Distribusi Raskin Harus Dievaluasi | Villagerspost.com

Distribusi Raskin Harus Dievaluasi

Distribusi raskin di daerah (dok. kabupaten kulonprogo)

Distribusi raskin di daerah (dok. kabupaten kulonprogo)

Jakarta, Villagerspost.com – Buruknya kualitas beras untuk rakyat miskin (raskin) yang didistribusikan Perum Bulog, masih terus menjadi masalah. Anggota Komisi IV DPR Endang Srikarti Handayani mengaku, dirinya mendapat banyak keluhan terkait masalah itu. Karena itu, Endang mendesak agar Bulog mengevaluasi distribusi raskin. Pasalnya, kata Endang, saking buruknya kualitas raskin, penerima sampai enggan untuk mengkonsumsinya.

“Saya minta manajemen Bulog wajib dievaluasi. Karena Bulog-Bulog di daerah kinerjanya kurang bisa dipercaya. Dapat dilihat dari kualitas berasnya tidak bagus, mutunya menurun,” kata Endang, di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (16/11).

Endang mengatakan, selama masa reses kemarin, dia melakukan kunjungan ke berbagai daerah di daerah pemilihannya yaitu Jawa Tengah V. Dari pertemuan dengan masyarakat, dia mendapat keluhan soal kualitas raskin yang tak layak konsumsi itu.

“Kulitas beras yang buruk ditemukan di dapil saya. Pada saat reses kita kumpulkan masyarakat khususnya penerima raskin itu, dan lurahnya kita kumpulkan semuanya. sejauh mana implementasi raskin,” kata Endang.

Dari berbagai informasi lapangan yang diperoleh, menurut Endang, buruknya kualitas raskin bermuara pada permasalahan pendistribusian di Bulog. Sistem penyimpanan yang kurang baik menyebabkan beras menurun kualitasnya. “Jadi bukan karena masalah produksi beras di petani,” ujarnya.

Sesuai dengan hasil sidak yang dilakukan Endang, rusaknya beras karena penyimpanan yang tidak bagus. Selain itu menurut dia ada praktik-partik kecurangan antara Bulog dan tengkulak beras, dua pihak ini dianggap mengoplos beras bagus dengan beras buruk.

Karena itu dia meminta, Dirut Bulog beserta jajarannya melakukan evaluasi internal. Dia mengatakan Bulog selama ini sulit diajak berkomunikasi untuk mendiskusikan solusi pemecahan masalah. “Bulog diajak komunikasi susah. Perbaikan ini butuh komunikasi,” ujar Endang.

Dia meminta jajaran Bulog jangan hanya berpedoman dari laporan normatif saja, namun melakukan pemantauan langsung agar dapat mengatasi masalah yang masih kerap terjadi. “Dirut dan jajaranya harus melakukan evaluasi ke bawah. Jangan hanya percaya dengan laporan-laporan,” tandasnya.

Masalah kualitas beras miskin yang buruk sebelumnya juga ditemukan di Perum Bulog Subdivre Bandung. “Kepala Gudang Bulog menyampaikan jenis beras raskin yang ada sudah sesuai, namun harus kita cek lagi, apakah jika dimasak bagus atau tidak, karena kami melihat warnanya agak kuning. Yang penting buat kami, untuk raskin harus mengutamakan kualitas, untuk apa kita bagikan kalau akhirnya tidak bisa dimanfaatkan oleh masyarakat,” kata Ketua Tim Kunjungan Kerja Spesifik Komisi IV DPR Edhy Prabowo usai meninjau Gudang Bulog di Bandung, Jawa Barat, beberapa waktu lalu.

Edhy mengaku kecewa karena beras yang kualitasnya buruk itu ternyata baru 10 hari tersimpan di gudang Bulog, alias masih relatif baru. “Kalau dilihat pecahan berasnya masih bagus, cuma warnanya saja yang agak gelap, tetapi sebenarnya masih ada yang lebih parah dari itu. Kalau melihat dari waktu kedatangan beras baru 10 hari, berarti beras raskin ini masih baru, intinya ada hal yang harus diperbaiki,” terang Edhy.

Dalam kesempatan itu, Wakil Ketua Komisi IV Herman Khaeron menyarankan agar Bulog mencantumkan stempel pada setiap karung beras untuk menandai pemasoknya, kadar kerusakan beras dan kadar air. Dalam temuan beras miskin di Bandung, stempel itu tak ada sama sekali.

“Saya juga heran kenapa kosong, apakah ini terkait dengan persoalan yang terjadi di Solo pada waktu itu, supplier keberatan untuk dicantumkan? Menurut saya stempel ini menjadi penting, selain berguna untuk pengawasan, hal ini dimaksudkan kepada seluruh supplier dan mitra kerja Bulog agar mempunyai tanggung jawab terhadap berbagai tuntutan masyarakat, terutama terhadap kualitas dari raskin,” ujarnya,

Ikuti informasi terkait raskin >> di sini <<

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *