Air Tenaga Matahari, Pembebas Warga Kambo Umah | Villagerspost.com

Air Tenaga Matahari, Pembebas Warga Kambo Umah

Seorang ibu warga dusun Kambo Umah, Sumba Timur, NTT mencuci pakaian dengan air dari sumur bor bertenaga matahari (dok. rahmat adinata)

Seorang ibu warga dusun Kambo Umah, Sumba Timur, NTT mencuci pakaian dengan air dari sumur bor bertenaga matahari (dok. rahmat adinata)

Sumba Timur, Villagerspost.com – Wilayah Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, sangat terkenal dengan iklimnya yang kering. Di musim kemarau, masa-masa kering tanpa hujan di kabupaten ini bisa mencapai rentang waktu 8-9 bulan lamanya. Kondisi ini tentunya sangat menyulitkan bagi para penduduk yang menggantungkan hidupnya dari hasil pertanian yang sangat membutuhkan air.

Begitupun dengan warga dusun Kambo Umah, Desa Palanggay, Kecamatan Pahungalodu, Sumba Timur yang  mayoritas berpenghidupan sebagai petani rumput laut. Untuk mendapatkan air bersih, selama ini mereka harus bersusah payah baik musim hujan maupun musim kemarau menempuh jarak sekitar 6 kilometer menuju sumber air terdekat dari desa itu yaitu di wilayah Mburukulu. Mereka tak bisa menggantungkan kebutuhan air dari menggali sumur.

“Andaikan gali sumur pun airnya payau tidak layak untuk dikonsumsi,” kata Ketua Program Kampung Pro Iklim Desa Palanggay Agustinus Marapraing, Jumat (22/4) lalu.

(Baca juga: Tanam Maju Pola SRI ala Sumba Timur)

Agustinus berkisah, saking butuhnya dengan air, terkadang masyarakat harus membeli air bersih sebanyak 50 liter seharga Rp100 ribu, atau lima liter air seharga Rp10 ribu, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, terutama pada puncak musim kering di bulan Oktober dan November saat sumber air pun ikut mengering. “Setiap hari Minggu suka ada mobil tangki jualan air ngantar ke sini,” ujarnya.

Kini, kisah pilu kekurangan air bersih bisa jadi hanya tinggal cerita bagi warga desa. Sejak beberapa bulan lalu, desa Palanggay mendapatkan bantuan berupa program bantuan pembangunan sumur air bersih. Bantuan itu merupakan bagian dari program Strategic Planning and Action to strengthen climate Resilience of Communities in Nusa Tenggara Timor Province (SPRAC) yang digagas United Nations Development Programme (UNDP) lembaga di bawah Perserikatan Bangsa- Bangsa untuk pembangunan.

UNDP menggarap program ini bekerjasama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal  dan Transmigrasi, serta Koordinasi Pengkajian dan Pengelolaan Sumber Daya Alam (Koppesda) Sumba sebagi mitra lokal. Lewat program itu, kini sejumlah 108 kepala keluarga di desa Palanggay, bisa menikmati air bersih.

Sumur bor bantuan itu juga tak sekadar mengalirkan air bagi penduduk desa, melainkan juga menjadi contoh pengembangan energi listrik dari sumber terbarukan. Pasalnya, pompa untuk menggerakan air ke permukaan ditenagai oleh listrik tenaga matahari yang berasal dari beberapa panel surya yang terpasang di sekitar lokasi sumur.

Air yang keluar dari sumur kemudian ditampung di sebuah bak, lalu dialirkan ke pemukiman warga. Dengan cara itu, warga dusun Kambo Umah tidak perlu lagi bersusah payah sepanjang tahun harus mendatangkan air dengan menempuh jarak yang cukup jauh.

Keberadaan sumur bor terletak di sebuah padang rumput yang jaraknya cukup jauh dari pemukiman warga, yaitu sekitar 1,5 kilometer. Sumur digali dengan kedalaman mencapai 72 meter. Meski jarak sumur air cukup jauh, namun dengan sistem penampungan air di bak semen berukuran 3×3 meter persegi, warga tak perlu menempuh jarak sejauh itu untuk mengambil air. Sebab, air bisa dialirkan dari bak ke rumah-rumah penduduk melalui saluran pipa.

“Kami sangat bersyukur dan senang sekali sebab air sudah sampai di tempat melalui bantuan program SPARC,” kata seorang ibu yang sedang mencuci pakaian. “Rencana kami mau tanam sayuran untuk sekadar memenuhi kebutuhan keluarga. Kini air bukan masalah, merdeka sudah kami ini,” tambahnya dengan nada gembira.

Si ibu berpikiran, bila ketersediaan air tersebut digunakan untuk budidaya sayuran, itu akan sangat bermanfaat, sebab akan mampu memenuhi kebutuhan gizi bagi keluarganya. “Selama ini kebutuhan sayur hanya berharap beli, namun karena air sudah tersedia berarti pengeluaran akan berkurang. Ini sangat bermanfaat sekali bagi kami,” ujarnya penuh semangat.

Air memang merupakan kebutuhan yang sangat vital bagi kehidupan kita. Kini, air yang dibutuhkan itu sudah bisa tersedia. Tinggallah warga desa kini diharapkan menggunakan air dengan bijak agar tidak terbuang percuma. Warga juga diharapkan mampu merawat sumber air dan pompa dengan perawatan yang baik agar tetap langgeng pemakaiannya. (*)

Laporan: Rahmat Adinata, Anggota Gerakan Petani Nusantara, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *