Bak Sampah dan Semangat Sumpah Pemuda Nelayan Bunaken | Villagerspost.com

Bak Sampah dan Semangat Sumpah Pemuda Nelayan Bunaken

Para anggota kelompok nelayan Cahaya Tatapaan mulai menyusun bilah-bilah kayu untuk dijadikan bak sampah (dok. villagerspost.com/eko handoyo)

Bunaken, Villagerspost.com – Para nelayan dari kelompok swadaya masyarakat (KSM) Cahaya Tatapaan di Desa Popareng, Kecamatan Tatapaan, Kabupaten Minahasa Selatan, Sulawesi Utara, punya cara unik dalam memperingati Hari Sumpah Pemuda. Para nelayan yang sehari-harinya sudah terlatih untuk menjaga kelestarian alam di kawasan Taman Laut Bunaken itu, menghelat sebuah aksi unik yang menegaskan komitmen mereka dalam melestarikan lingkungan.

Kelompok yang di nahkodai oleh Djoni Sem Sambur, binaan Balai Taman Nasional Bunaken ini, merayakan Hari Sumpah Pemuda dengan menggelar aksi pembuatan bak sampah. Aksi pembuatan bak sampah itu dilaksanakan pada Senin (30/10) kemarin. Djoni Sem Sambur, sebagai ketua mengatakan, tema pembuatan bak sampah ini masih sejalah dengan aktivitas pengelolaan akses area perikanan di Popareng.

Dia melihat untuk menjaga kelestarian laut dan seisinya, maka daratan pun harus bersih dari sampah. Menurut Djoni, dia sangat miris melihat fenomena dan banyaknya sampah yang berada di pantai sering terbawa ke peraiaran laut. “Ironisnya (sampah) itu menutupi terumbu karang. Kita bisa ketahui bersama, dengan karang yang tertutupi sampah dapat memutih bahkan mati,” katanya, kepada Villagerspost.com.

Para nelayan mengaku tak kesulitan mengkreasi bak sampah karena mereka juga biasa bertukang (dok. villagerspost.com/eko handoyo)

Djoni menegaskan, merawat karang, menjadi bagian penting dalam menjaga kelestarian laut. “Karang menjadi habitat hidup ikan, dengan nelayan dan sebagain besar anggota kelompok Cahaya Tatapaan menggantungkan kehidupannya untuk mencari nafkah,” tegasnya.

Karena itulah, lomba membuat bak sampah ini menjadi penting, untuk membiasakan warga masyarakat Desa Popareng membuang sampah pada tempatnya, agar tidak mengotori laut dan mengancam kelestarian terumbu karang. Pada akhir lomba, para peserta berhasil membuat sejumlah 20 buah.

Bak sampah yang dibuat oleh anggota kelompok Cahaya Tatapaan itu akan ditempatkan di sepanjang pesisir pantai dan sudut-sudut kampung. Bendahara Lelompok Cahaya Tatapaan Lapian Poray mengatakan, dengan adanya bak sampah, diharapkan akan menjadi teladan bagi warga untuk sadar dengan lingkungan.

“Bahkan ke depan jika dikehendaki dapat dilanjutkan dalam bentuk program pemerintah, apalagi dana desa untuk aktivitas lingkungan hidup dan pemberdayaan masyarakat sangat besar, sehingga sampah yang dibuah dan tertampung akan diolah lagi menjadi suatu bentuk yang berguna,” kata Lapian Poray.

Bak sampah yang sudah jadi, akan dipasang di sepanjang pantai agar masyarakat tak lagi buang sampah sembarangan (dok. villagespost.com/eko handoyo)

Sekretaris Kelompok Cahaya Tatapaan Arifin Konteng mengaku, membuat bak sampah bukanlah hal yang sulit bagi para nelayan di kelompok tersebut. “Untungnya kami banyak yang tahu menjadi bas (tukang) sehingga dalam pembuatan bak sampah tidak begitu kesulitan, apalagi bahan yang mudah didapat seperti kayu dan bambu diambil di kebun anggota kelompok,” katanya.

Dia menegaskan, acara pembuatan bak sampah yang dilakukan kelompok Cahaya Tatapaan ini dilakukan secara swadaya alias menggunakan dana dari masyarakat sendiri. “Kami mengajak warga untuk sehat dan bersih, karena kita juga menunjang program pemerintah seperti Indonesia Bebas Sampah 2020,” ujarnya.

Para nelayan, kata Arifin, berharap akan ada perhatian dari pemerintah daerah ke depan sehingga dapat dibuatkan bak-bak sampah yang layak dan dikembangkan pula pelatihan dalam pengolahan menjadi suatu produk yang berguna. “Sebagaimana hal ini dapat pula dicontoh di desa-desa lainnya nanti,” pungkas Arifin Konteng. (*)

Laporan/Foto: Eko Handoyo, Manajer Kampanye Pride Bogor 6 di Balai Taman Nasional Bunaken, Jurnalis Warga untuk Villagerspost.com

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *