Dampak El Nino, Stok Pangan Aman tak Perlu Impor | Villagerspost.com

Dampak El Nino, Stok Pangan Aman tak Perlu Impor

Sawah di wilayah Jawa Barat mengalami kekeringan dan terancam gagal panen (infopublik.id)

Sawah di wilayah Jawa Barat mengalami kekeringan dan terancam gagal panen (infopublik.id)

Jakarta, Villagerspost.com – Dampak El Nino yang membawa kekeringan di Indonesia memang membuat ratusan ribu hektare sawah terancam gagal panen alias puso. Kementerian Pertanian sendiri mengatakan, saat ini ada sekitar 17.000 hektare sawah mengalami puso.

Hanya saja menurut Menteri Pertanian Amran Sulaiman, meski terkena dampak El Nino, cadangan pangan nasional untuk beberapa bulan ke depan tetap aman. Cadangan pangan saat ini mencapai 1,5 jta ton sehingga tidak perlu melakukan impor pangan.

“Stok tersebut dianggap aman sehingga tidak perlu impor, karena impor adalah pilihan paling terakhir,” kata Amran, seusai mengikuti rapat terbatas yang membahas masalah dampak El Nino, di kantor Presiden, Jakarta, Kamis (6/8) sore seperti dikutip setkab.go.id.

Amran Sulaiman mengemukakan, Kementerian Pertanian sudah melakukan antisipasi El Nino lebih awal sejak Januari, dengan membangun irigasi tersier, sampai dengan hari ini berjumlah 1,3 juta hektare. Kemudian juga ada pompa kurang lebih 21 ribu unit.

“Yang kita antisipasi adalah bulan September-Oktober. Tetapi kita sudah melakukan langkah-langkah antisipasi seperti pompanisasi, embung, dam parit, dan sumur dangkal,” kata Amran.

Langkah-langkah antisipasi itu, kata Mentan, semua sudah jalan. Fisik saat ini untuk irigasi tersier 1,3 juta hektar. Pompa juga sudah diserahkan kepada petani. Menurut Mentan, lahan di Indonesia yang termasuk endemis kekeringan ada sejumlah 200 ribu hektare. Tahun lalu, sekitar 159 ribu hektare mengalami kekeringan, banjir, dan hama.

“Tahun ini, karena ada antisipasi lebih awal, karena dengan membentuk¬† tim khusus bernama Upsus (Upaya Khusus), kita berhasil menyelamatkan kurang lebih 100 ribu hektar,” jelas Amran.

Mentan berharap, dengan telah dilakukannya berbagai macam langkah antisipasi menghadapi El Nino, proyeksi produksi padi dapat mencapai 75,5 juta ton, sesuai dengan angka ramalan (aram) Badan Pusat Statistik (BPS).

Dikatakan Mentan, Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga sudah memaparkan di akhir Oktober sudah ada hujan. “Jadi mudah-mudahan kemarau tidak sampai lebih dari bulan Oktober,” ujarnya

Daerah-daerah yang kira-kira masih akan mengalami kekeringan, menurut Mentan, adalah Jawa Barat mencakup: Indramayu, Cirebon; Jawa Tengah: Demak, Pati, Grobogan; Jawa Timur: Bojonegoro; dan NTT: Timor Tengah Selatan.

Rapat terbatas membahas masalah dampak El Nino itu sendiri dipimpin langsung oleh Presiden Joko Widodo didampingi Wakil Presiden Jusuf Kalla. Presiden menegaskan, dampak ini harus diantisipasi baik di bidang pertanian, kehutanan, dan perikanan.

“Yang paling penting, masalah yang terkait dengan sawah, ladang yang kemungkinan gagal panen akibat kekeringan,” kata Presiden Jokowi.

Menurut Presiden Jokowi, dari kunjungannya minggu lalu ke Jawa Timur, dilaporkan oleh gubernur bahwa dampak El Nino ini tidak ada. “Mereka menyampaikan dapat dikatakan sangat kecil sekali, karena sebentar lagi mereka juga akan memasuki pada bulan-bulan September yang juga nantinya cukup besar,” terang Jokowi.

Sementara pada saat kunjungannya ke Sulawesi Selatan, menurut Presiden Jokowi, juga disampaikan oleh Gubernur Sulawesi Selatan bahwa produksi beras di sana juga tidak ada masalah, karena sebentar lagi, bulan September yang akan datang juga akan ada panen raya yang cukup besar.

“Inilah di lapangan yang saya tahu, tetapi mungkin di daerah-daerah yang lain Menteri Pertanian bisa menyampaikan,” kata Presiden Jokowi. (*)

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *