Erna Leka: Pejuang Aspirasi Perempuan Petambak Udang | Villagerspost.com

Erna Leka: Pejuang Aspirasi Perempuan Petambak Udang

Erna Leka, memperjuangkan aspirasi perempuan petambak di Bumi Dipasena (dok. kiara)

Erna Leka, memperjuangkan aspirasi perempuan petambak di Bumi Dipasena (dok. kiara)

Jakarta Villagerspost.com – Sejak kecil, Erna Leka tak pernah bermimpi hidupnya bakal penuh dengan perjuangan. Lahir dari keluarga keluarga pekerja, ia bermimpi bisa mempunyai keluarga kecil yang bahagia. “Mimpinya ya jadi istri solehah, berjuang untuk keluarga, ya kalau sekarang jadi seperti ini saya juga bingung ya kenapa bisa begini,” kenangnya. Erna jelas tak pernah menyangka bahwa kini dia menjadi salah satu tokoh perempuan petambak yang memiliki peran penting dalam memajukan usaha sesama perempuan petambak, khususnya di pertambakan Bumi Dipasena, Lampung.

Sudah lebih dari 3 tahun Erna berjuang mendorong perempuan petambak untuk mendapatkan ruang menyampaikan aspirasi dan pendapat di tengah budaya patriarki yang berkembang di daerahnya. Erna Leka menjadi motor pengerak bagi kesadaran perempuan atas pangan, ia mampu mendorong perempuan di daerah melihat potensi lokal yang dimiliki menjadi produk bernilai ekonomis.

Saat ini, ia dipercaya menjadi Dewan Presidium Persaudaraan Perempuan Nelayan Indonesia (PPNI) dan menjadi anggota dari Bareta (Barisan Relawan Wanita)/PPNI Lampung. Saat ini lebih dari 200 perempuan terlibat dalam akftivitas pemberdayaan ekonomi dan mendorong perempuan petambak terlibat dalam ruang-ruang strategis seperti perumusan Naskah Akademik RUU Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan, Pembudidaya Ikan dan Petambak Garam.

Jalan perjuangan Erna dimulai sejak dia menikah dengan Ainul Mukhlis atau lebih dikenal dengan panggilan Pak Tanjung. Setelah menikah, Era dibawa berhijrah dari Palembang ke Lampung. Di sana, Erna menemukan situasi yang sama sekali lain dari yang biasa dia temui. Sepanjang mata memandang, yang terlihat hanya tanah kosong. Begitulah pemandangan yang ditatapnya ketika pertama kali tiba di Kampung Bumi Dipasena.

Erna Leka bersama Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti (dok. oxfam)

Erna Leka bersama Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti (dok. bareta ppni)

“Jarak satu rumah ke rumah lainnya itu jauh-jauh. Awalnya sepi banget, dipikir gimana kami hidup ini. Tapi kita percaya sedang berusaha, kerja, ya ibadah. Jadi rasa sepi itu lama-lama berkurang dan kami seperti menemukan keluarga baru,” ucap Erna Leka gembira.

Perusahaan yang pertama kali bekerjasama dengan pembudidaya di Rawajitu Timur adalah PT Dipasena Citra Darmaja. Bisnis udang terbesar se-Asia Tenggara mulai dibangun sejak tahun 1988. Setahun kemudian mulai beroperasi pertambakan dengan pola Tambak Inti Rakyat. Pola Tambak Inti Rakyat merupakan pola kemitraan yang digunakan di Bumi Dipasena selama bertahun-tahun, di mana pembudidaya sebagai plasma dan perusahaan sebagai Inti. Kurang lebih 9.000 pembudidaya menggarap 16.500 hektare lahan bekas rawa.

Namun, tidak selamanya hubungan antara para pembudidaya Bumi Dipasena dengan perusahaan berjalan harmonis. Skema inti plasma yang diterapkan di Bumi Dipasena malah menjerumuskan para pembudidaya pada Deadly Bondage Slavery atau Perbudakan yang Mengikat dan Mematikan. Pembudidaya udang Bumi Dipasena tidak dapat menentukan sendiri harga jual udangnya, tidak diperbolehkan menonton televisi dengan siaran tertentu, tidak diperbolehkan keluar-masuk Bumi Dipasena tanpa persetujuan perusahaan.

Setelah PT Dipasena Citra Darmaja, pembudidaya bekerjasama dengan PT Aruna Wijaya Sakti, anak perusahaan PT Central Proteinaprima. Perilaku perusahaan ini tidak jauh berbeda dengan pendahulunya. “Puncaknya tahun 2011, listrik kami dimatikan oleh perusahaan. Kami hidup gelap-gelapan, udang kami mati, rugi, sampai ada yang kena setrum,” tambah Erna.

Keadaan di Bumi Dipasena kian sulit, kemarau panjang di tahun 2015 membuat stok air bersih semakin berkurang. Mereka yang bergantung pada air hujan mulai berhemat. Tempat penampung air untuk wadah air hujan kian menyusut tiap harinya. Namun, jika mereka ingin mendapatkan air bersih, mereka harus membeli air dari Gunung Tiga dengan harga 1 kempu (1.000 liter) dengan harga Rp150.000. Air sebanyak 1.000 liter hanya dapat digunakan selama 3 hari jika satu keluarga memiliki 2-3 orang anak.

Di tengah permasalahan yang terjadi di Bumi Dipasena, perempuan pembudidaya memiliki peran penting. Ketika para pembudidaya berjuang, perempuan pembudidaya menjadi penyokong utama dalam kegiatan berbudidaya. Mulai dari membantu memberi pakan, membersihkan lingkungan sekeliling tambak dari rumput liar, hingga saat panen.

Kontribusi perempuan pembudidaya dalam menjalankan roda budidaya udang di Bumi Dipasena merupakan satu-kesatuan dengan perjuangan P3UW. Perempuan menjadi jantung dalam gerakan mandiri bagi para pembudidaya udang di Bumi Dipasena.

Ibarat kendaraan, P3UW (Perhimpunan Petambak Pengusaha Udang Windu Wilayah Lampung) adalah organisasi penting bagi perjuangan pembudidaya di Bumi Dipasena. P3UW adalah corong perjuangan, hingga akhirnya kemandirian diraih pasca “bercerai” dari perusahaan. “Ibu-ibu pembudidaya dan anak-anak itu selalu mau berada di garis depan kalau ada kegiatan aksi waktu itu, karena kami tahu semua harus diperjuangkan dengan terhormat,” cerita Erna Leka.

Hamparan pertambakan Bumi Dipasena (dok. oxfam)

Hamparan pertambakan Bumi Dipasena (dok. p3uw lampung)

Erna Leka mulai terlibat dalam kegiatan Persaudaraan Perempuan Nelayan Indonesia (PPNI) sejak tahun 2013. Perempuan pembudidaya di Bumi Dipasena menjadi bagian gerakan perempuan nelayan di Indonesia. “Kami berdiri bersama dengan perempuan nelayan yang tergabung di dalam PPNI, sama-sama mendorong pemerintah untuk mengakui keberadaan kami,” urai Erna Leka.

Erna Leka sadar, belum ada satu kebijakan pun yang mengakui keberadaan dan peran perempuan pembudidaya. Di dalam Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perikanan dan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1964 tentang Bagi Hasil Perikanan belum memberikan pengakuan. “Sebenarnya, diakui atau tidak diakui, kami tetap ada dan memenuhi kebutuhan pangan bangsa. Tapi kami sadar, itu hak kami, untuk diakui oleh negara dan difasilitasi setelah kami berjuang untuk bangsa ini,” harap Erna.

Ketika ditanya mimpi besar perempuan pembudidaya di Bumi Dipasena, ia menjawab: “Negara mau mengakui perempuan nelayan dan memastikan perempuan nelayan dilindungi dan diberdayakan”.

Facebook Comments
No Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *