Wawancara Peneliti Universitas Cendrawasih I Made Budi: Berharap Papua Mendunia Lewat Cokelat | Villagerspost.com

Wawancara Peneliti Universitas Cendrawasih I Made Budi: Berharap Papua Mendunia Lewat Cokelat

Made Budi menunjukkan cokelat hasil produksi workshop miliknya (Dok. Villagerspost.com)

Made Budi menunjukkan cokelat hasil produksi workshop miliknya (dok. villagerspost.com/M. Agung Riyadi)

Jayapura, Villagerspost.com – Cokelat bagi Drs. I Made Budi M.Si, peneliti dari Universitas Cendrawasih, Papua, menyimpan kisah tersendiri yang memberikan kesan sangat mendalam dalam hidupnya. Alkisah, suatu ketika Made sedang berkunjung ke salah satu daerah pedalaman Papua. Di tengah perjalanan, mendadak mobilnya dihentikan oleh sekelompok warga berpakaian adat dan bersenjata.

Situasi seketika menjadi tegang, semua orang khawatir akan kesalamatan jiwa masing-masing. Hanya saja secara ajaib suasana mencekam mendadak cair ketika sang pemimpin kelompok warga itu menanyakan namanya. Begitu mendengar nama “Made”, sang pemimpin kelompok serta merta menurunkan senjatanya dan memeluknya.

“Pak Made terima kasih sudah banyak ajarkan warga kami bertanam kakao, warga kami sangat senang bisa diajar Bapak, sekarang kakao-nya lebih bagus,” kata Made menirukan perkataan sang pemimpin kelompok.

“Cokelat menyelamatkan nyawa saya,” kata Made. Keterlibatan Made dalam pengelolaan cokelat di Papua sendiri sebenarnya berawal dari keprihatinan yang sederhana. Dia prihatin karena petani kakao Papua belum pernah makan cokelat hasil kebunnya sendiri.

Salah satu keprihatinan Made adalah karena petani Kakao belum pernah makan cokelat hasil kebunnya sendiri. “Selama ini saya berpikir, kakao asal Papua selalu dibawa ke luar. Permintaan pasar luar biasa, berapapun produksi selalu habis. Lalu saya berpikir, mengapa saya tidak coba untuk membuat cokelat asal Papua?” kata Made yang awalnya sempat terpikir untuk fokus mengembangkan kopi .

Made pun mulai terpikir untuk melatih petani. Pada tahun 2012 lalu, ia melatih dua kelompok tani dari Genyem dan Kirom untuk membuat cokelat dan membuat mesin. Made sendiri sudah melakukan riset independen terkait cokelat sejak tahun 2008 lalu.

Dia belajar sepenuhnya melalui internet. Made belajar membuat campuran cokelat hingga akhirnya ia memberanikan diri memesan cetakan cokelat dari Belgia. Rumah Made ibarat laboratorium. Ia bereksperimen membuat campuran cokelat. Tidak puas sampai disitu, Made belajar membuat mesin pengolahan Cokelat. Tidak tanggung-tanggung, semua mesin dirakitnya sendiri dan terus diperbaiki.

Mesinnya kini bisa memproduksi 100 hingga 300 kilogram dalam satu jamnya. “Saya ini dosen dan akademisi, masa saya cuma bisa mengajar saja tapi tidak praktik. Saya ingin bereksperimen menggabungkan teknologi dengan bahan baku yang ada, ini lebih karena hobi dan ingin tahu. Mahasiswa saya juga bisa ikut praktek disini,” kata Made ketika ditemui Villagerspost.com di workshopnya di Jalan Raya Lintas Sentani-Jayapura, Jumat (30/1) lalu.

Made berpendapat, dalam pengembangan cokelat di Papua, perlu penguatan di hulu, yaitu penguatan kelompok tani dalam budidaya dan meningkatkan produksi serta kualitas produksi. Menurutnya di sinilah peran Oxfam amat dibutuhkan, karena pendampingan dan pengembangan kapasitas petani yang dilakukan dalam program PDEP akan sangat membantu mendorong perkembangan cokelat di Papua dan meningkatkan pendapatan petani serta ekonomi desa.

Made sendiri berkeyakinan cokelat Papua sebenarnya bisa mendunia jika diolag dengan benar. Sebab, kata Made, kualitas biji kakao Papua sendiri sebenarnya berada di atas kualitas biji kakao yang dikembangkan di wilayah lain di Indonesia. Rendemen (persentase produk yang dihasilkan dibanding dengan bahan baku yang terolah) biji kakao Papua misalnya bisa mencapai 30-35 persen.

Jauh di atas rendemen biji kakao dari wilayah lain yang hanya berada di angka 20-25 persen. Misalnya, dari 100 kilogram biji kakao Papua, bisa menghasilkan sekitar 30-35 kilogram lemak kakao. “Produk kakao yang paling bernilai adalah lemak kakao ini karena bisa diolah menjadi berbagai produk turunan mulai dari makanan sampai kosmetika,” kata Made.

Sementara biji kakao dari wilayah lain di Indonesia hanya bisa menghasilkan antara 20-25 kilogram lemak kakao. Hal inilah yang membuat Made kemudian tergerak untuk ikut turun membantu petani kakao di Kabupaten Jayapura khususnya, agar bisa ikut sejahtera dari membudidaya tanaman yang oleh orang Spanyol dijuluki sebagai “emas hitam” ini.

One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *