Desa Kalensari Berdayakan Petani Muda Lewat Latihan Penulisan Populer | Villagerspost.com

Desa Kalensari Berdayakan Petani Muda Lewat Latihan Penulisan Populer

Para petani muda serius menyimak pemaparan dari pemateri dalam acara pelatihan penulisan populer yang dihelat pemerintah desa Kalensari, Indramayu dan Gerakan Petani Nusantara (dok. gerakan petani nusantara/dedi siswoyo)

Para petani muda serius menyimak pemaparan dari pemateri dalam acara pelatihan penulisan populer yang dihelat pemerintah desa Kalensari, Indramayu dan Gerakan Petani Nusantara (dok. gerakan petani nusantara/dedi siswoyo)

Indramayu, Villagerspost.com – Puluhan pemuda yang terdiri dari unsur Karang Taruna dari beberapa desa di Kabupaten Indramayu, tampak antusias mengikuti program pelatihan menulis populer bertajuk “Menulis Itu Asik”. Pelatihan tersebut, diselenggarakan di Pendopo Desa Kalensari, Kecamatan Widasari, Indramayu, Jawa Barat. Pelatihan yang dilaksanakan pada Sabtu-Minggu, 23-24 Juli itu diselenggarakan atas kerjasama pemerintah Desa Kalensari dengan Gerakan Petani Nusantara.

Kuwu, atau Kepala Desa Kalensari H. Masroni dalam sambutannya saat membuka acara tersebut mengatakan, pelatihan penulisan populer ini sangat penting dan bermanfaat untuk para pemuda desa. “Poin pentingnya adalah, bagaimana sesuai tema, ada peningkatan kapasitas petani muda dan aparatur desa demi menuju pertanian yang berdaya memuliakan petani, khususnya petani muda,” ujarnya.

Masroni mengingatkan, pemuda-pemuda desa adalah harapan desa di masa depan. “Pemuda adalah pemimpin masa depan, karena itu peningkatan kapasitas pemuda penting dalam rangka regenerasi kader masa depan untuk membangun desa di masa depan,” tambah Masroni.

Karena itu, kata Masroni, dia tak segan menggerakkan pemuda dari delapan desa di Kecamatan Widasari untuk mengikuti pelatihan ini. Ada sejumlah 47 pemuda dari delapan desa diantaranya Kalensari, Bunder, Kongsijaya, Kasmaran, Ujung Pendok dan Widasari yang hadir mengikuti acara pelatihan tersebut.

Selain itu, hadir pula para mahasiswa dari Universitas Wiralodra Indramayu yang kebetulan tengah mengadakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Kalensari.

Sementara itu, Said Abdullah dari Gerakan Petani Nusantara yang bertindak selaku fasilitator acara itu mengatakan, para petani muda dan anak-anak muda yang tinggal di desa merupakan bagian penting dari pembangunan desa ke depan. “Pembangunan dunia pertanian ke depan akan diisi orang muda yang kreatif dan inovatif,” ujarnya.

Diharapkan dengan terjunnya pemuda membangun desa, ke depan akan tercipta kondisi dimana petani punya kemuliaan. “Profesi petani akan punya harga diri, berdaya secara ekonomi, petani tidak lagi digambarkan sebagai sosok yang tua, miskin, susah. Yang bisa mengubah semua itu adalah anak muda,” tegasnya.

Mengapa petani muda harus mampu menulis? Said pun mengutip kata-kata dari sastrawan Pramudya Ananta Toer. “Karena kau menulis, suaramu tak akan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh di kemudian hari,” ujarnya.

Said kemudian memaparkan contoh, betapa anak-anak muda lewat tulisan baik itu di media massa maupun media sosial, dapat menggerakkan perubahan. “Masih ingat kasus koin Prita?” kata Said.

Dia kemudian mengingatkan betapa Prita yang mengalami kasus malpraktik kemudian mencurahkan perasaan hatinya lewat media sosial. Pihak rimah sakit yang tak terima dengan ungkapan hati Prita itu kemudian menggugat Prita dan diminta membayar ganti rugi yang nilainya sangat besar.

Sejarah kemudian mencatat, lewat sebuah tulisan di media sosial oleh seorang anak muda, masyarakat tergerak menggalang dana yang dikenal dengan gerakan “koin untuk Prita” yang ternyata menjadi gerakan sosial yang manjur untuk menekan arogansi pihak rumah sakit dan aparat penegak hukum.

Contoh lain adalah apa yang dilakukan change.org yang lewat petisi kasus Setia Novanto, ternyata mampu membuat pengambil keputusan di negeri ini melengserkan Novanto dari kursi ketua DPR. Sayangnya, saat ini, media sosial belum banyak digunakan anak-anak muda, khususnya di desa, untuk membuat sesuatu yang positif.

“Anak muda sekarang lebih kenal facebook ketimbang alat-alat pertanian, Facebook belum digunakan untuk membuat perubahan ke hal yang positif. Padahal dengan modal itu, pemuda bisa membuat perubahan di desa Kalensari,” ujarnya.

Karena itu, dia berharap dengan pelatihan penulisan ini, pemuda Kalensari mampu mendayagunakan berbagai saluran media itu untuk melakukan perubahan. “Ke depan, dengan pelatihan ini juga diharapkan tumbuh kesadaran membangun jejaring informasi di antara petani muda sebagai inisiasi awal gerakan sosial petani muda,” pungkasnya. (*)

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *