Eropa Hapus Sawit dari Daftar Biofuel, Pemerintah Diminta Bertindak | Villagerspost.com

Eropa Hapus Sawit dari Daftar Biofuel, Pemerintah Diminta Bertindak

Industri pengolahan minyak sawit nasional (dok.agro.kemenperin.go.id)

Jakarta, Villagerspost.com – Parlemen Uni Eropa menghapus minyak sawit atau Crude Palm Oil (CPO) dri daftar bahan bakar terbarukan (biofuel) pada 2021 mendatang. Keputusan itu diambil pada Rabu (17/1) lalu waktu setempat.

Menanggapi keputusan Parlemen UE itu, Ketua Komisi IV DPR RI Edhy Prabowo meminta pemerintah untuk bertindak dan menyiaplan langkah-langkah antisipasi dampak keputusan ini yaitu berupa penurunan nilai ekspor sawit.

“Saya lihat Malaysia sudah cukup marah, pemerintah Indonesia juga tidak boleh tinggal diam, harus menyiapkan langkah-langkah preventif karena akan berdampak langsung kepada petani kita,” kata Edhy, dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Jumat (19/1).

Edhy mengatakan, kelapa sawit adalah salah satu komoditas strategis nasional dan banyak menyerap tenaga kerja. Diperkirakan 17 juta warga Indonesia, termasuk petani kecil yang menggantungkan hidupnya dari industri kelapa sawit.

Tercatat, total ekspor sawit Indonesia pada 2016 didominasi oleh tiga negara dan kawasan, yakni India 24%, Uni Eropa 15% dan China 11,4%. Artinya Uni Eropa menjadi salah satu pasar utama ekspor minyak nabati tersebut.

Edhy berharap keputusan Parlemen Uni Eropa terkait resolusi sawit masih bisa direvisi. Menurutnya, dari beberapa pertemuan dengan Parlemen Uni Eropa, DPR selalu menegaskan bahwa sawit bukan masalah pelanggaran HAM, deforestasi, dan human trafficking seperti yang mereka tuding.

“Walaupun 15 persen saja, namun nilainya hampir 4 milliar dollar. Karenanya, saya sangat menyesalkan keputusan itu, seolah-olah selama ini peran diplomasi kita tidak diakui. Kalau memang akan diperlakukan begitu, kita bisa perlakukan hal yang sama. Tidak ada gunanya kita lanjutkan hubungan dengan Uni Eropa, kenapa tidak,” ujarnya.

Keputusan menghapus sawit dari daftar bahan bakar terbarukan ini sendiri diambil melalui pemungutan suara. Sebagian besar anggota Parlemen Eropa yaitu berjumlah 492 orang menyetujui larangan konsumsi sawit sebagai bahan dasar biofuel. Sementara itu, anggota parlemen yang menolak sebanyak 88 orang dan 107 menyatakan abstain.

Salah satu poin dalam proposal tersebut menyebutkan bahwa penggunaan sawit di Uni Eropa akan berakhir pada 2021, yang menjadi periode awal diterapkannya undang-undang konsumsi energi Eropa yang baru.

Sementara itu, anggota Komisi IV sekaligus anggota Badan Kerjasama Antar Parlemen (BKSAP) DPR Hamdhani juga menyayangkan disahkannya resolusi tersebut. Ia menilai, Parlemen Uni Eropa telah mencederai hubungan multilateral Indonesia dengan uni eropa yang cukup signifikan.

Menurutnya, keputusan Parlemen Uni Eropa tersebut turut ditunggangi persaingan dagang yang sangat kuat antara minyak nabati sawit dan rapeseed oil. Pasalnya, sejak tahun 2013, Indonesia bersama Malaysia telah mendominasi pasar sawit dunia. Keduanya menguasai 86% dari total pasar global.

“Dengan penolakan seperti ini, pemerintah harus segera bersikap. Teknisnya seperti apa, Kemenlu, DPR termasuk BKSAP dan GAPKI juga harus dilibatkan. Kita tidak mentolerir hal ini, karena akibatnya pasti akan berpengaruh terhadap sawit kita,” ujar Hamdhani.

Sementara itu, pemerintah sendiri tampaknya tidak telalu khawatir dengan langkah Parlemen Uni Eropa ini. Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan, pemerintah akan membuka pasar baru. “Kami tidak khawatir ekspor CPO ke Uni Eropa diblok. Yang kami lakukan sekarang, diversifikasi produk ekspor, buka pasar baru,” ujarnya.

Enggar malah yakin Eropa bakal kesulitan jika kebijakan menutup pintu masuk bagi produk minyak kelapa sawit diterapkan. Pasalnya, selama ini, kebutuhan CPO Eropa sangat tinggi, misalnya untuk kebutuhan pembuatan sabun oleh perusahaan asal Eropa Unilever.

Menurut Enggar, Uni Eropa tidak mungkin menghentikan ekspor CPO yang masuk ke negara-negara Eropa. “Ketergantungan untuk sawit itu tinggi sekali. Derivatifnya (turunan produk) itu banyak sekali. Kalau sekarang tiba-tiba dihentikan bagaimana dengan sabun,” tegasnya. (*)

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *