Dulu Dibuang, Sekarang Jadi Uang | Villagerspost.com

Dulu Dibuang, Sekarang Jadi Uang

Produk olahan daging buah pala hasil produksi kelompok tani perempuan Bayang Bungo, Sumatera Barat (dok. villagerspost.com)

Pesisir Selatan, Villagerspost.com – Buah pala, sejak zaman dahulu memang telah menjadi komoditas perkebunan yang menjanjikan. Meski begitu, dari seluruh bagian buah pala, umumnya hanya bijinya saja yang dijadikan komoditas andalan sebagai bahan bumbu masak. Semantara kulit dan buahnya jarang dimanfaatkan.

Demikian pula dengan para petani pala di Nagari Kapujan Koto Berapak, Kecamatan Bayang, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat. “Di sini umumnya, ibu-ibu tidak memanfaatkan daging buah pala, mereka hanya ambil bijinya dan daging buahnya dibuang,” kata Rena Sari (45 tahun), anggota Kelompok Tani Bayang Bungo Indah, kepada Villagerspost.com, Kamis (8/2).

Kelompok Bayang Bungo Indah adalah kelompok tani yang terdiri dari ibu-ibu di Nagari Kapujan Koto Berapak, yang mengelola usaha pengolahan pala. Kebiasaan membuang daging buah pala itu mulai ditinggalkan semenjak para anggota kelompok mendapatkan bimbingan lewat program Pengelolaan Hutan Untuk Kesejahteraan Perempuan (PHUKP) yang di fasilitasi oleh Walhi dan WRI pada tahun 2016-2017 lalu.

Sejak saat itu, daging buah pala yang tadinya dibuang-buang, kini justru diolah menjadi uang oleh para perempuan di kelompok tani Bayang Bungo. “Sejak kami mengolah daging buah pala menjadi produk olahan telah berdampak pada meningkatnya pendapatan anggota kelompok,” kata Rena.

Daging buah pala tesebut dimanfaatkan untuk membuat sirup pala, minuman sari buah pala, dan selai pala yang memiliki harga jual lumayan tinggi. Rena sendiri bertugas sebagai pengontrol kualitas produk olahan daging buah pala di kelompoknya. “Selain diajarkan mengolah daging buah pala, kami juga diberikan pelatihan cara pengemasan dan memasarkan produk pala,” ujarnya.

Pelatihan tersebut diadakan tanggal 16-17 Desember silam di kantor Dinas Koperasi dan UMKM. “Kami bertemu GM (general manager-red) Hotel Bumi Minang, beliau tertarik dengan produk kami terutama sirup pala dan dicoba untuk pengunjung hotel dan respons-nya sangat baik sehingga sampai sekarang kami tetap memasok produk kami ke hotel tersebut,” papar Rena.

Meski sudah punya pelanggan tetap, Rena mengaku, masih ada kendala yang dihadapi para anggota. Pertama, produksi kaum ibu kelompok Bayang Bungo ini memiliki izin PIRT (Produk Industri Rumah Tangga). Kedua, juga belum terdaftar di dinas kesehatan.

Meski begitu, para anggota kelompok tak berdiam diri, mereka saat ini masih terus berupaya untuk mendapatkan izin-izin tersebut agar produk-produk mereka semakin bisa dipasarkan secara luas. Rena bercerita, pada tanggal 30 Januari 2018 lalu, kelomponya telah dikunjungi oleh petugas dari Dinas Pariwisata Kabupaten Pesisir Selatan.

“Dalam kunjungan tersebut kami merasa bangga karena mendapatkan respons yang sangat baik dan memberikan masukan untuk cara cepat mendapatkan PIRT,” ujarnya.

Para anggota kelompok Bayang Bungo juga mendatangi Dinas Kesehatan Pesisir Selatan dan juga direspons baik. “Tanggal 6 Februari 2018 kami dikunjungi oleh Dinas kesehatan untuk bisa mengeluarkan izin Depkes, dan itu akan berjalan secepatnya, tapi dalam hal ini Dinas Kesehatan baru akan menguarkan izin untuk sirup pala, kalau sari buah dan selai pala belum bisa dikeluarkan izin karena belum bisa tahan lama dan rasa cepat berubah,” kata Rena.

Walaupun demikian kelompok Bayang Bungo masih mampu menghasilkan pendapatan yang lumayan dari produk mereka. “Kami sudah bisa merasakan hasil dari penjualan sirup pala mulai dari Desember 2017 sampai sekarang sudah mendapatkan lebih kurang sudah mendapatkan keuntungan 2,5 juta rupiah,” katanya.

Laporan/foto: Amelia Eka Putri, S.Pd, Bendahara Kelompok Tani Bayang Bungo, Pesisir Selatan, Jurnalis Warga untuk Villagerspost.com

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *