Gelar Klinik Tanaman IPB di Indramayu | Villagerspost.com

Gelar Klinik Tanaman IPB di Indramayu

Para pakar penyakit tanaman berbagi ilmu dengan petani di tiga desa di Indramayu (dok. villagerspost.com/prihatin)

Indramayu, Villagerspost.com – Dalam satu pekan belakangan ini, para pakar penyakit tanaman dan mahasiswa dari Institut Petanian Bogor (IPB) menggelar acara yang banyak ditunggu para petani, yaitu Gelar Klinik Tanaman. Kali ini para petani yang beruntung disambangi para pakar yang peduli pada nasib petani itu, adalah para petani di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.

Acara yang berlangsung pada tanggal 18, 22, dan 23 November 2017 itu, berlangsung di tiga desa yaitu Kalensari, di Kecamatan Widasari, Desa Nunuk di Kecamatan Lelea, dan Desa Anjatan Baru di kecamatan Anjatan.

Gelar Klinik Tanaman merupakan kegiatan berbagi baik antar petani dengan Klinik Tanaman, maupun petani dengan petani untuk memperoleh tindakan yang baik dan tepat dalam mengelola lahan pertanian. Kegiatan ini diselenggarakan atas kerjasama dari Klinik Tanaman IPB, Gerakan Petani Nusantara (GPN) dan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI). Gelar Klinik Tanaman melibatkan tim pelayan klinik tanaman yang terdiri dari dosen ahli dan mahasiswa.

Ketua GPN Hermanu Triwidodo melayani pertanyaan dari para petani terkait penanganan penyakit tanaman (dok. villagerspost.com/nazirummubin)

Tim klinik tanaman bertugas melayani petani-petani yang menghadapi permasalahan hama dan penyakit pada tanaman-tanamannya. Berbagai fenomena gagal panen yang berulang yang terjadi di tiga desa ini telah disampaikan oleh para petani.

Dari ketiga desa yang dikunjungi, permasalahan yang paling dikeluhkan oleh petani adalah adanya serangan wereng batang coklat (WBC) yang menyebabkan tanaman padi menjadi kerdil dan gagal panen, dengan istilah yang biasa dipakai oleh petani adalah penyakit “klowor”. Penyakit ini menyebabkan petani mengulang penanaman sampai 5 kali dalam satu musim tanam, dan tetap berakhir pada kegagalan.

Para mahasiswa pun dilibatkan untuk melayani petani yang ingin belajar mengenali dan menangani serangan penyakit tanaman pada padi (dok. villagerspost.com/prihatin)

Pada sesi sharing, Tarsono petani muda dari Desa Nunuk menyatakan bahwa kejadian ledakan WBC ini karena cuaca yang sangat basah pada periode akhir 2016 sampai 2017, sedangkan petani harus tetap menanam padi. “Beradasarkan rekomendasi dari skenario hujan yang ia buat bersama Kelompok Pengukur Curah Hujan Indramayu, harusnya sawah diberikan jeda penanaman,” ujar Tarsono.

Tujuannya, kata dia, supaya dapat memotong siklus biologis WBC. “Namun anjuran yang gegap gempita dalam penerapan IP300 (index penanaman 3 kali dalam semusim-red), membuat petani terus malukan penanaman, sehingga siklus dari WBC tetap tumbuh subur dan terjadilah ledakan besar pada 2017 ini,” katanya menyesalkan.

Wereng batang cokelat memang sering menjadi mimpi buruk bagi petani. Setidaknya terjadi outbreaks beberapa kali yang mengakibatkan kerugian berat bagi petani. Seperti halnya yang terjadi pada tahun 2011.

Pada tahun tersebut ledakan populasi wereng juga terjadi, bedanya pada tahun 2016-2017 ini terjadi pada area yang lebih luas. Bila pada tahun 2011 ledakan WBC terjadi di pulau Jawa, pada tahun ini WBC ini terjadi sampai di beberapa kabupaten di pulau Sumatera dan Sulawesi.

Dr. Widodo, Direktur Klinik Tanaman IPB memberikan pemaparan terkait cara menanggulangi penyakit tanaman secara alami lewat agroekologi (dok. villagerspost.com/prihatin)

Dalam gelaran ini disimpulkan, ledakan WBC yang menyebabkan “klowor” ini adalah kondisi iklim yang basah (La Nina) pada dua tahun terkahir. Kondisi ini juga dipicu oleh perilaku petani yang overdosis dalam penggunaan pestisida yang melemahkan fungsi ekosistem di lahan pertanian.

Berdasarkan pemantauan Klinik Tanaman IPB memang ada korelasi positif antara penggunaan pestisida dan peningkatan serangan wereng. Dr. Widodo selaku direktur Klinik Tanaman IPB sekaligus Peneliti IPB ini menyarankan kepada petani untuk melakukan pengendalian yang bersifat ekologis. “Petani harus meminimalisir penggunaan bahan kimia (pestisida) dalam budidaya. Kalaupun terpaksa, gunakanlah secukupnya, jangan berlebih,” ujarnya.

Ketua Umum GPN Hermanu Triwidodo mengajak petani untuk rukun dan bertindak bersama-sama untuk menghadapi musim tanam selanjutnya. “Kejadian kebelakang menjadi bahan dalam berperilaku ke depan. Kondisi iklim harus diperhatikan dalam membuat keputusan yang tepat. Tindakan-tindakan preemtif lebih awal untuk dilakukan,” ujarnya.

Seementara itu, Ketua umum HKTI Moeldoko yang memberikan sambutan dalam gelaran saat dilakukan di desa Nunuk menyampaikan, kehidupan petani saat ini sudah cukup susah. “Dan kami (HKTI) hadir untuk memudahkan urusan petani, dengan teknologi baru yaitu benih M-400 dan M-70 dengan tujuan untuk meningkatkan produktivitas,” ujarnya

Di akhir sambutannya, Moeldoko mengajak petani untuk menggunakan benih-benih terbaik, agar mendapatkan hasil panen yang baik.

Laporan/Foto: Hariadi Propantoko/Nazirummubin, Anggota Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP), Jurnalis Warga untuk Villagerspost.com

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *