Cahaya Tatapaan Masuk Nominasi Indonesia Sustainability Tourism Award 2017 | Villagerspost.com

Cahaya Tatapaan Masuk Nominasi Indonesia Sustainability Tourism Award 2017

Acara pemberian penghargaan nominasi ISTA 2017 (dok. villagerspost.com/eko handoyo)

Jakarta, Villagerspost.com – Usaha keras para nelayan yang tergabung dalam Kelompok Cahaya Tatapaan, Desa Popareng, Kecamatan Tatapaan, Minahasa Selatan untuk menerapkan pengelolaan perikanan berkelanjutan, mulai menampakkan buah nyata. Tak hanya berupa terjaganya stok ikan di wilayah penangkapan, namun juga berupa penghargaan dari pemerintah.

Tahun ini, Kelompok Cahaya Tatapaan masuk nominasi Nominasi Indonesia Sustainability Tourism Award (ISTA) 2017. ISTA sendiri merupakan ajang penghargaan bagi destinasi serta entitas pemangku kepentingan pariwisata yang telah berkomitmen menerapkan prinsip-prinsip pariwisata berkelanjutan. Tahun ini ISTA 2017 mengusung tema “People and Nature Based Tourism”.

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan, perhelatan ISTA 2017 bersesuaian dengan Peraturan Menteri Pariwisata No. 14 Tahun 2016 tentang Pedoman Destinasi Pariwisata Berkelanjutan. “Inilah yang dijadikan sebagai acuan bagi pemerintah, pemerintah daerah (pemda), dan pemangku kepentingan lainnya dalam pembangunan destinasi pariwisata berkelanjutan,” ujar Arief Yahya, beberapa waktu lalu.

Cahaya Tatapaan sendiri masuk nominasi karena upayanya menjalankan prinsip-prinsip sesuai dengan kriteria yang ditetapkan dalam ISTA. Cahaya Tatapaan merupakan kelompok pendampingan Balai Taman Nasional Bunaken. Cahaya Tatapaan menjalankan implementasi perikanan di zona tradisional dalam Pengelolaan Akses Area Perikanan (PAAP) Fish Forever kemitraan antara Balai TN Bunaken dan Rare Indonesia periode 2014-2017.

Ketua Kelompok Nelayan Cahaya Trans Berce Toli mengatakan, aktivitas penting yang dilakukan kelompok Cahaya Tatapaan adalah mengukur panjang dan berat ikan sebagai bagian monitoring terhadap kelangsungan sumber daya perikanan di kawasan konservasi. “Tujuannya agar terpantau kestabilan ikan tangkapan dan mencegah terjadinya tangkapan berlebih yang mengakibatkan menyusutnya pendapatan serta by cacth atau tangkapan ikan yang tidak berguna,” katanya kepada Villagerspost.com, Rabu (3/10).

Cahaya Tatapaan selain menjalankan aktivitas monitoring tangkapan, juga menjalankan wisata terbatas dan wisata desa, dengan mengelaborasikan tatakelola dengan pengelolaan perikanan. “Aktivitas rutin lainnya adalah pertemuan mingguan yang dilakukan setiap hari Minggu, menabung walaupun dengan jumlah yang kecil serta menginisiasi bersih pantai sebagai bagian dari Indonesia Bebas Sampah 2020,” tambah Berce.

Inisiatif inilah yang membuat tatakelola yang diinisiasi oleh akar rumput menguatkan DMO Bunaken dan direkomendasikan untuk mengikuti pendaftaran ISTA 2017. Walaupun Cahaya Tatapaan bentuk penghargaan itu baru berupa nominasi, namun apresiasi pemberian nominasi yang dilaksanakan di Hotel Bidakara Jakarta tanggal 27 September 2017 itu memberikan kesan mendalam bagi para anggota kelompok.

Mereka bisa berdiri sejajar dengan 17 kelompok masyarakat dengan berbagai kategori yang masuk nominasi ISTA 2017. “Sebagai kelompok baru berkembang dan dalam proses penguatan kapasitas serta jati diri, Cahaya Tatapaan mampu mendobrak kemajuan kelompok level akar rumput dari kategori pengelolaan lingkungan hidup,” tegas Berce.

Laporan/Foto: Eko Handoyo, Manajer Kampanye Pride Bogor 6 di Balai Taman Nasional Bunaken, Jurnalis Warga untuk Villagerspost.com

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *