan, mereka pasif. Nah dengan program ini, mereka dididik untuk memiliki kepercayaan diri untuk terlibat dalam pengambilan keputusan, agar suara mereka bisa didengar. Perempuan diberdayakan memiliki modal usaha sendiri. Selama ini kalau ditinggal suami, tidak ada nafkah dan mereka harus iktu kerja dengan orang lain sementara anak masih kecil-kecil. Kini dengan ditingkatkan kapasitas mereka, ketika mereka ditinggal suami mereka sudah bisa berpikir usaha apa yang bisa dijalankan untuk menafkahi keluarga. Paling tidak kebutuhan terpenuhi, anak-anak tidak putus sekolah.

Program sudah selesai, ada kekhawatiran tertentu nantinya mereka akan mengalami kemunduran lagi?

Oxfam tidak khawatir mereka tiba-tiba misalnya tak punya pekerjaan lantas merantu ke Kalimantan, anak-anak dibawa, tidak sekolah, dan sebagainya. Dengan mereka sudah memiliki keyakinan untuk bisa berusaha, mereka akan mengembangkan usaha itu dan kalau usaha itu terganggu mereka sudah mampu untuk berpikir mencari alternatif usaha lain.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *