Wawancara Aloysius Suratin, Deputy Country Director Oxfam: “Skill Saja Tidak Cukup, Harus Ada Perubahan Budaya!” | Villagerspost.com | Page 2

Wawancara Aloysius Suratin, Deputy Country Director Oxfam: “Skill Saja Tidak Cukup, Harus Ada Perubahan Budaya!”

Kelompok tani mengadakan pertemuan rutin (Dok. Villagerspost.com)

Kelompok tani mengadakan pertemuan rutin (Dok. Villagerspost.com/M. Agung Riyadi)

Setelah itu faktor apa lagi yang harus dibenahi?

Setelah itu kita harus benahi rantai penjualan yang masih tidak adil. Jika hasil petani baik, maka petani jadi memiliki daya tawar kepada penjual untuk bisa memperbaiki harga. Setelah itu tercapai barulah kita bicara soal berikutnya yaitu diversifikasi.

Terkait peningkatan mutu buah tadi, skill apa yang bisa diberikan kepada petani?

Pertama untuk mengatasi masalah ini, kita harus atasi problem utama yaitu penyakit busuk buah. Kita sudah ajarkan terkait bagaimana mengelola sanitasi kebun, lantai kebun harus bersih tidak boleh ada rerumputan tumbuh terlalu tinggi. Kalau daun-daun itu bagus bisa untuk pupuk, tetapi rumput tidak boleh terlalu tinggi sehingga bisa menimbulkan banyaknya hama penggerek buah. Juga Oxfam mengajarkan teknik peremajaan seperti melakukan sambung samping dan sambung pucuk tadi. Kita juga memberikan pengetahuan terkait pengelolaan secara organik. Kita tidak menggunakan kimia.

Bagaimana mengatasi masalah busuk buah secara organik tanpa pestisida kimia?

Jadi begini, dalam mengatasi masalah busuk buah secara organik ada beberapa teknik sebenarnya. Paling umum adalah menyarungi buah dengan plastik. Tetapi ini tidak efektif. Bayangkan saja, 1 pohon ada 100 buah dengan curahan waktu yang sedikit untuk ke kebun, perlu berapa lama untuk bisa menyarungi semuanya? Kedua, harga plastik akan tergantung harga minyak dan sangat fluktuatif, ongkosnya akan sangat tinggi. Lagipula di Papua dari mana bisa mendapatkan plastik dalam jumlah banyak?

Lantas bagaimana solusinya?

Kita akan mengujicoba sebuah teknik baru menutupi buah dengan bahan yang disebut kaolin. Kaolin itu adalah mineral tanah, warnanya putih dan banyak terdapat di Papua. Kaolin ini kita hancurkan dan dilarutkan dengan air lalu kita semprotkan ke buah. Nantinya larutan kaolin akan tutupi permukaan buah dan sifatnya licin. Jadi ketika serangga busuk buah bertelur di permukaan buah yang tertutup kaolin, telur itu akan jatuh karena licin sehingga buah terlindungi dan serangga tidak menginfeksi buah.

Apakah metode ini sudah pernah diterapkan sebelumnya?

Saya mempelajari ini dari berbagai referensi tentang pengelolaan pengendalian hama secara hayati. Memang ini baru tahap uji coba, di IPB Bogor baru tahap penelitian tenang efektivitas kaolin ini tetapi dari hasil penelitian bisa tergambar tingkat efektivitasnya mencapai 80 persen. Jika ini diterapkan saya bisa bayangkan, maka tingkat kegagalan panen yang tadinya 90 persen akan turun hingga tinggal 10 persen. Ini bisa di atas rata-rata nasional yang toleransi kegagalan panennya 40 persen.

Apakah akan ada evaluasi setelah perpanjangan enam bulan ini?

Tentu kita akan evaluasi lagi tingkat keberhasilannya. Bagaimana hasil dari penggunaan kaolin, pembelajaran tentang sanitasi kebun, menciptakan iklim mikro kebun agar jangan terlalu basah, juga tidak terlalu kering.

Kemudian apa yang menjadi target dari keseluruhan program ini?

Targetnya pertama petani bisa menjadikan kakao tumpuan kehidupan ekonomi. Kedua, dengan menjadikan kakao tumpuan penghasilan, maka kesejahteraan meningkat. Kita juga tidak hanya menargetkan kemampuan kapasitas teknis meningkat, pendapatan bagus dan kesejahteraan meningkat. Yang terpenting adalah menumbuhkan kultur budidaya, kultur yang mempengaruhi teknik produksi, inovasi, agar petani menguasai teknik budidaya yang baik.

Di luar itu apalagi yang hendak dicapai?

Kita ingin ada semacam forum kakao dimana para pemangku kepentingan baik petani, pemerintah, swasta, LSM duduk bersama untuk membahas segala persoalan kakao. Dalam forum ini petani bisa berdiskusi menyangkut persoalan-persoalan yang dihadapinya terkait budidaya kakao, penentuan harga dan sebagainya. (*)

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *