DPR: Pabrik Gula di Situbondo Harus Tetap Eksis | Villagerspost.com

DPR: Pabrik Gula di Situbondo Harus Tetap Eksis

Pabrik gula Olean, salah satu yan akan ditutuppemerintah (dok. kabupaten situbondo)

Pabrik gula Olean, salah satu yang akan ditutup pemerintah (dok. kabupaten situbondo)

Jakarta, Villagerspost.com – Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menilai, pabrik-pabrik gula milik BUMN di Situbondo, Jawa Timur harus tetap dipertahankan eksistensinya. Imbauan ini disampaikan DPR terkait rencana pemerintah menutup tiga pabrik gula tua yang bernilai sejarah di Situbondo yaitu, Pabrik Gula (PG) Wringin Anom, PG Panji dan PG Olean.

Anggota Komisi VI Nasim Khan mengatakan, rencana penutupan ketga pabrik gula itu telah membuat resah masyarakat Situbondo, khususnya para petani gula. “Keresahan penutupan ketiga PG di Situbondo ini berawal dari kesepakatan re-grouping yang ditanda tangani oleh seluruh Direktur diantaranya PT PN IX, X dan XI, malapetaka besar bagi petani tebu di Situbondo maupun pekerja harian di tiga PG tersebut,” kata Nasim Khan dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Senin (23/1).

Pihak Komisi VI DPR sendiri telah melakukan kunjungan spesifik ke ketiga pabrik gula di Situbondo tersebut, pada Jumat (20/1) kemarin. Kunjungan itu dilakukan sebagai tindak lanjut Rapat Dengar Pendapat Umum DPRD Situbondo dengan Komisi VI DPR.

Nasim Khan mengatakan, rencana penutupan ketiga PG di Situbondo itu dilakukan tanpa adanya riset atau penelitian mendalam, khususnya terkait potensi sumber alam lahan tebu di wilayah itu. Selain itu, pemerintah juga dinilai tidak mempertimbangkan dampak penutupan ketiga PG itu bagi masyarakat Situbondo.

“Maka dari itu, saya datang membawa anggota dan Ketua Komisi VI DPR RI untuk mengecek langsung situasi ketiga PG ini, layak apa tidak ditutup, kami wakil rakyat tetap akan memperjuangkan nasib pekerja atau petani tebu khususnya dari tiga PG ini dan kami bertekad memperjuangkan BUMN,” kata politisi PKB itu.

Anggota DPR dari dapil Jatim III yang mencakup Situbondo, Bondowoso dan Banyuwangi itu mengatakan, eksistensi atau keberadaan ketiga pabrik gula itu di Situbondo harus tetap dipertahankan. Dengan demikian, kesejahteraan petani tebu tidak terganggu. Selain itu, kata Nasim, selama ini Situbondo sudah sangat terkenal sebagai tanah gula.

“Semuanya memperjuangkan ingin menjaga pabrik gula di Situbondo. Jadi kita mengecek dan objektif. Kalau karena area, Situbondo mewadahi karena daerah ini sudah sangat terkenal sebagai tanah gula,” jelas Nasim.

Nasim menegaskan, akan terus memperjuangkan keberadaan pabrik gula di Situbondo. Sebagai wakil rakyat daerah Situbondo, ia akan memperjuangkan agar petani tebu didaerahnya tidak kehilangan mata pencaharian. “Sekarang tiga pabrik ini oke dijadikan satu pabrik modern tapi tetap di Situbondo sehingga bisa mengakomodir seluruh kesejahteraan masyarakat di Situbondo,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Komisi VI DPR Azam Azman Natawijana mengatakan, Komisi VI bersama pemerintah pun masih akan melakukan kajian ekonomi yang lebih mendalam terkait rencana tersebut. Azam juga meminta agar petani tebu agar tidak resah dengan rencana penutupan tiga pabrik gula tersebut.

Dia menyebut, rencana penutupan pabrik gula tersebut masih pada tahap wacana. “Saya berharap petani tebu disini jangan resah karena penutupan tiga PG masih rencana, dan kami bersama pemerintah masih akan melakukan kajian ekonomi yang lebih dalam terkait rencana penutupan sejumlah pabrik gula di Jawa Timur,” kata Azam.

Dia mengtakan, rencana pemerintah menutup ketiga pabrik gula dilakukan bukan karena tidak peduli dengan masyarakat Situbondo. Menurut Azam, pemerintah berencana merevitalisasi pabrik gula yang tidak efisien jadi lebih efisien karena ketiga PG di Situbondo masih menggunakan teknologi lama (sejak zaman kolonial Belanda) dan tertinggal jauh bila dibandingkan dengan pabrik gula milik swasta. Azam berharap, dengan adanya revitalisasi itu, justru petani tebu bisa meningkatkan kesejahteraannya.

Hal senada juga disampaikan Direktur Operasional PT Perkebunan Nusantara XI Mochammad Cholidi. Dia meminta agar rencana penutupan tiga PG di Situbondo agar tidak dilihat dari sisi negatif karena rencana penutupan PG tidak lain untuk efisiensi. “Dengan tetap menggunakan mesin uap konversi rendah tentunya dalam operasional ketiga PG di Situbondo akan mengalami inefisiensi,” ujarnya.

Cholidi menuturkan, penataan kembali pabrik gula setidaknya harus dilihat dari peremajaannya. “Agar stigma pabrik gula milik BUMN yang tidak bisa bersaing dengan pabrik gula milik swasta hilang,” tegasnya. (*)

Ikuti informasi terkait pabrik gula >> di sini <<

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *