25.000 Orang Kelaparan Setiap Hari di Yaman Akibat Perang | Villagerspost.com

25.000 Orang Kelaparan Setiap Hari di Yaman Akibat Perang

Suasana kota Sana'a di Yaman. Perang mengakibatkan 25.000 orang Yaman menderita kelaparan tiap hari (dok. oxfam)

Suasana kota Sana’a di Yaman. Perang mengakibatkan 25.000 orang Yaman menderita kelaparan tiap hari (dok. oxfam)

 

Jakarta, Villagerspost.com – Sejak awal konflik Yaman terjadi, hampir sekitar 25.000 orang telah menderita kelaparan setiap hari seiring blokade dan pertempuran membuat pasokan makanan semakin terbatas. Demikian juga dengan pasokan bahan bakar minyak dan suplai kebutuhan vital lainnya.

Satu dari dua orang –atau sekitar 13 juta orang– saat ini terus berjuang untuk mendapatkan makanan yang mencukupi dan setengahnya lagi berada diambang kelaparan. Angka ini adalah peningkatan sebesar 2,3 juta orang sejak meningkatnya pertempuran dan dimulainya blokade yang dilakukan koalisi pimpinan Arab Saudi pada bulan Maret 2015 lalu.

Di negara yang memiliki sejarah menghadapi kelangkaan pangan, situasi saat ini dilaporkan merupakan situasi terburuk yang pernah tercatat terkait jumlah orang yang terancam menderita kelaparan.

Country Director Oxfam Yaman Philippe Clerc mengatakan, sejak awal konflik terjadi, setiap hari dimana tidak terjadi gencatan senjata dan pembukaan keran impor (pangan), akan ada 25.000 orang lagi yang menderita kelaparan di Yaman.

“Seiring pihak yang bertikai terus mengabaikan seruan untuk melakukan gencatan senjata, rata-rata keluarga di Yaman dibiarkan bertanya-tanya kapan bisa mendapatkan makanan kembali, jika mereka selamat dari pemboman, mereka saat ini kehabisan makanan,” Clerc dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Selasa (28/7).

Wilayah provinsi Saada di utara merupakan wilayah yang paling terdampak di negara tersebut. Hampir 80 persen pendudukanya menderita kelaparan, dari jumlah itu, 50 persennya berada dalam situasi kritis.

Kelangkaan pangan juga telah mendorong harga-harga melambung jutaan kali–kebanyakan penduduk juga sudah tak memiliki pendapatan lagi untuk berbulan-bulan saat ini. Data yang dikumpulkan dari assessment Oxfam di provinsi Hajjah menunjukkan, banyak keluarga yang kehilangan tempat tinggal akibat konflik, kini tak memiliki kekayaan lagi.

Kebanyakan ternak yang mereka miliki terpaksa dijual di bawah harga pasaran demi membeli makanan dan kebutuhan dasar lainnya. Ini adalah tanda-tanda nyata bahwa penduduk mulai menghadapi krisis pangan yang serius.

Sepanjang wawancara dengan keluarga yang kehilangan tempat tinggal di Sanaa, 60 persen dari pihak yang diwawancara mengatakan kepada Oxfam mereka harus mampu menghadapi situasi kekurangan pangan dan uang dengan cara meminta-minta, menyemir sepatu dan mengharapkan adanya sumbangan. Satu-satunya sumber makanan untuk penduduk pada dua pertiga penduduk di lokasi survei adalah satu makanan siap saji per hari yang disediakan organisasi lokal.

Berdasarkan laporan mingguan dari World Food Programme ketersediaan makanan di provinsi di bagian barat daya sangatlah rendah, secara khusus di Aden, Abyan, Ad-daleh, Lahj dan Shabwa. Ini terjadi terutama akibat kesulitan untuk menyalurkan makanan ke wilayah konflik.

Sebelum konflik ini terjadi, Yaman mencatat rekor tertinggi kedua angka kekurangan gizi di dunia. Sejak Maret hanya 20 persen dari jumlah makanan yang dibutuhkan berhasil didatangkan ke negara itu dan menambah sejumlah 650.000 anak-anak dan ibu hamil dan menyusui yang mengalami kekurangan gizi, membuat angka kekurangan gizi pada kelompok ini melonjak menjadi 1,5 juta orang.

“Setelah kegagalan negosiasi perdamaian, saat ini sangat penting lebih dari sebelumnya bahwa Dewan Keamanan dan PBB menemukan cara agar para pihak yang berkonflik untuk menegosiasikan perdamaian. Pada saat yang bersamaan, Amerika Serikat, Inggris dan Iran harus menggunakan pengaruhnya kepada pihak yang bertikai untuk mengakhiri konflik. Apakah dunia harus menutup mata atas penderitaan lebih dari 21 juta penduduk yang membutuhkan bantuan kemanusiaan, ini sama saja terlibat dalam membuat mereka menderita,” kata Clerc. (*)

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *