Delegasi Aceh Pelajari Solusi Pendanaan Konservasi untuk Kawasan Ekosistem Leuser | Villagerspost.com

Delegasi Aceh Pelajari Solusi Pendanaan Konservasi untuk Kawasan Ekosistem Leuser

Delegasi Aceh bersama Direktur Eksekutif Canopy, Nicole Rycroft, dan Menteri Lingkungan dan Iklim British Columbia, Nicole Rycroft (dok. HAkA Sumatera)

Jakarta, Villagerspost.com – Beruang di Kanada dan Orangutan Sumatra di Aceh kini bersaudara. Beruang berwarna putih yang dikenal sebagai beruang kermode atau Spirit Bear, hidup di Kawasan Great Bear Rainforest, provinsi British Columbia, Kanada. Hal itu tercermin dari kunjungan delegasi Pemerintah dan Parlemen dari Aceh ke Great Bear Rainforest, Provinsi British Columbia, Kanada, minggu lalu. Di sana, mereka belajar mengenai opsi-opsi pembangunan ekonomi berbasis konservasi yang bisa menyelamatkan Kawasan Ekosistem Leuser (KEL).

Model pendanaan konservasi yang menitikberatkan pada pembangunan ekonomi masyarakat telah diterapkan di Great Bear Rainforest sejak 2007 dan merupakan salah satu model finansial paling komprehensif dan berskala terbesar di dunia. Keunggulan ekonomi Great Bear Rainforest bergantung pada perlindungan satwa langka seperti beruang hitam, beruang Grizzly, dan beruang bermode yang hidup di sana, bersama dengan serigala, dan berbagai jenis paus yang melewati perairan tersebut.

Kawasan ekosistem Leuser merupakan tempat terakhir di dunia dimana orangutan, gajah, badak dan harimau masih tinggal bersama di alam. Perlindungan Kawasan Ekosistem Leuser memainkan peran penting untuk pembangunan ekonomi ke depan.

Para Delegasi Konservasi dan Pendanaan Hijau Aceh diundang oleh Canopy, sebuah organisasi nirlaba lingkungan internasional. Delegasi ini terdiri dari para pemangku kebijakan politik di Aceh dan para ketua lembaga swadaya masyarakat di Aceh. Dalam kunjungan selama lima hari tersebut, Menteri Koordinator Lingkungan dan Iklim British Columbia, Kanada George Heyman, para pemimpin First Nations, bersama dengan para eksekutif finansial, bisnis dan yayasan filantropi memberikan presentasi mengenai pendanaan konservasi (Green financing) dan peluang yang dapat dihasilkan untuk membangun ekonomi hijau lokal berskala besar.

Delegasi yang diundang adalah Teuku Irwan Djohan (Wakil Ketua DPRA), Azhari (Kepala BAPPEDA ACEH), Mursil (Bupati Aceh Tamiang), Raidin Pinim (Bupati Aceh Tenggara) dan tim asistennya, Ahmad Ubaidi, Farwiza Farhan (Ketua Yayasan HAkA), Rudi Putra (Direktur FKL) dan Wahdi Azmi (Direktur ACCI-Aceh Program).

Pada akhir kunjungan, Wakil Ketua DPRA Teuku Irwan Djohan mengaku yakin model ekonomi konservasi yang ada di Great Bear Rainforest, Kanada, bisa menjadi fondasi atau model yang bisa dipakai untuk Aceh agar bisa mengembangkan masyarakat yang sejahtera sekaligus melindungi Kawasan Ekosistem Leuser.

“Semangat saya bangkit untuk bekerja dengan kolega saya di Aceh untuk mencapai visi tersebut bersama dengan partner baru yang kami temui di Kanada,” ujarnya, dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Sabtu (15/9).

Justin Winters, Direktur Eksekutif Leonardo Di Caprio Foundation, mengatakan, Kawasan Ekosistem Leuser adalah salah satu hutan hujan paling berharga di dunia dan mempunyai potensi untuk mendatangkan investasi hijau untuk pembangunan berkelanjutan berbasis masyarakat, perencanaan konservasi dan perlindungan skala besar yang ada di Great Bear Rainforest, Kanada. “Ada keinginan dari yayasan filantropi untuk mendukung kepemimpinan konservasi di lanskap sebesar Kawasan Ekosistem Leuser,” ujarnya.

Pertemuan ini juga membicarakan bagaimana pendanaan konservasi dikembangkan dan disusun di Great Bear Rainforest dan model pendanaan konservasi seperti apa yang bisa dikembangkan di Kawasan Ekosistem Leuser. Para delegasi juga berkesempatan untuk mengunjungi Great Bear Rainforest yang indah dan melihat bisnis dan inisiatif seperti apa yang dikembangkan oleh masyarakat First Nation dengan bantuan investasi pendanaan konservasi.

Para delegasi melihat langsung bagaimana masyarakat yang hidup di sekitar Great Bear Rainforest memperoleh pendapatan dua kali lipat semenjak berganti kepada ekonomi berbasis konservasi. Delegasi, ahli dan peserta panel telah berkomitmen untuk bekerja sama untuk mengembangkan rencana pendanaan konservasi di Aceh yang mencakup perlindungan Kawasan Ekosistem Leuser.

Kunjungan ini adalah awal dari hubungan kerja yang erat antara para ahli di British Columbia dan Pemerintah Aceh. Bidang-bidang dari kolaborasi tersebut meliputi pertama, memulai hubungan kerja antara Menteri Lingkungan Hidup British Columbia dan Kantor Pembangunan Berkelanjutan Aceh. Kedua, hubungan kerja antara Pemerintah Aceh dan Otoritas Pelabuhan Vancouver

Ketiga, kolaborasi akademik, pertukaran pelajar dan beasiswa antara Universitas di Aceh dan Universitas British Columbia. Keempat, pembelajaran silang antara program Guardian Watchmen yang bekerja untuk melindungi integritas ekologi daerah terpencil di Great Bear Rainforest dan mereka yang berada di Kawasan Ekosistem Leuser.

Kelima, pembelajaran silang antara program ekowisata berbasis komunitas yang sukses di Hutan Hujan Great Bear dan masyarakat yang hidup di Kawasan Ekosistem Leuser. Keenam, dukungan dari ahli konservasi dan pendanaan konservasi di Kawasan Ekosistem Leuser. Konsul Jenderal Indonesia akan mendukung kolaborasi di masa depan yang membutuhkan keterlibatan mereka.

Nicole Rycroft, Direktur Eksekutif Canopy menambahkan, dengan adanya revisi rencana revisi RTRW Aceh, Aceh mempunyai kesempatan untuk mengejar jalan pembangunan yang berbeda dengan industrialisasi yang banyak kita lihat di daerah lain. “Para pemangku kebijakan di Aceh punya kekuatan untuk memanfaatkan keindahan alam Aceh yang sangat kaya sebagai fondasi kesuksesan ekonomi hijau dan masyarakat yang sejahtera sekaligus melindungi Kawasan Ekosistem Leuser. Tanpa inisiatif ini, satwa penting, seperti orangutan dan harimau, akan semakin punah,” ujarnya.

“Mengingat krisis iklim dan keanekaragaman hayati yang terjadi di bumi, kita benar-benar tidak mampu menanggung dampak jika Kawasan Ekosistem Leuser ini hilang,” sambung Justin Winter.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *