Ahmad Tarmizi: Mengubah Image Gurem Pertanian Lewat Tempe | Villagerspost.com

Ahmad Tarmizi: Mengubah Image Gurem Pertanian Lewat Tempe

Ahmad Tarmizi dengan tempe hasl olahannya dari kedelai lokal petani (dok. ahmad tarmizi)

Ahmad Tarmizi dengan tempe hasl olahannya dari kedelai lokal petani (dok. ahmad tarmizi)

Jakarta, Villagerspost.com – Image petani sebagai pekerjaan rendah, miskin, bahkan aib, bagi anak jika orang tuanya menjadi petani, benar-benar mengganggu pikiran Ahmad Tarmizi. Pemuda kelahiran Desa Pengembur, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat ini menilai, gambaran buram soal petani itulah yang selama ini menjadi penghalang bagi generasi muda untuk terjun mengembangkan usaha di bidang pertanian.

Pola pikir ini, tekad Ahmad, harus diubah. “Petani merupakan jejak awal kehidupan masyarakat, khususnya di Indonesia yang memiliki banyak sumber daya alam yang dimilikinya,” kata pemuda kelahiran 31 Desember 1988 ini.

Menurut Ahmad, pertanian sangat mungkin dibangkitkan mengingat Indonesia juga merupakan negara “adidaya” dalam hal sumber daya alam, kesuburan tanah, kaya akan air, hutan dan sumber daya manusia. “Apabila sumber daya keduanya dapat dimanfaatkan sejajar dengan teknologi dan ide usaha yang cemerlang, maka Petani akan menduduki peringkat pertama yang dikejar oleh masyarakat sebagai jenis pekerjaan yang paling mulia, disebabkan oleh ketermanfaatan hasil petani sebagai bahan pokok makanan masyarakat Indonesia,” katanya.

Maka Ahmad pun tampil dengan visi Petani Aktif, Terampil, Inovatif dan Religius (PATIR). Intinya dengan konsep itu, pemuda bisa mengembangkan hasil pertanian, mengolah dan menjual hasil tani menjadi produk unggulan. “Memberdayakan kesejahteraan petani dan meningkatkan tingkat paradigma petani merupakan misi yang saya harapkan dalam pengembangan usaha ini,” kata Ahmad.

Para pekerja di UB Tempe Lokal Lombok mengolah kedelai menjadi tempe (dok. ahmad tarmizi)

Para pekerja di UB Tempe Lokal Lombok mengolah kedelai menjadi tempe (dok. ahmad tarmizi)

Dia mengembangkan visi tersebut justru berangkat dari berbagai kondisi yang tidak menguntungkan petani. Selama ini, petani sering mengalami kerugian karena terjerat utang kepada tengkulak, harga dipermainkan pengusaha, dan kebijakan pemerintah yang tak berpihak pada petani skala kecil.

Di Lombok, ketiga elemen itu, membuat petani sering menjerit. Sebagai contoh pada saat petani membutuhkan bibit Kedelai, petani membeli seharga Rp15.000/kg dari pengusaha/tengkulak, namun saat panen kedelai, para pengusaha dan tengkulak hanya menghargai hasil panen petani seharga Rp5.000/kg.

Sebagai jalan keluar agar petani tak lagi menjadi bahan permainan pengusaha dan tengkulak, Ahmad pun mendirikan UB Tempe Lokal Lombok. Usaha ini dia jadikan wadah bagi petani untuk mengolah hasil pertanian seperti kedelai, kacang hijau dan jagung yang ada di wilayah Lombok Tengah.

Usaha ini didirikan sejak tahun 2014 lalu dan dimulai dari lima orang tim pemudi yang membuat tempe dari kedelai lokal. Selama ini, usaha tempe yang ada di Lombok 100% dibuat menggunakan kedelai impor, khususnya dari Amerika Serikat.

Mengolah kedelai lokal menjadi susu kedelai (dok. ahmad tarmizi)

Mengolah kedelai lokal menjadi susu kedelai (dok. ahmad tarmizi)

Namun, Ahmad berupaya untuk mengubah tradisi itu, agar kedelai lokal memiliki nilai tambah sehingga petani tidak perlu menjual hasil panen mentah ketika harga jatuh. Usaha kerasnya itu berhasil dan tempe berbahan kedelai lokal Lombok itu laku di pasaran. Usaha ini kemudian juga dikembangkan lagi dengan memproduksi susu kedelai.

“Kemudian saya mengembangkan ke enam kecamatan di Lombok Tengah yaitu Pujut, Praya Timur, Praya Tengah, Praya Barat Daya, Praya Barat dan Praya sampai tahun 2016 ini. Setiap tim terdiri dari 5 orang yang saat ini saya mempunyai tim 30 orang pengolah dan pengusaha tempe dan susu kedelai.

Dalam menjalankan usahanya, Ahmad melakukan kerjasama dengan kelompok-kelompok tani dalam pengadaan bahan baku yang akan diolah menjadi tempe dan susu kedelai tersebut. “Sehingga saling menguntungkan antara pihak saya selaku pengolah/pengusaha dan petani selaku penyedia dan pendukung usaha ini. Sehingga, petani menanam kedelai tidak lagi menjual kedelai, tapi menjual tempe dan susu kedelai,” ujarnya.

Begitupun saat petani menanam jagung dan kacang hijau tidak lagi menjual jagungnya, tetapi menjual es jagung dan aneka kue dan es kacang hijau serta bubur kacang hijau. Ahmad mengaku optimis, lewat usaha para pemuda sepertinya, suatu saat, pertanian di Indonesia akan menemukan masa keemasannya.

Ahmad juga berharap dengan usahanya ini, dia bisa mengubah paradigma cara pengolahan hasil pertanian oleh petani itu sendiri. Dia menegaskan, seyogyanya petani menjadi pionir dalam kehidupan ekonomi kemasyarakatan di Indonesia ini.

“Saya berharap dengan ikut sertanya saya mendaftar sebagai Duta Petani Muda 2016, maka saya dapat mengembangkan kegiatan pengolahan hasil pertanian untuk kesejahteraan pemuda dan menaikkan derajat petani dan derajat hasil pertanian Lokal Lombok khususnya dan Indonesia,” tegasnya.

Ikuti informasi terkait pemilihan Duta Petani Muda >> di sini <<

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *