Warga 99 Desa di Kaltim Belajar Pemasaran Unggulan Produk Desa | Villagerspost.com

Warga 99 Desa di Kaltim Belajar Pemasaran Unggulan Produk Desa

Warga desa dari 99 desa di Kaltim mendiskusikan produk unggulan desa dan rencana pemasaran produk dalam kelompok-kelompok kecil di forum Lingkar belajar Masyarakat Kaltim (dok. villagerspost.com/m. agung riyadi)

Tanjung Batu, Villagerspost.com – Memasuki hari ketiga program Lingkar Belajar Masyarakat Kalimantan Timur, para peserta yang merupakan perwakilan 99 desa dari kabupaten di Kaltim mendapatkan ilmu tentang teknik pemasaran produk unggulan desa. Pemateri yang dihadirkan dalam sesi pagi ini, Minggu (29/7) adalah Suhardi, seorang pengusaha olahan hasil laut, terutama produk terasi.

Dalam pemaparannya, Hardi–demikian dia biasa disapa– memperkenalkan para warga dengan apa itu pemasaran. “Pemasaran adalah kegiatan menelitik kebutuhan dan keinginan konsumen dalam menghasilkan barang dan jasa,” kata Hardi, dalam pemaparannya, di aula SMKN 3 Berau.

Tujuannya adalah bagaimana agar barang dan jasa yang dihasilkan, bisa disukai, dibutuhkan dan dibeli oleh konsumen. Langkah pertama, kata Hardi adalah perencanaan pemasaran. “Perencanaan pemasaran ini menyangkut penentuan kebutuhan pasar, penentuan segmen, target dan positioning produk, kemudian penetapan marketing menyngkut harga, promosi dan tempat, kemudian menempatkan strategi pasar dalam persingan, dengan membuat perbedaan dengan produk sejenis,” tegasnya.

Pengusaha asal Tabalar, Kabupaten Berau ini menjelaskan, salah satu upaya agar produk yang dipasarkan bisa menarik minat konsumen adalah dengan membuat kemasan yang menarik. “Kemasan yang baik dan warna yang cerah, bisa membuat konsumen terpancing secara visual untuk tertarik pada produk yang kita pasarkan,” jelas Hardi.

Kemasan juga berfungsi memudahkan konsumen untuk membawanya ke tempat lain. “Kemasan yang baik, membuat produk seperti terasi ini tidak bau. kalau bau orang tidak suka, susah juga mau di bawa jauh naik pesawat. Dikemas baik dan baunya tidak keluar, kan bisa dibawa misalnya naik ke pesawat oleh konsumen,” papar Hardi.

Meski kemasan bisa menentukan, Hardi mengingatkan agar sebelum membuat kemasan, produsen menentukan dulu target pasar yang hendak dituju. “Ada target kelas menengah ke bawah ada target kelas menengah ke atas,” ujarnya.

Untuk kelas menengah ke bawah, tentunya kemasan tidak bisa sebagus produk yang ditujukan ke kelas menengah ke atas. “Kemasan itu mahal bapak-bapak, ibu-ibu, jadi bisa menentukan harga,” kata Hardi.

Dia kemudian mencontohkan produk yang dikemas hanya dalam kemasan plastik untuk kelas menangah-bawah yang dijual di harga Rp12.000, dan dalam kemasan botol plastik yang dijual seharga Rp20 ribu, meski berat produk sama-sama 80 gram.

Selain kemasan, target juga akan menentukan pilihan dan kualitas bahan baku. Untuk terasi dengan target pasar menengah ke bawah misalnya, bahan baku ebi yang tercampur sedikit ikan masih diperkenankan. Sementara untuk produk yang disasar untuk kalangan menengah ke atas, murni menggunakan ebi untuk menjaga kualitasnya.

Dalam kesempatan itu, Hardi juga memaparkan tentang teknik-teknik pemasaran. “Pemasaran itu ada yang sifatnya pemasaran langsung, kita ada tempat, kemudian produk dipasarkan. Kemudian pemasaran langsung melalui swalayan, dan pemasaran online. Juga ada pemasaran melalui bazar yang sering diadakan oleh pihak pemerintah,” katanya.

Untuk memasarkan produk, terlebih melalui swalayan, untuk produk skala rumah tangga, kata Hardi, produsen harus memiliki Izin P-IRT (Produk Industri Rumah Tangga) dari Dinas Kesehatan setempat. “Kalau tanpa izin P-IRT tidak mungkin produk kita akan bisa masuk ke swalayan,” ujarnya.

Hardi mengatakan, untuk teknik pemasaran, sekarang juga bisa memanfaatkan kemajuan teknologi internet melalui pemasaran online lewat media sosial. “Kami juga memanfaatkan aplikasi SIGAP yang dibangun TNC untuk memasarkan produk kami,” ujarnya.

Hardi mendorong para peserta yang sudah memiliki produk untuk bisa bergabung dengan Komunitas Berau Etnik yang merupakan binaan Dinas Koperasi, Industri dan Perdagangan (Diskoperindag) Kabupaten Berau. “Bergabung dengan komunitas ini nanti bapak-ibu bisa mendapatkan pelatihan seperti misalnya mendesain produk, melakukan promosi, pengurusan izin UMK serta training dan pelatihan lainnya,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Rinto dari BUMDes Batu Putih juga memaparkan kisah sukses dalam menjalankan bisnis, khususnya pengelolaan air bersih, dan tempat pelelangan ikan di Batu Putih. Terkait bisnis air bersih, usaha ini dijalankan setelah masyarakat menyadari potensi sumber air yang ada di desa, sehingga kemudian sumber air itu diberdayakan melalui BUMDes untuk memenuhi kebutuhan warga akan air bersih.

Pihak BUMDes Batu Putih menggunakan teknik distribusi yang unik dalam menjalankan bisnis ini. Alih-alih menggunakan instalasi pipa untuk mengalirkan air ke rumah-rumah warga, mereka memasarkannya melalui distribusi lewat tangki. “Jadi masing-masing rumah punya penampungan air bisa satu atau dua, nanti itu kami isi, harga yang kami charge adalah sesuai jumlah yang kami isi dalam sebulan,” kata Rinto.

Rata-rata, kata dia, masyarakat membayar biaya sebesar Rp100 ribu sebulan. “Omset kami dari bisnis air bersih ini bisa mencapai 40 juta rupiah sebulan, sementara biaya operasional hanya 24 juta sebulan,” paparnya.

Kemudian untuk pelelangan ikan, dalam sehari bisa melelang ikan antara 70-100 ton. BUMDes di bisnis ini, hanya mengutip retribusi dari nelayan di luar Batu Putih yang menjual ikan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Batu Putih. “Sementara untuk nelayan lokal, BUMDes bantu pemasarannya dan juga penyediaan alat tangkap, fasilitas dan lain-lain,” kata Rinto.

Pada sesi tanya jawab, peserta bernama Toto Sunaryo dari Penajam Passer Utara, mengemukakan masalah desain untuk produk beras dari desanya yang dinilai belum menarik. “Kami berbisnis beras bekerjasama dengan pemerintahan daerah, namun menurut kami produk kami kemasan belum menarik, terutama untuk beras premium yang kami tujukan ke pasar menengah atas,” paparnya.

Toto berharap ada kerjasama dengan Komunitas Berau Etnik agar ada pelatihan atau pendampingan agar bisa membuat desain kemasan yang baik. “Kami ingin memiliki desain produk yang mantap,” tegasnya.

Terkait hal ini, Hardi berjanji akan membantu para warga yang desanya sudah memiliki produk, kualitas produk baik, namun belum memiliki kemasan yang menarik. “Bapak-ibu bisa bergabung dengan komunitas, kami nanti bisa bantu buatkan kemasan yang menarik tak kalah bersaing dengan produk yang sudah ternama,” pungkasnya.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *