Cegah Illegal Fishing, Pemerintah Dorong Importir Beli Ikan Langsung dari Indonesia | Villagerspost.com

Cegah Illegal Fishing, Pemerintah Dorong Importir Beli Ikan Langsung dari Indonesia

Produk ikan hasil tangkapan nelayan (dok. kementerian kelautan dan perikanan)

Produk ikan hasil tangkapan nelayan (dok. kementerian kelautan dan perikanan)

Jakarta, Villagerspost.com – Makin tingginya permintaan ikan asal Indonesia dari pasar luar negeri, membuat pemerintah mendorong agar buyer membeli langsung ikan dari Indonesia. Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kementerian Perdagangan Arlinda mengatakan, ermintaan produk perikanan itu tidak hanya datang dari Taiwan, tapi juga Jepang, Australia, India, Malaysia, Singapura, RRC, Kanada, Honduras, dan Filipina.

Menurut Arlinda, para buyer mencari pemasok baru produk perikanan untuk menjaga keberlanjutan pasokan ikan di negaranya, yang berkurang akibat perubahan iklim dan perbedaan musim panen. Karena itulah Kemendag juga mendorong para buyer membeli produk perikanan langsung dari Indonesia tanpa melalui negara perantara.

“Pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk mengurangi praktik illegal fishing dan mengurangi pencurian ikan. Salah satunya dengan mendorong para buyer yang sebelumnya mendapatkan ikan melalui negara perantara, untuk mulai mendapatkan suplai ikan langsung dari Indonesia,” kata Arlinda dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Kamis (24/11).

Naiknya permintaan atas produk perikanan dan seafood Indonesia tercermin dari pameran Taiwan International Fisheries & Seafood Show (TIFSS) 2016 yang berlangsung pada 9-11 November 2016 lalu di Kaohsiung, Taiwan. Pada pameran itu, produk perikanan Indonesia berhasil membukukan estimasi kontak dagang senilai US$9,78 juta.

Sejumlah produk yang diminati banyak negara antara lain bandeng, cumi, tenggiri, rajungan, layur, ribbon fish, king fish, lobster, cuttlefish, ikan marlin, ikan wahoo, ikan tuna, gurita, fish seedings, pasteurized crab meat, udang, dan hasil laut olahan. Dalam pameran itu, ditampilkan aneka produk perikanan dan hasil laut yang dipasok dari delapan perusahaan produk perikanan dan hasil laut.

Kedelapan perusahaan tersebut adalah PT Nusantara Alam Bahari, CV Bintang Mandiri Waskito, PT Samudra Kencana Mina, PT Natural Nutrisi Global, Cahaya Bahari Jakarta, PT Pasific Harvest, PT Sekar Laut, dan PT Sukses Jaya Makmur. TIFSS 2016 merupakan pameran produk perikanan dan peralatan perikanan berskala internasional yang diikuti 328 peserta lokal dan mancanegara yang menempati 410 stan. Peserta mancanegara berasal dari Korea, Jepang, Vietnam, Indonesia, Malaysia, Peru, Brasil, Amerika Serikat (AS), India, Thailand, Israel, Bahrain, dan Inggris.

Pameran tersebut berhasil menarik lebih dari 8.500 pengunjung dari dalam dan luar negeri. Dalam lima tahun terakhir, ekspor produk perikanan ke Taiwan tumbuh sebesar 8,76% dengan nilai ekspor sebesar US$62,33 juta pada 2015. Ekspor produk perikanan ke Taiwan didominasi oleh sotong dan cumi beku, kering, atau diasinkan; dan ikan beku. Produk lain yang diekspor ke Taiwan di antaranya ikan segar, fillet ikan, dan makarel beku.

Pada saat dan di tempat yang sama, Indonesia juga berpartisipasi pada Taiwan International Fruits & Vegetables Show (TFVS) 2016 pada 10-12 November 2016. Animo para buyer cukup positif jika dilihat dari capaian kontak dagang sebesar USD 1,01 juta.

“Produk yang diminati antara lain buah kaleng, bekicot dalam kaleng, dan sayur mayur berupa kubis, sawi, wortel, jahe, dan kacang hijau. Minat yang tinggi hendaknya diimbangi dengan teknologi penanganan, penyimpanan, serta pengolahan buah dan sayur yang tepat agar dapat memenuhi standar yang diinginkan oleh buyer dan pasar dunia,” kata Kepala KDEI Taiwan Robert J. Bintaryo.

Promosi ini bertujuan memperluas jaringan pemasaran produk buah dan sayuran Indonesia. Kali ini, KDEI Taipei bekerja sama dengan Ditjen PEN memfasilitasi dua eksportir Indonesia, yaitu PT Inni Pioneer Food Industry dan PT Goexindo Universal Sentosa. Dalam TFVS 2016, Paviliun Indonesia menampilkan berbagai jenis buah kaleng, buah kering, dan bekicot kaleng serta sayur-sayuran seperti kubis, wortel, jahe, kopi robusta, sawi putih, dan kentang.

TFVS 2016 mengusung tema “Innovative Chain Industry”. Pameran ini dikunjungi sekitar 5 ribu buyer, baik lokal maupun dari seluruh dunia. Sebanyak 183 ekshibitor dari 13 negara, antara lain Indonesia, AS, Jepang, Malaysia, Selandia Baru, Afrika Selatan, Cina Daratan, Thailand, Australia, Korea Selatan, dan Vietnam yang menempati 260 stan dalam area seluas 5.058 m2. (*)

Ikuti informasi terkait perikanan >> di sini <<

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *