Wawancara Peneliti Universitas Cendrawasih I Made Budi: Berharap Papua Mendunia Lewat Cokelat | Villagerspost.com | Page 2

Wawancara Peneliti Universitas Cendrawasih I Made Budi: Berharap Papua Mendunia Lewat Cokelat

Made menunjukkan salah satu mesin pencampur cokelat dengan makanan lain seperti kacang atau popcorn (Dok. Villagerspost.com)

Made menunjukkan salah satu mesin pencampur cokelat dengan makanan lain seperti kacang atau popcorn (dok. villagerspost.com/M. Agung Riyadi)

Karena itu, kata Made, dia sangat mendukung program peningkatan kemampuan budidaya bagi para petani yang dilakukan Dinas Pertanian Kabupaten Jayapura bekerjasama dengan Oxfam itu. “Itu merupakan suatu hal sangat bagus,” katanya.

Hanya saja, kata Made, sebenarnya masih banyak hal yang bisa didorong khususnya oleh pemerintah daerah dan pusat agar kesejahteraan petani kakao, khususnya petani skala kecil dengan lahan antara 1-2 hektare seperti di Papua bisa lebih ditingkatkan. Salah satunya adalah membuat peraturan daerah atau bahkan aturan nasional untuk melindungi harga kakao.

Di Papua Nugini, misalnya, kata Made ada aturan serupa dimana pemerintah menetapkan harga kakao di tingkat petani agar petani bergairah menanam dan meningkatkan kualitas produk. “Di Indonesia, khususnya Papua seharusnya ada peraturan serupa supaya misalnya harga kakao bisa berada di kisaran Rp30.000-Rp35.000 per kilogram,” kata Made.

Dengan aturan semacam ini, kata dia, petani akan bergairah dan diharapkan akan lebih mudah untuk dipacu meningkatkan kualitas produk karena ada jaminan harga. Selain itu, kata Made, produk kakao ini, khususnya Papua, bisa ditingkatkan lagi ke skala industri sehingga petani tidak hanya menjual produk berupa biji tetapi juga produk olahan.

“Selama ini kakao dinilai sebagai produk untuk kelas atas, petani kakao Papua menanam kakao, tetapi tidak pernah menikmati produk cokelat yang memiliki kandungan gizi yang tinggi bisa mencegah penyakit degeneratif,” kata Made.

Padahal dengan teknologi sederhana, kata Made, petani atau orang-orang di desa juga bisa menghasilkan produk turunan kakao dan ikut menikmati produk yang memiliki nilai gizi tinggi itu. Karena itulah Made kemudian berikhtiar menciptakan mesin-mesin pengolahan sederhana untuk bisa diterapkan dan dimanfaatkan oleh industri skala kecil.

Di workshop miliknya, di Jayapura, Made membangun mesin-mesin pengolahan sederhana yang bisa diduplikasi oleh para perajin kakao untuk bisa menghasilkan produk olahan kakao. Ada sekitar 5-6 mesin yang diciptakan Made yang prototipenya dia pelajari dari situs jejaring video Youtube.

Pertama adalah mesin untuk menyangrai biji kakao kering agar biji kakao siap diolah dengan kualitas baik yaitu memiliki kandungan air hanya sebesar 2%. Mesin sederhana ini mampu mengeringkan sekitar 20 kilogram biji kakao sekali beroperasi. Dari mesin sangrai, nantinya biji kakao ini diolah lagi ke mesin pengolah untuk menghasilkan pasta kakao.

Lewat mesin ini, biji kakao menghasilkan pasta yang siap diolah menjadi bubuk kakao dan juga lemak kakao yang bernilai tinggi tadi. Untuk produk makanan, bubuk kakao bisa diolah lagi di mesin mixer untuk bisa dicampur dengan bahan lain seperti gula dan susu. Hasil campuran ini kemudian dilembutkan lagi di sebuah mesin yang disebut ball mill.

Dari situlah produk kakao bisa dibentuk menjadi cokelat batangan, bubuk kakao, atau dicampur dengan makanan lainnya seperti popcorn dan kacang yang dicampur lewat sebuah mesin pencampur khusus. Di Eropa atau negara seperti Malaysia, mesin canggih untuk mengolah produk kakao ini bisa berharga Rp15 miliar dan mesin-mesin itu terintegrasi secara utuh sehingga dengan sekali proses biji kakao sudah langsung bisa keluar dengan berbagai macam produk mulai dari cokelat batangan, hingga jenis lainnya.

“Karena itu industri cokelat seringkali sifatnya monopolistik, karena hanya pemain besar skala industri yang mampu berinvestasi. Itu sebabnya produk cokelat dinilai sebagai produk kelas atas,” ujar Made.

Facebook Comments
One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *