Anak Muda Gaza Gunakan Seni untuk Atasi Trauma Perang | Villagerspost.com

Anak Muda Gaza Gunakan Seni untuk Atasi Trauma Perang

Seorang anak di Gaza mencoba menghangatkan tubuh di musim dingin diantara reruntuhan bangunan (dok. oxfam.org.uk)

Seorang anak di Gaza mencoba menghangatkan tubuh di musim dingin diantara reruntuhan bangunan (dok. oxfam.org.uk)

Jakarta, Villagerspost.com – Musim panas lalu, remaja berusia 16 tahun Eb’a Hamouda menjadi saksi hidup kejadian mengerikan ketika bom-bom berjatuhan di sekitar dirinya di Gaza. Sejak itu, dia menggunakan kecintaannya kepada seni menggambar dan menulis untuk mencoba dan mengerti akan apa yang terjadi.

“Saat saya sedih, saya menggambar dan menulis,” ujarnya dalam surat elektronik yang diterima Villagerspost.com, Senin (13/7).

“Setelah semua yang saya alami, seperti kawan-kawan sebaya saya yang lain–yang terkurung di Gaza, menjalani momen-momen buruk dalam hidup di tengah peperangan dan melihat banyak kawan seusia saya terbunuh atau kehilangan rumah mereka– ini adalah satu-satunya cara dimana saya bisa berbicara mengenai apa yang saya rasakan. Dan juga tentang harapan dan mimpi-mimpi saya,” urai Eba’a.

Eba’a adalah salah satu dari sekian anak-anak muda di Gaza, Palestina, yang ditolong oleh Oxfam dan mitra kerjanya the Culture and Free Thought Association (CFTA). Berdasarkan data dari Perserikatan Bangsa-Bangsa, lebih dari 300.000 anak dan orang-orang muda di Gaza membutuhkan bantuan psikologis setelah mengalami trauma akibat konflik. Banyak diantara mereka kehilangan kerabat, teman-teman, rumah dan sekolah akibat pemboman oleh pihak Israel.

“Saya menemukan tempat dimana saya bisa mengubah energi saya menjadi seni,” kata Eba’a yang kini diasuh oleh CFTA. Setelah serangakaian kejadian mengerikan yang dialaminya tahun lalu, perempuan muda ini masih berharap akan adanya masa depan yang lebih baik.

“Saya punya mimpi sederhana, untuk berjalan-jalan, mengunjungi negara lain dan melihat bagimana pemandangan dunia di luar Gaza,” ujarnya.

Namun di bawah blokade Israel–saat ini sudah berlangsung selama delapan tahun– kebanyakan penduduk Gaza tidak bisa bepergian keluar Gaza. “Saya kehilangannya anak-anak di Gaza saat saya melihat gambar anak-anak di internet dan di televisi bepergian dari satu negara ke negara lain,” kata Eba’a. “Ini adalah hak dasar yang seharusnya bisa kita nikmati,” lanjutnya.

Eba’a baru-baru ini mengambil bagian dalam sebuah event yang diorganisir CFTA untuk meluncurkan sebuah buku dan gambar-gambar yang dihasilkan anak-anak remaja di sekitar Gaza. Beberapa gambar itu diantaranya dibuat oleh Hamza Shaheen (17 tahun).

Setahun lalu, Hamza dan keluarganya harus meninggalkan rumah mereka untuk menghindari pemboman. Dia mulai bergabung dengan CFTA segera setelah itu, dimana dia diyakinkan untuk menggambar apa yang dia alami.

“Saya menemukan banyak dukungan di sana dan kemampuan saya sangat meningkat,” kata Hamza.

“Saya mengorganisir dan berpartisipasi dalam beberapa pameran–itu adalah sebuah sukses besar dalam hidup saya. Saya tidak pernah membayangkan bahwa orang-orang akan datang dan melihat apa yang saya gambar. Saya bahkan menggambar sesuatu yang kemudian terjual di Amerika! Ini membuat saya semakin menumbuhkan rasa percaya diri saya dan memberikan makna bagi hidup. Menggambar adalah hidup saya. Itu sangat membantu saya untuk mengekspresikan perasaan saya dan membagi pikiran saya dan untuk mengatakan pada dunia luar tentang penderitaan yang kami alami di Gaza dan bagaimana yang anak-anak rasakan selama peperangan berlangsung. Saya ingin menggunakan bakat saya untuk membawa perubahan untuk kehidupan anak-anak di Gaza,” kata Hamza.

Mimpi Hamza menjadi pelukis terkenal, tetapi dia tahu saat ini sangat sulit untuk bisa bertahan hidup di Gaza di bawah blokade Israel. “Tetapi saya tak menyerah, hal ini tak akan menghentikan mimpi saya,” katanya.

Delapan tahun blokade berlangsung dan konflik yang terjadi telah membuat kehidupan menjadi sangat berat bagi para remaja di Gaza. Ekonomi mengalami kehancuran dengan 60 persen anak-anak muda kini tanpa pekerjaan–angka tertinggi di dunia.

Para pelajar yang mendapatkan kesempatan belajar di universitas di luar negeri, atau di universitas di Palestina di Tepi Barat, tak dapat pergi dari Gaza untuk memenuhi undangan belajar tersebut. Lebih dari 20 sekolah dan taman kanak-kanak yang dibombardir tahun lalu, kini masih menjadi puing-puing. Saat ini di CFTA anak-anak muda itu menolak untuk menyerah dan berupaya menemukan jalan untuk mengatasi dan menyuarakan harapan mereka. (*)

Facebook Comments
One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *