Warga Desa di Kaltim Belajar Mengelola Pariwisata Ramah Lingkungan | Villagerspost.com

Warga Desa di Kaltim Belajar Mengelola Pariwisata Ramah Lingkungan

Air terjun merupakan salah satu wahana wisata alam yang banyak terdapat di Kabupaten Berau (dok. tnc/chris djoka)

Tanjung Batu, Villagerspost.com – Pada sesi diskusi terkait pengelolaan pariwisata, forum Lingkar Belajar Masyarakat (LBM) Kaltim juga menghadirkan beberapa nara sumber yang memiliki pengalaman mengelola kawasan pariwisata ramah lingkungan. Ada tiga nara sumber yang dihadirkan yaitu dari pihak swasta, desa, dan pemerintah. Dari pihak swasta hadir Bernadetta Lita Udawati owner dari Pratasaba Resort di pulau Maratua.

Kemudian dari pihak desa, ada Mukhlish dari Desa Tembudan yang sukses mengelola kawasan wisata melalui Badan Usaha Milik Desa. Dari pihak pemerintah hadir Asrif, perwakilan dari Dinas Pariwisata Kabupaten Berau yang memaparkan peran pemerintah dalam pengembangan pariwisata di desa-desa.

Dalam kesempatan pertama, Lita–panggilan akrab Bernadetta Lita Udawati–memberikan tips-tips dan kiat yang dimiliki selama mengelola resort di Maratua. Lita mengatakan, dalam mengelola pariwisata, yang terutama adalah tetap menjaga lingkungan sekitar terawat baik dan lestari. “Kami membatasi membangun hanya di lokasi karang yang sudah mati, jika membangun ke arah lautan, kami tetap menjaga karang yang sehat agar tetap lestari,” ujarnya, di aula SMKN 3 Berau, Minggu (29/7).

Dia mengungkapkan, pemilihan nama Pratasaba resort sendiri mengandung makna tertentu. “Pratasaba artinya tempat berkunjung yang bagus, nama itu memberi inspirasi bahwa kita menyediakan tempat bagi tamu berkunjung yang baik, yang pantas, menjalin hubungan erat dengan tamu sehingga setiap tamu merasa puas dan happy. Harapannya seperti itu,” kata Lita.

Ada enam sikap yang harus dijaga dalam mengembangkan pariwisata yaitu peduli, ramah, taat, jujur, santun, bersih dan aman. “Ini prinsip utama yang harus dipegang,” tegas Lita.

Berwisata, kata Lita, para tamu yang datang pasti ingin bergembira, jika mereka happy, tentu akan senang untuk membelanjakan uang di tempat wisata. “Dengan puas, pergi ke manapun saat happy akan beli apa saja yang dijual, di kampung di sekitar, suvenir pasti dibeli,” ujarnya.

Karena itu untuk menjaga kegembiraan tamu, maka keramahan adalah hal yang paling penting. “Coba kalau kita pergi ke toko saat pelayan cemberut, pasti nggak jadi beli, begitu juga di tempat wisata. Karena itu kita harus ramah, senyum, salam, ajak ngobrol, wisatawan kalau datang sendirian atau berdua, bisa jadi dia kesepian, dia pergi wisata mencari pelarian komunikasi, maka kita sapa, itu sudah hal luar biasa, kami selalu menerapkan hal ini di tempat kami,” kata Lita.

Poin berikutnya yang tak kalah penting adalah taat dan jujur. Menurutnya, menjaga keamanan tamu dan barang-barang miliknya adalah poin yang tak kalah penting bagi pengelola tempat wisata. “Jika ada dompet atau barang apapun milik tamu, kita jaga, harus tetap ada, semua barang itu bertuan, kita mengedukasi karyawan untuk jujur, kita punya kekuatan di situ. Kita pernah terjadi satu kali nggak aman, kita belajar dari kesalahan dan kelalaian kami. Ketika tamu merasa aman, nyaman, tentu mereka akan bercerita kepada orang lain,” papar Lita.

Demikian pula dengan menjaga kesantunan. Pengelola wajib berkata dengan santun dan bersikap sopan kepada para tamu. “Jika ada tamu menyampaikan keluhan, kita bertindak sebagai pelayan, mereka adalah raja, mau tidak mau kita harus menekan ego kita. Kita berikan kepuasan yang mereka mau dalam batas normal, jaga privasi tamu,” ujarnya.

Menjaga kebersihan juga menjadi poin penting menjaga kawasan wisata tetap lestari. Artinya, jika kita ingin wisatawan menjaga kebersihan, maka sediakan tempat sampah pada tempat-tempat strategis. Di era medsos, kata Lita, kebersihan tempat wisata akan menjadi poin yang diperhatikan tamu. “Mereka saat berwisata ke tempat tempat yang berbeda akan membandingkan, membuat review, khususnya soal kebersihan, nah review ini tidak bisa dibeli, karena pengunjung memberi review atas hal yang mereka alami,” terang Lita.

Dengan menjaga keenam prinsip itu, menurut Lita, maka pengelola tempat wisata, masyarakat di sekitar tempat wisata sejatinya membangun saling kepercayaan dengan tamu sehingga mereka tidak ragu untuk kembali atau merekomendasikan kepada wisatawan lain, sehingga jasa wisata yang dibangun bisa berkelanjutan.

“Bicara wisata artinya bicara menjaga lingkungan, menata, memanfaatkan lahan dengan mengikuti ekosistem, itu yang akan membantu usaha wisata kita bukan hanya saat ini, tetapi bisa berjalan puluhan tahun, orang akan tetap bisa menikmati betapa indahnya Maratua, Derawan, Biduk-Biduk, Talisayan,” tegas Lita.

Pengelola wisata dan masyarakat juga harus berani dan tegas menjaga aset wisata seperti terumbu karang dan sebagainya. “Jangan sampai wisatawan, karena merasa punya uang, bisa bertindak semaunya, kita harus profesional,” kata Lita.

Pratasaba sendiri selain menjaga terumbu karang, juga menjaga kawasan hutan di sekitarnya, sehingga satwa monyet yang ada di sana bisa tetap berkeliaran tanpa mengganggu wisatawan karena makanan alami mereka masih banyak di hutan. Karena itu, manajemen manusia, dalam pengelolaan wisata juga menjadi hal yang sangat penting.

“People management, mengelola manusia, karyawan, masyarakat agar tetap profesional, bekerja disiplin, sopan, bersih, ini perlu upaya karena semua harus dipahamkan, bergandeng tangan, membangun wisata. Kita sebagai pelaku wisata bergerak aktif saling mengkomunikasikan hal-hal positif, berpikir positif, maka hasilnya akan positif,” pungkas Lita.

Pada sesi berikutnya Mukhlis dari Desa Tembudan memaparkan bagaimana peran Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dalam mengelola kawasam wisata. “Di kampung kami, BUMDes mengelola kawasan wisata, sebenarnya berangkat dari sebuah kekhawatiran. Kami sadar tidak selamanya alokasi dana desa atau dana kampung akan dikucurkan, suatu saat pasti akan dihentikan, sementara sumber pendapatan kampung tidak terpikirkan mulai sekarang. Makanya kami membangun BUMDes Kampung Tembudan. Sebuah cita-cita bagi kami menjadi BUMDes sebagai rumah ekonomi kampung, tulang punggung perekonomian kampung, jadi bukan swasta,” papar Mukhlis.

Mukhlis bercerita, sebelum memutuskan mengembangkan pariwisata sebagai tulang punggung perekonomian hijau, pihak pengurus kampung terlebih dulu berupaya mengenali potensi desa. Dari proses itu, maka lahirlah ide mengembangkan wisata agar alam tidak dieksploitasi, namun perekonomian desa terbangun. “Alam paling banyak menyediakan jasanya, bisa kita jual tanpa merusak lingkungan, sehingga pariwisata adalah nilai yang kita ambil dari jasa lingkungan tanpa merusak hutan,” terang Mukhlis.

Pengembangan hutan wisata secara lestari, kata Mukhlis, akan memberi keuntungan jangka panjang kepada seluruh warga kampung. “Ini sebuah ATM yang bisa kita jadikan pundi-pundi, mengambil nilai dari iru,” ujarnya.

BUMDes Tembudan sendiri, kata dia, baru dimulai sejak tahun 2016 lalu, tepatnya di bulan November. “BUMDes ini pilot project pertama di Kecamatan Batu Putih, kita jatuh bangun melakukan restrukturisasi, support pemerintah kabupaten juga besar, diperkuat payung hukum permodalan BUMDes. Dengan itu, kami membangun BUMDes menjadi sebuah organisasi ekonomi kampung yang inovatif, kita lihat, kenali potensi, tanpa harus takut melakukan apa yang bisa kita lakukan,” kata Mukhlis.

Dia bersyukur dengan pengelolaan yang profesional, kawasan wisata Tembudan yang berupa mata air, wisata karst, ternyata mampu menarik cukup banyak pengunjung. Desember 2016- Desember 2017, kata dia, jumlah kunjungan wisata di Tembudan mencapai 34 ribu kunjungan. Namun kini baru pertengahan 2018, jumlah kunjungan sudah mencapai 25 ribu kunjungn wisata, dia berharap, dengan adanya lonjakan pengunjung saat lebaran dan tahun baru nanti, jumlah kunjungan bisa melebihi tahun lalu.

BUMDes Tembudan, kata Mukhlis, selalu berpegang pada prinsip pengelolaan wisata yang aman. Sumber utama usaha pariwisata adalah pelayan BUMDes. “kita berharap akan terbangun unit usaha lain selain wisata, yang sudah berjalan adalah perbankan, perkembangan potensi perkebunan juga besar, perikanan, sumber daya energi, pengelolaan listrik kampung dan sebagainya, potensi yang bisa kita angkat jadi unit usaha ekonomi kampung, kami tidak berpikir yang besar, kami memulai dari yang kecil,” ujarnya.

Tahun ini, kata dia, pengembangan wisata juga dilakukan dengan dibukanya wisata geo karst Tembudan, wisata caving atau jelajah gua. “Jika suka dengan tantangan adrenalin yang berbeda bisa datang ke Tembudan,” katanya mempromosikan tantangan wisata gua.

Dia menegaskan, dari hasil identifikasi, sudah ditemukan ada 30 potensi kawasan yang bisa dikembangkan sebagai kawasan pariwisata di Tembudan. Dan potensi itu dikembangkan bertahap sejak 2017 lalu. Tembudan juga tidak hanya mengandalkan jumlah pengunjung dalam mencari pemasukan dari usaha jasa wisata, tetapi juga penjualan produk, kerajinan dan lain-lain.

Sementara itu, Asrif dari Dinas Pariwisata Kabupaten Berau mengatakan, pemerintah dalam hal ini dinas pariwisata sangat mendukung inisiatif masyarakat mengembangkan perekonomian hijau dengan menggarap pariwisata. “Sektor pariwisata memang merupakan sektor yang kita unggulkan dan masuk ke dalam visi bupati. Berau sangat kaya potensi wisata, seperti miniatur Indonesia, di banyak tempat lain potensinya kita miliki, tetapi potensi kita belum tentu dimiliki wilayah lain, seperti danau Kakaban yang memiliki empat spesies jelly fish (ubur-ubur) yang di tempat lain tidak ada,” katanya.

Kemudian ada kawasan karst di Merabu yang memiliki gua dengan lukisan tangan manusia purba, persis seperti yang ada di Australia. Juga potensi wisata unik danau dua rasa di Labuan Cermin. Berau juga memiliki satwa orangutan dan hutan mangrove yang luas, juga terumbu karang. Untuk membantu masyarakat mengembangkan pariwisata kata Asrif, pemerintah mendukung dalam bentuk pembangunan infrastruktur jalan agar membantu aksesibilitas ke kawasan wisata.

Kemudian pemerintah juga mendukung dalam bentuk menghubungkan dan mengkoordinasikan apa yang menjadi keinginan kampung dan apa yang menjadi kebijakan pemerintah. “Pemerintah, khususnya dinas pariwisata juga mendukung dalam bentuk melakukan peningkatan kapasitas masyarakat,” tegasnya.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *