Babak Akhir Polemik Jagung Impor | Villagerspost.com

Babak Akhir Polemik Jagung Impor

Aksi demonstrasi peternak unggas Blitar menuntut penurunan harga jagung (dok. istimewa)

Aksi demonstrasi peternak unggas Blitar menuntut penurunan harga jagung (dok. istimewa)

Jakarta, Villagerspost.com – Polemik jagung impor antara Kementerian Pertanian dengan para pengusaha pakan ternak yang tergabung dalam Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), sementara ini bisa diselesaikan. Lewat campur tangan Menteri Perdagangan Thomas Lembong, Kementan akhirnya mengizinkan jagung yang diimpor GPMT sebanyak 445.500 ton yang sebelum tertahan di berbagai pelabuhan, bisa dibebaskan.

Pihak Kementan sendiri tidak terlibat dalam rapat yang digelar Mendag Tom Lembong dengan Bulog dan GPMT. Meski begitu, Kementan menerima keputusan itu. Jagung impor yang tertahan di Medan, Semarang, Banten, dan Jawa Barat itu sendiri diputuskan untuk dibeli dan disalurkan oleh Perum Bulog kepada para peternak.

Thomas Lembong dalam siaran persnya mengatakan, hasil pertemuan itu diharapkan dapat mengakhiri ketidakpastian mengenai kelanjutan dari impor jagung yang sebagian telah memasuki pelabuhan wilayah Indonesia tersebut.

“Sudah disepakati pembelian atau pengalihan sebanyak 445.500 ton dari beberapa importir ke Perum Bulog. Kemendag juga akan berkoordinasi dengan pihak terkait agar jagung impor yang tertahan di sejumlah pelabuhan tersebut dapat keluar dan dibeli oleh/dialihkan ke Perum Bulog. Saya harapkan melalui cara ini akan mampu menurunkan kenaikan harga jagung pakan dan akan mengurangi dampaknya terhadap kenaikan harga daging ayam yang saat ini masih terjadi,” tegas Tom Lembong dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Senin (1/2).

Tom mengakui akibat polemik ini berdampak pada naiknya harga daging ayam. Harga daging ayam mengalami kenaikan cukup signifikan di sejumlah daerah. Harga daging ayam rata-rata nasional saat ini Rp33.237 per kg, naik Rp4.452 atau 15,46% dari Oktober 2015 sebesar Rp28.785 per kg. Penyebab kenaikan ini diduga akibat harga pakan ternak, antara lain jagung yang pasoknya kurang dan susah diperoleh. Jagung merupakan komponen dominan dalamĀ  pakan ternak (50%).

Terakit pertemuan itu, Perum Bulog dan pelaku usaha sangat menghargai inisiatif dan langkah Mendag yang mampu menjadi penengah sehingga berbagai pihak dapat mencapai kesepakatan dimana jagung dapat mencapai wilayah RI dan peternak ayam bisa mendapatkan kepastian pasokan bahan baku pakan untuk usaha peternakan ayam dan telurnya. Menurut catatan Kementerian Perdagangan, sejak November 2015 hingga Januari 2016, harga jagung naik hingga 100%, dari Rp3.000 menjadi Rp6.000. Kenaikan harga jagung ini diduga akibat seretnya pasokan jagung ke industri pakan ternak. Permintaan jagung dari industri pakan ternak tetap tinggi.

Menurut Tom Lembong, kenaikan harga jagung untuk pakan ternak akhir-akhir ini mengindikasikan adanya kekurangan pasokan atau terjadi kelangkaan. Neraca produksi jagung hanya menggambarkan kondisi ketersediaan jagung tanpa melihat jenis dan kebutuhan penggunanya, padahal terdapat perbedaan spesifikasi/jenis jagung yang akan dipergunakan untuk pakan, konsumsi ataupun keperluan industri lainnya.

Jagung lokal dengan spesifikasi kebutuhan pakan sebenarnya tersedia namun lokasinya di daerah-daerah yang terpencar dan tidak berdekatan dengan lokasi pabrik pakan. “Sejak November silam, pemerintah telah melakukan rapat koordinasi terbatas antarkementerian untuk mengantisipasi meroketnya harga jagung ini,” ujarnya.

Kementerian Perdagangan saat ini belum mengatur tata niaga impor jagung (dibebaskan). Itu artinya perdagangan ekspor impor maupun perdagangan di dalam negeri tidak ada hambatan. Impor jagung hanya mengikuti ketentuan prosedur kepabeananĀ  dan karantina dalam rangka keamanan pangan.

“Ke depan, kebijakan tata niaga dan ketersediaan jagung akan diatur secara komprehensif, bukan hanya untuk kepentinganĀ  sesaat tetapi menyeluruh serta seimbang antara kepentingan produsen/petani, pedagang, dan peternak sebagai konsumen jagung,” tegas Mendag.

Meski polemik sementara bisa diakhiri, toh para peternak yang terlanjur kecewa dengan aksi tahan jagung ini masih saja mengungkapkan kekecewaan mereka terhadap Menteri Pertanian Amran Sulaiman. Di Blitar, hari ini, Senin (1/2) para peternak unggas yang tergabung dalam Paguyuban Peternak Unggas Blitar menggelar aksi unjuk rasa menuntut turunnya harga jagung.

Aksi dilakukan di depan kantor pemkab Blitar sejak pagi. Massa melampiaskan kekecewaan dengan membawa berbagai spanduk yang mendesak Mentan agar mundur dari jabatannya. Para peternak Blitar mengaku kesulitan lantaran harga jagung di daerah itu melejit ke angka Rp7000 per kilogram.

Itupun barangnya tak tersedia. Akibatnya, harga pakan campur naik menjadi Rp6.500/kg yang memicu kenaikan harga telor menjadi Rp20.000/kg. Di harga itu, peternak masih tak bisa mengambil margin keuntungan. Kondisi ini sudah berlangsung selama tiga bulan sehingga peternak harus menyiasati pakan ternaknya dengan menggunakan nasi yang dikeringkan (karak).

Sementara itu, sebagai langkah cepat menurunkan harga jagung, Bulog hari ini, Senin (1/2) juga menggelar operasi pasar jagung. Operasi pasar dilakukan serentak di sentra-sentra peternakan rakyat. Secara simbolis hari ini akan diluncurkan di Cigading (Banten), Cirebon (Jawa Barat), Semarang (Jawa Tengah), dan Surabaya (Jawa Timur). Di Cigading, operasi pasar akan dihadiri oleh seluruh Direksi Bulog.

Untuk hari ini, Bulog akan mengedarkan 1000 ton jagung di Cigading, dan masing-masing 200 ton di Cirebon, Semarang, dan Surabaya. Untuk keperluan operasi pasar sampai dengan Maret 2016, Bulog akan menyiapkan 600.000 ton jagung. Operasi pasar ini akan terus dilakukan Bulog sampai harga jagung dianggap stabil. Operasi pasar ini juga diharapkan mampu menurunkan harga telor dan daging ayam. (*)

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *