Dari 74 Ribu Desa, Jumlah BUMDEs Sudah Mencapai 32 Ribu | Villagerspost.com

Dari 74 Ribu Desa, Jumlah BUMDEs Sudah Mencapai 32 Ribu

Ilustrasi Badan Usaha Milik Desa (dok. kemendesa pdtt)

Jakarta, Villagerspost.com – Jumlah Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) kini sudah mencapai hampir separuh dari jumlah desa yang ada di Indonesia. Data Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendesa PDTT) menyebutkan, dari jumlah 74 ribu-an desa, saat ini terdapat sebanyak 32 ribu-an BUMDes.

“BUMDes yang sudah berjalan diberi bantuan Rp50 juta untuk tambahan modal usaha,” kata Dirjen Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (PPMD) Kemendesa PDTT, saat berdialog dengan para kepala desa dan pendamping desa di aula Kantor Desa Maniskidul, Kecamatan Jalaksana, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, Kamis (31/5).

Dalam dialog dengan para kepala desa tersebut ia mengatakan, BUMDes merupakan salah satu dari empat program prioritas Kementerian selain Produk Unggulan Kawasan Perdesaan (Prukades), Embung air desa, dan sarana olahraga desa. “Dalam jelajah desa ramadan ini kami ingin dapatkan gambaran sekaligus progress report terutama tentang empat program prioritas kementerian desa,” ujarnya.

Sejak tahun 2015 hingga 2018 lanjutnya, telah disalurkan dana desa sebesar Rp187 Triliun. Ia mengingatkan kepala desa agar berhati-hati menggunakan dana desa. Meski demikian ia menjamin kepala desa agar tidak takut dikriminalisasi jika tidak melakukan tindakan korupsi. “Dan ingat, 30 persen dari total (dana) pembangunan, bukan biaya pagu, untuk pembayaran upah pekerja. Jadi dana desa tidak boleh pakai kontraktor,” terangnya.

Menanggapi hal ini, Plt Bupati Kuningan Dede Sembada mengatakan, sangat mendukung program BUMDes yang dicanangkan oleh kementerian desa, pembangunan daerah tertinggal, dan transmigrasi. Keseriusan tersebut diwujudkan melalui dukungan dengan menyusun regulasi BUMDes melalui Perbub dan Perda.

Selain itu, Pemda kuningan juga telah membentuk asosiasi BUMDes untuk memperkuat jaringan BUMDes di Kabupaten Kuningan. Di Kabupaten Kuningan sendiri telah terbentuk 160 BUMDes dari 361 desa. “Kemarin baru saja Kabupaten Kuningan dinobatkan sebagai kabupaten terbaik penyaluran dana desa. Sekarang tahap pertama dana desa sebanyak 20 persen sudah disalurkan,” ungkapnya

Dari puluhan ribu BUMDes yang sudah berdiri, yang bisa mencapai sukses meraup omset ratusan juta hingga miliaran memang masih dalam hitungan jari. Salah satu contoh BUMDes yang berhasil adalah BUMDes Desa Ponggok, Kecamatan Polanharjo, Klaten, Jawa Tengah. Dengan andalan objek wisata Umbul Ponggok, BUMDes Tirta Mandiri Desa Ponggok bisa meraup omset hingga Rp12 miliar.

“Ponggok dulu masih tertinggal, potensinya belum tergali. Dulu tahun 2007 ketika kami awal menjadi Kepala Desa kami bingung, Ponggok ini banyak air, tapi kami bingung mau mengolahnya seperti apa,” ujar Kepala Desa Ponggok, Junaedhi Mulyono.

Mulyono mengatakan, untuk mengembangkan BUMDes, hal yang pertama dibutuhkan selain potensi adalah permasalahan dan data. Dalam hal ini ia meminta kerjasama dari LPPM UGM untuk mengirimkan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik di desanya hingga tiga tahun berturut-turut.

Adapun KKN pertama fokus pada penelitian permasalahan desa seperti kemiskinan, pengangguran, dan sebagainya. Selanjutnya KKN ke dua fokus pada potensi desa, kemudian KKN ke tiga fokus pada pemberdayaan ekonomi.

“Akhirnya kami dulu berpikir bagaimana mengolah ini seperti skripsi. Ada tantangan, banyak pengangguran, banyak rentenir, akhirnya kami bersurat ke UGM minta diadakan KKN tematik. Kami ajak untuk penelitian masalah yang ada. Karena kalau mau pengembangan, maka data yang diperlukan,” terangnya.

Ia mengakui bahwa menjadikan BUMDes berhasil bukanlah pekerjaan yang mudah, sehingga butuh komitmen besar untuk menjalankannya. Maka tidak heran jika banyak desa yang kebingungan dalam mengelola BUMDes. “Nah ini harus dikembalikan ke tujuan visi dan misi desa. Dari sini kita akan ketemu potensi desa mau diolah seperti apa,” ujarnya.

Keberhasilan BUMDes juga tak melulu diukur dari sukses secara finansial. BUMDes Sukamenak, Kecamatan Margahayu, Kabupaten Bandung misalnya, bisa dibilang berhasil karena mampu berperan mengatasi krisis air yang dialami desa.

Ketua BUMDes Sukamenak Efendi berkisah, BUMDes Sukamenak yang saat ini dipimpinnya bergerak dalam pengelolan air bersih dengan modal awal sebesar Rp15 juta. Dana itu berasal dari bantuan hibah Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung. Dana tersebut dipakai untuk membangun infrastruktur pengelolaan air bersih tingkat desa.

Effendi mengatakan, hingga saat ini BUMDes Sukamenak telah memiliki pelanggan sebanyak 700 kepala keluarga. “Pelanggan semuanya warga Desa Sukamenak,” paparnya.

Air bersih yang dikelola BUMDes Sukamenak, bersumber dari tiga sumur bor yang dibangun di wilayah tersebut. Air yang dialirkan ke rumah-rumah pelanggan itu harganya dibandrol sebesar Rp1000 per meter kubik. Dari usaha pelayanan air bersih itu, BUMDes Sukamenak berhasil meraih omset rata-rata sebesar Rp19 juta per bulan.

Dana itu diputar lagi untuk permodalan sebanyak Rp9 juta untuk biaya listrik, gaji pengelola sebanyak 15% dan alokasi untuk desa 10% dari omset. Keuntungan bersih tiap bulan setelah dikurangi berbagai beban biaya mencapai Rp4 juta.

Pengelolan air bersih yang bertempat di lahan carik desa tersebut, tambah Effendi, permintaanya sangat tinggi, namun dirinya mengaku tidak bisa memenuhi semua karena keterbatasan volume air. “Untuk memenuhi permintan itu kami saat ini tengah merancang meningkatkan volume air yang telah ada,” katanya.

Satu lagi potensi wisata yang bisa digali adalah objek wisata Cibulan di Desa Maniskidul, Kecamatan Jalaksana, Kuningan, Jawa Barat. Objek wisata ini memiliki situs bersejarah yang memiliki daya tarik tersendiri bagi pengunjung, sehingga ramai dikunjungi wisatawan dan mampu menyumbang Pendapatan Asli Desa (PADes) hingga Rp1,4 miliar per tahun.

Dirjen Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (PPMD) Kemendesa PDTT Taufik Madjid berharap, hadirnya objek wisata Cibulan dapat memberikan manfaat dan membantu menggerakkan ekonomi desa setempat.

“Kami Kementerian Desa sebisa mungkin memberikan support. Karena yang disetor ke desa sebagai Pendapatan Asli Desa ini Rp1,4 miliar per tahun. Berarti pendapatannya lebih dari Rp1,4 miliar,” ujarnya.

Destinasi wisata yang dikelola oleh swasta bekerjasama dengan desa ini memiliki ragam spot wisata seperti kolam yang berisi ikan-ikan penuh mitos yakni ikan dewa, terapi ikan, saung lesehan, dan destinasi tujuh sumur peninggalan Prabu Siliwangi. Tujuh sumur ini sendiri adalah sumber mata air berbentuk kolam yang memiliki nama berbeda-beda, di antaranya sumur kejayaan, sumur kemulyaan, sumur pengabulan, sumur cirancana, sumur cisadane, sumur kemudahan, dan sumur keselamatan.

“Sangat bagus. Pengembangan destinasi wisata ini dikombinasikan dengan pemeliharaan aset desa, kearifan lokal. Di sini ada tujuh sumber mata air peninggalan Prabu Siliwangi. Ini punya nilai lebih. Harus dikapitalisasikan oleh desa,” ujarnya.

Melihat keunikan alam wisata tersebut Taufik yakin Wisata Cibulan akan menjadi objek wisata primadona Kabupaten Kuningan. Menurutnya, Wisata Cibulan tak kalah cantik dengan objek wisata Umbul Ponggok di Desa Ponggok, Klaten. “Kami merasa takjub pertama datang ke Kuningan langsung ke objek wisata Cibulan ini di desa Maniskidul. Desa Maniskidul patut bersyukur memiliki tempat ini,” ujarnya.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments
One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *