DPR Bentuk Panja, Klarifikasi Isu Susu Kental Manis | Villagerspost.com

DPR Bentuk Panja, Klarifikasi Isu Susu Kental Manis

Produk kental manis diminta tak lagi pakai tagline susu (dok. kaskus)

Jakarta, Villagerspost.com – Polemik soal susu kental manis (SKM) masih terus berlajut. Kali ini Komisi IX DPR berinisiatif membentuk panitia kerja untuk mengklarifikasi fakta tentang kandungan yang ada dalam susu kental manis (SKM).

Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Ermalena mengatakan, polemik tentang SKM perlu ditelusuri secara mendalam, karena diduga masih ada kesalahan tafsir atas pengonsumsian SKM yang melibatkan anak-anak. “Ini kan menyangkut anak-anak, kalau anak-anak banyak mengonsumsi susu kental manis yang mengandung susu ataupun tidak mengandung susu ini kan untuk tumbuh kembang anak ke depan bahaya,” ujarnya saat menjelaskan hasil Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi IX DPR RI dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Senin (9/7) petang.

Panja SKM ini nantinya akan memanggil pihak terkait yang terlibat dalam polemik SKM ini, termasuk memanggil industri yang memproduksi SKM. “Kami akan memanggil pihak-pihak yang terkait. Termasuk industrinya kita akan panggil. Kita sudah minta BPOM segera memberikan list-nya kepada kita. Karena ini kan tanggung jawab kita supaya masyarakat tidak bingung,” jelas Ermalena.

Komisi IX DPR RI, kata politikus PPP itu, memberikan atensi yang cukup serius tentang kasus SKM. Meskipun terkesan sederhana, namun jika kasus ini tidak ditangani secara benar bisa berbahaya bagi konsumen. Dan jika nanti dalam penelusuran panja ditemukan permasalahan yang serius, bukan tidak mungkin produk SKM akan ditarik dari perederan.

Namun, menurut Ermalena sejauh ini belum ada alasan untuk memberhentikan atau menarik produk SKM. “Belum ada. Ini kan karena masih simpang pendapat. Kalau memang nanti di Panja ditemukan masalah yang serius, bisa saja itu terjadi. Karena yang penting sekarang masyarakat aman, berhak untuk mendapatkan yang terbaik,” papar Ermalena.

Pada kesempatan terpisah Kepala BPOM Penny Kusumastuti Lukito menegaskan, susu kental manis tetap bisa dikonsumsi oleh masyarakat. Namun, susu kental manis bukan untuk pengganti susu bayi di bawah lima tahun.

“Susu kental manis tetap bisa dikonsumsi oleh masyarakat, tapi bukan untuk bayi di bawah lima tahun. Ini karena komposisi gizinya yang rendah dan kandungan gula serta lemaknya yang tinggi sehingga tidak cocok untuk pertumbuhan balita. Apalagi sebagai penganti ASI,” kata Penny, saat menggelar konferensi pers, Senin (9/7).

Karena itu, kata dia, beberapa produk susu kental manis yang menggunakan anak kecil sebagai media iklan merupakan hal yang bisa menyesatkan apabila tidak segera diatur. “Terdapat beberapa iklan dan label produk susu kental manis yang menggunakan anak kecil sebagai media iklan. Sehingga sekarang ini kita tengah mempersiapkan aturan tersebut yang melarang menampilkan gambar anak kecil di label dan iklan, agar masyarakat tidal salah persepsi tentang hal ini,” tambah Penny.

“Dalam proses membuat susu kental manis itu hanya sedikit susu asli yang digunakan, lalu dikonsentrasikan dan diberi gula dan krimer sebagai bahan pengawet,” jelasnya.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (GAPMMI), Adhi S. Lukman menegaskan bahwa SKM benar-benar terbuat dari susu. “Mereka ada dua sumber susu, sumber susu segar dari ternak dan susu bubuk. Susu kental manis mereka menggunakan susu, jadi ada gizi makro dan mikronya,” ujarnya.

Meskipun menyebutkan SKM terbuat dari susu, Adhi tetap menegaskan bahwa SKM bukan merupakan susu pengganti susu formula apalagi untuk anak-anak di bawah lima tahun. Untuk lebih meyakinkan masyarakat, Adhi menawarkan media untuk meliput proses pembuatan SKM.

“Mungkin kalau teman-teman media mau melihat langsung proses itu, tadi saya mendapatkan izin diperkenankan oleh produsen. Bahwa itu diambil dari susu peternak, kemudian diolah dan dikondens dan sebagainya,” jelasnya.

Adhi menegaskan, GAPMMI mengapresiasi langkah cepat BPOM mengenai kesalahan dalam iklan dan label pada beberapa produsen SKM. Adhi juga mengatakan bahwa konsep salah mengenai iklan dan label harus segera dibenarkan. “Sepakat untuk memenuhi apa yang diperintahkan BPOM. Sejak isu terkait ini, dan pelaku usaha sudah mentaati iklan-iklan yang sebagaimana mestinya,” ujarnya.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *