Wawancara Peneliti Universitas Cendrawasih I Made Budi: Berharap Papua Mendunia Lewat Cokelat | Villagerspost.com | Page 3

Wawancara Peneliti Universitas Cendrawasih I Made Budi: Berharap Papua Mendunia Lewat Cokelat

Made menunjukkan cara kerja mesin ball mill untuk melembutkan pasta coklat (Dok. Villagerspost.com)

Made menunjukkan cara kerja mesin ball mill untuk melembutkan pasta coklat (dok. villagerspost.com/M. Agung Riyadi)

Namun dari hasil ikhtiarnya menciptakan mesin sederhana itu, kata Made, diharapkan produk kakao juga bisa diproduksi dalam skala kecil dan dinikmati oleh masyakarat kalangan bawah. Modal untuk berinvestasi mesin ini kata Made bisa mencapai Rp300 juta. Namun setiap pekan lewat mesin sederhana ini, bisa mengolah biji kakao sebanyak 300 kilogram. “Dari hitungan saya, investasi sebesar itu bisa kembali modal hanya dalam jangka waktu enam bulan,” ujarnya.

Made pun terus berkreasi. Ia membuat berbagai campuran cokelat termasuk membuat campuran buah merah Papua untuk cokelatnya dan membuat packaging untuk cokelat produksinya. Ia akhirnya membuat merk dagang TT yang merupakan kepanjangan dari Terima Kasih Tuhan. Made juga memiliki toko kecil menjual produk Cokelat.

Tokonya terletak di jalan lintas Sentani ke Kota Jayapura. Harga Cokelatnya bervariasi antara Rp10.000 hingga Rp65.000. Made juga menjual cokelat dalam bentuk blok-blok untuk kebutuhan bahan baku industri. “Cokelat ini manfaatnya macam-macam, dari pangan hingga kosmetik dan bahan baku kimia,” kata Made.

Menurut Made keunikan cokelatnya adalah 100% asli Papua dan berbahan baku organik yang juga dari pengolahan pupuk kompos setempat. Dia pun berharap para peneliti seperti dirinya bisa ikut berkontrobusi kepada masyarakat dengan menymbangkan ilmunya untuk memajukan industri pertanian. “Saya pikir industri lisensi mobil harus dikurangi kalau perlu dimoratorium kita perkuat di agro industrinya, saya kira seperti itu,” kata Made.

Dia menilai, kekuatan Indonesia adalah pada masyarakatnya yang 70 persennya adalah masyarakat menengah ke bawah. Mereka, kata Made, butuh alat-alat industri kecil yang berkualitas. “Bukan yang asal dibawa ke kampung dari pusat berharap bisa dipakai tetapi nggak bisa dipakai kan? Ini banyak kejadiannya,” kata Made.

Pemerintah dan peneliti, kata Made, harus jujur agar teknologi yang disumbangkannya benar-benar tepat guna dan bermanfaat. Dalam membuat alat-alat pengolahan cokelatnya pun, Made membuatnya dengan sungguh-sungguh. “Untuk dinamo saja, kalau speknya harus dinamo dari Jepang ya pakai dari Jepang, jangan buatan Cina karena kualitasnya jauh di bawah, nanti malah nggak bisa dipakai,” katanya.

Dia menilai sebagai penghasil kakao, Indonesia pun bisa menjadi negara produsen cokelat yang terkenal jika industri skala kecil ini bisa dikembangkan dengan baik. “Banyak yang keliru mengambil kebijakan. Lihat Malaysia, Singapura, tidak punya kakao tetapi suvenir cokelatnya luar biasa. Orang Indonesia kalau melancong ke sana malah bangga bawa cokelat Malaysia, kenapa bisa begitu? Karena mereka pintar,” kata Made.

Malaysia dan Singapura, kata Made, cukup cerdik membeli teknologi kakao dari Eropa seharga Rp15 miliar. “Mesinnya canggih, tinggal jatuhkan biji kakao keluar sudah menjadi cokelat batangan. Indonesia mau nggak beli itu? Kalau mau jujur di Indonesia Timur taruh 3 mesin Eropa, masyarakat Indonesia Timur akan bisa menikmati cokelat kualitas hebat. Malaysia tidak punya kebun cokelat, Singapura tidak punya, Tetapi produksi cokelatnya termasuk yang terbaik di Asia,” ujarnya.

Sementara, Indonesia, kata Made, sejak dulu hanya puas menjadi pengekspor biji kakao dan kehilangan nilai tambah dari pengolahan cokelat. Padahal potensi pengolahan cokelat sangat besar secara ekonomi. “Nilai jualnya untuk pengolahan dari bahan crude dan dengan jual produk jadi, keuntungannya sekitar 200-300 persen. Bayangkan dengan dia membeli teknologi kemudian beli bahan dari Indonesia jual cokelatnya banyak turis datang maka akan menjadi suvenir di mana-mana,” kata Made.

Mungkinkah Indonesia Timur atau mungkinkah Papua produksi seperti Malaysia cokelat yang kualitas bagus dan hebat? “Sangat bisa, meski untuk saat ini masih sulit. Harus ada perubahan pola pikir,” kata Made.

Karena itu kata Made, para peneliti dari universitas harus ikut mencerdaskan masyarakat. “Peneliti harus punya hati berbuat sesuatu untuk masyarakatnya. Ahli engineer mesin cokelat, kopi, padi yang ada di perguruan tinggi besar dia harus buat produk. Ini industri saya yang buat mandiri, dari universitas mana harus ada produk unggulan sampai sekarang kan ini nggak ada,” ujar Made.

“Bayangkan betapa hebatnya universitas-universitas hebat itu, ITB, IPB, UI, UGM kalau menciptakan alat-alat tidak hanya di bidang pertanian tetapi juga di bidang farmasi, kelautan, penjernihan air, ini harus kita tunjukkan!” tegas Made. (*)

Facebook Comments
One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *