BUMDES SEMPU MANDIRI: Motor Pembangunan Ekonomi Warga Desa | Villagerspost.com

BUMDES SEMPU MANDIRI: Motor Pembangunan Ekonomi Warga Desa

Cocktail nanas adalah salah satu produk olahan BUMDES Sempu Mandiri selain minuman sari nanas yang sudah lebih dulu dipasarkan (dok. villagerspost.com/m. agung riyadi)

Kediri, Villagerspost.com – Sebagai sebuah lembaga, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Sempu Mandiri, Desa Sempu, Kecamatan Ngancar, Kediri, Jawa Timur, sebenarnya sudah berdiri sejak tiga tahun lalu. Namun entah mengapa, lembaga ekonomi desa ini kemudian mengalami masa mati suri yang cukup panjang. Namun, pada paruh akhir 2017 silam, BUMDes Sempu Mandiri mulai kembali menggeliat. Adalah Eko Suroso, kepala desa yang baru saja terpilih, yang memerintahkan agar BUMDes diaktifkan kembali.

Ketua BUMDes Sempu Mandiri Alip Suroso (46) mengatakan, pengaktifan kembali BUMDes Sempu Mandiri tak terlepas dari program pemberdayaan ekonomi desa yang dicanangkan sang kades. “Awalnya hanya berpikir tentang kesejahteraan masyarakat dengan cara memberdayakan masyarakat yang ada. Dengan adanya BUMDes ini kami memikirkan tentang program-program ke depan seperti usaha sari nanas, cocktail nanas, dan pengembangan produk-produk lokal lainnya,” ujar Alip, kepada Villagerspost.com, yang menemuinya beberapa waktu lalu.

Selain potensi berupa komoditas, BUMDes juga diniatkan untuk bisa ikut mengelola potensi pariwisata yang dikelola pihak swasta. “Yang potensial itu sektor wisata lokal, agrowisata tanaman anggrek, Kampung Indian dan pantai,” tambah Alip.

Namun, mengelola BUMDes memang tidak mudah. “Kita mengawali dengan belajar, sedikit demi sedikit karena terbatas modal. Kita mulai mencari modal,” ujar Alip.

Modal untuk BUMDes dikumpulkan mula-mula dari iuran antara sesama pengurus. “Belum ada dana desa yang tersedia, baru cair 10% saja dari tahun Desember 2017. Dengan modal awal berkisar 2 jutaan rupiah dan dalam bentuk barang (nanas, barang bahan dan alat),” kata Alip.

Dari jumlah yang serba sedikit itu, mulailah BUMDEs Sempu Mandiri memulai langkah usahanya. Yang pertama digarap adalah pengolahan nanas menjadi minuman kemasan sari nanas. Kebetulan, pihak pengelola wahana wisata Kampung Indian sebagai bentuk Corporate Social Responsibility (CSR), memberikan bantuan awal berupa peralatan seperti mesin pemeras nanas, alat memasak dan mesin untuk mengemas produk yang sudah jadi.

Pihak BUMDes Sempu Mandiri kemudian menyediakan tempat dan pekerja yang dilatih untuk itu. Maka jadilah BUMDes Sempu Mandiri menjalankan usaha produksi perdananya yaitu minuman sari nanas. Meski sudah mendapatkan bantuan berupa peralatan, pihak BUMDes tetap harus mengeluarkan modal awal dalam bentuk pembelian bahan baku nanas.

“Awalnya membeli bahan nanas langsung dari petani dengan harga 3200 rupiah untuk grade A. Ini di atas harga pasaran, modal untuk pembelian ya dari iuran sendiri itu tadi,” kata Alip.

Sebelum menjalankan lini produksi olahan nanas, BUMDes Sempu Mandiri memang sudah memulai usaha berupa membantu menjual hasil panen petani sekaligus menyangga harga agar tidak jatuh. Tak hanya nanas grade A, nanas grade B dan C pun diterima pihak BUMDes agar bisa dijual di atas harga pasar.

Jika nanas grade A dihargai tengkulak hanya sebesar Rp2500-Rp3000 per buah, BUMDes membelinya dari petani seharga Rp3200. Untuk nanas grade B, jika di tengkulak dihargai sebesar Rp1800 hingga Rp2000 per buah, maka oleh BUMDes dibeli seharga Rp2200.

Kapasitas BUMDes menyerap nanas petani ini bisa mencapai 8000 buah sekali angkut atau skeitar 24.000 buah dalam periode 3 kali pengangkutan setiap musim panen. “Dan itu masih jauh dari potensi desa Sempu yang mampu sampai 100.000 buah sekali panen. Petani melakukan pergiliran menanam nanas sehingga dapat panen terus menerus,” kata Alip.

Pihak BUMDes menjualnya ke wilayah Bali dan wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dengan harga yang lumayan. “Dipotong biaya transportasi, BUMDes mendapat selisih keuntungan yang lumayan untuk dikelola menjadi modal usaha,” papar Alip.

Alip mengakui, untuk pertambahan modal memang belum dilakukan penghitungan, namun setiap aktivitas bisnis BUMDes termasuk pengeluaran pribadi pengurus yang terpakai untuk kepentingan BUMDes, telah dicatat dengan rapi. “Untuk akumulasi modal masih belum dihitung lagi. Tapi diperkirakan modalnya sudah mulai besar dibandingkan awalnya. Setelah 6 bulan baru akan dilakukan penghitungan,” ujar lelaki berusia 46 tahun itu.

Dia mengaku ke depan aktivitas BUMDes akan semakin mampu membantu menyejahterakan masyarakat desa Sempu. “Ini baru satu lini yang berjalan, dan masyarakat telah dapat menerima manfaatnya dengan harga jual nanas yang baik,” tegas Alip.

Tentu, kata dia, menjalankan usaha jual-beli nanas ini tidak mudah. Dia mengakui pada mulanya memang sempat ada persaingan dengan para tengkulak. “Tapi tidak jadi masalah besar. Karena ada sebagian terserap oleh tengkulak juga. BUMDes menjadi penyelamat bagi petani karena BUMDes jadi penyangga bagi petani saat harga jatuh dan produksi tinggi,” terang Alip.

Sekarang, meski baru berupa rintisan, BUMDes sudah memulai usaha pengolahan nanas menjadi minuman sari nanas. Untuk bisnis ini, kapasitas produksi BUMDes Sempu Mandiri memang masih terhitung kecil. “Baru sekitar 29 kardus per hari, dengan kemasan 120 ml per cup, jadi sekitar 700-800 cup per hari,” terang Alip.

Meski masih kecil, olahan nanas ini punya potensi peningkatan nilai ekonomi yang sangat besar jika dibandingkan dengan menjual buah nanas semata. Apalagi nanas yang diolah umumnya di bawah grade A. “Kalau grade A kan harganya bagus, langsung dijual ke pasar,” terang Alip.

Dari 12-13 buah nanas grade B, kata Alip, dapat diproduksi sejumlah 350 cup minuman sari nanas. Satu cup minuman sari nanas, dijual BUMDes ke konsumen di harga Rp875 per cup. Jadi tanpa pengolahan, 12-13 buah nanas grade b yang harganya hanya senilai paling tinggi Rp2000 per buah, hanya akan menghasilkan uang sebesar Rp26.000 maksimal. Sedangkan jika diolah menjadi minuman sari nanas bisa menghasilkan Rp306.000.

Karena potensi olahan nanas yang besar ini, maka ke depan, pihak BUMDes juga akan mengembangkan bentuk olahan lainnya seperti yang saat ini sudah dimulai pelatihannya adalah pembuatan cocktail nanas. Selain itu, ada juga rencana mengolah nanas menjadi dodol nanas, keripiki nanas dan nanas kering kemasan, serta bentuk olahan lainnya seperti selai nanas.

Namun, kata Alip, untuk sementara ini, BUMDes akan fokus mengembangkan produk minuman sari nanas. Selain tengah menyiapkan sertifikasi untuk BPOM dan sertifikasi halal, BUMDes juga akan berkonsentrasi meningkatkan kapasitas produksi mencapai 720 karton sebulan. “Kita ingin meningkatkan kualitas mesin dan peralatan yang lebih modern dan tidak mengurangi pemberdayaan masyarakat,” kata Alip.

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *