Bertanam Hidroponik Hemat-Efektif Lewat Modul Rangkai Paralon-Styrofoam Ala Gubug | Villagerspost.com

Bertanam Hidroponik Hemat-Efektif Lewat Modul Rangkai Paralon-Styrofoam Ala Gubug

Instalasi hidroponik dari rangkaian styrofoam dan paralon karya anak-anak GUBUG (dok. vilagerspost.com/suharjo)

Brebes, Villagerspost.com – Sukses bertanam sayuran secara hidroponik dengan menggunakan medium styrofoam tak membuat anak-anak muda Brebes yang tergabung dalam Generasi Muda Bergerak untuk Gemilang (GUBUG), cepat puas. Mereka menilai, medium tanam dengan menggunakan kotak styrofoam tak efektif.

Pasalnya, waktu mereka cukup tersita untuk mengisi masing-masing kotak styrofoam yang jumlahnya terus bertambah, dengan cairan nutrisi, sekaligus melakukan pengecekan kadar ppm nutrisi dalam cairan, sesuai umur tanaman. Karena itu, anak-anak GUBUG dari Desa Sidamulya, Kecamatan Wanasari, Kabupaten Brebes ini, kemudian kembali melakukan inovasi mengembangkan teknik bertanam hidroponik hemat-efektif dengan modul paralon dan sistem rangkai styrofoam.

Ketua GUBUG Aji menyampaikan, untuk pengadaaan instalasi menggunakan paralon ini, memang perlu modal yang cukup banyak. “Maka dalam diskusi persiapan disepakati bahwa setiap anggota diminta untuk iuran sebesar 100 ribu rupiah bagi yang sudah bekerja dan yang masih pelajar 50 ribu,” kata Aji kepada Villagerspost.com, Selasa (12/6)

Rapat persiapan pengembangan modul tanam hidroponik menggunakan paralon (dok. villagerspost.com/suharjo)

Dari iuran anggota ini, kemudia terkumpul uang sebesar Rp1 juta. Setelah uang terkumpul, Aji pun kemudian melakukan koordinasi dengan pihak komunitas hidroponik untuk membimbing anak-anak GUBUG membangun instalasi hidroponik dengan modul paralon.

“Dari yang sebesar 1 juta rupiah itu ternyata hanya bisa untuk merealisasikan pembuatan instalasi 3 paralon saja. Masing masing paralon panjangnya 4 meter dan diameter 3 inchi. Masing masing paralon mempuyai lubang tanam 20 buah degan jarak antar lubang tanam 20 cm,” kata Aji.

Anggota GUBUG Sukiswo mengatakan, bertanam sayuran hidroponik dengan menggunakan paralon memang hasilnya lebih baik. “Karena nutrisi dapat tersirkulasi dengan baik dengan adanya pompa namun perlu modal yang tidak sedikit. Maka perlu adanya terobosan baru untuk menghemat biaya dan hasilnya bagus,” ujarnya.

Sayuran yang ditanam di instalasi rangkaian styrofoam (dok. villagerspost.com/suharjo)

Dari berpikir bagaimana membuat modul yang hemat, murah dan hasil bagus inilah, kemudian tercetus ide merangkai styrofoam. “Prinsipnya seperti pada modul paralon, air nutrisi dapat tersirkulasi dengan baik,” ujar Sukiswo.

Tadinya, anggota GUBUG lainnya Imam Syafii mengusulkan agar modul paralon dan styrofoam digabung dimana paralon dirangkai untuk sambungan wadah mengalirkan cairan nutrisi. Namun Sukiswo punya ide lain untuk memotong saja sedikit bagian dari styfofoam agar bisa disambung dan di atasnya dibungkus dengan plastik agar cairna nutrisi bisa mengalir antar styrofoam.

Ternyata hasilnya memang lebih baik. Setiap rangkaian terdiri dari 5 kotak styrofoam dengan 25 lubang tanam. Biaya pun menjadi lebih murah karena satu rangkaian hanya membutuhkan biaya Rp25 ribu. Model sambungan paralon, selain lebih mahal, juga satu rangkaian hanya menghasilkan 20 lubang tanam saja dengan modal per rangkaian sebesar Rp120 ribu.

Sayuran yang ditanam pada rangkaian paralon (dok. villagerspost.com/suharjo)

Hanya saja dengan mempertimbangkan banyak hal, kedua modul tadi tetap dipakai. “Dari tingkat keawetan, menggunakan paralon lebih awet dan mudah dipindahkan. Sedangkan dengan rangkaian styrofoam lebih murah, lubang tanam lebih banyak, tetapi butuh ketekunan untuk merangkai dan ketika akan dipindahkan harus hati-hati karena rangkaian hanya menggunakan lakban jika tidak hati hati maka akan rusak atau patah di sambungan rangkaian,” kata Imam.

Dengan menggunakan kedua rangkaian ini, jenis sayuran yang ditanam GUBUG pun sudah bertambah. GUBUG kini sudah menanam beberapa jenis sayuran di antaranya ada bayam, pakcoy, selada hijau, selada merah, kangkung, pagoda, seledri dan samhong. Aji berharap budidaya sayuran hidroponik ini dapat berjalan dengan baik sehingga dapat menarik bagi kaum muda untuk bertani.

“Kami juga ingin mengadakan pelatihan atau pengenalan hidroponik pada anak-anak untuk memperkenalkan dunia pertanian kepada mereka dan juga lingkungan sekitar,” kata Aji.

Laporan/Foto: Suharjo, Petani Muda asal Desa Sidamulya, Brebes, Jawa Tengah, Jurnalis Warga untuk Villagerspost.com

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *