Gestianus Sino: Duta Petani Muda 2018, Mengolah Tanah Batu Menjadi Lumbung Pangan Sehat | Villagerspost.com

Gestianus Sino: Duta Petani Muda 2018, Mengolah Tanah Batu Menjadi Lumbung Pangan Sehat

Suasana acara penganugerahan Duta Petani Muda 2018, ddi Jakarta, Sabtu (1/12). (villagerspost.com/m. agung riyadi)

Jakarta, Villagerspost.com – Tangis Gestianus Sino, nyaris saja pecah, saat namanya diumumkan sebagai pemenang pertama Duta Petani Muda 2018 yang dilaksanakan di Jakarta, Sabtu (1/12). Begitu nama petani muda asal Kupang, Nusa Tenggara Timur itu disebut, dia langsung tertunduk haru. Kawan-kawannya, sesama Duta Petani Muda 2018 lainnya segera mengelilinginya, satu per satu memeluk Gesti–panggilan akrab Gestianus Sino–dan mengucapkan selamat.

“Saya tidak menyangka juga bisa terpilih untuk belajar di Australia, tetapi saya mencatat, bahwa segala sesuatu kalau diusahakan, jika dilakukan secara totalitas, pasti punya efeknya, terhadap diri, keluarga, dan negara,” kata petani muda bidang usaha pertanian dan peternakan terpadu itu.

Sebagai pemenang utama, Gesti memang akan diberikan kesempatan untuk kunjungan belajar sektor pertanian di Australia yang disponsori oleh Acedemies Australasia Institute. Gestianus Sino lahir di Detukopi, 22 April 1983. Dia menjalankan usaha pertanian pangan dan hortikultura yang terdiri dari komoditas sayur, buah, ikan dan ternak, sejak tahun 2013 lalu.

Usahanya diberi nama CV GS Organik. Kegiatan usaha ini lahir dari hobi dan kecintaan Gestianus pada aktivitas pertanian. Kegiatan yang awalnya muncul dari hobi ternyata dapat berkembang dan memenuhi kebutuhan keluarga akan bahan makanan yang sehat.

Sebagai sarjana pertanian, lulusan Universitas Nusa Cendana tahun 2011, keberhasilan usaha semakin mendorong keinginan Gestianus memaksimalkan lahan yang dimilikinya. “Dari usaha ini, saya tiga tahun berusaha saja sudah mampu membeli rumah, mobil, saya punya tanah,” ujarnya.

Gesti punya tips yang jitu untuk para calon pengusaha muda pertanian. “Urus kebun itu yang penting buat dulu baru pikir, kalau pikir dulu baru buat, nanti akan muncul banyak pertanyaan seandainya, kalau, kemungkinan, jadi buat dulu. Pemasaran juga begitu, teman bilang, bagaimana nanti pemasarannya? Saya juga jawab, buat dulu,” tegasnya.

Toh, kata Gestianus, akhirnya usaha yang dilakukannya mulai dilirik banyak pihak yang mampu memasarkan bahkan hingga ke luar negeri. Tantangan yang dilalui, kata dia memang berat, terlebih di Pulau Timor, khususnya, tanahnya umumnya padas dan berbatu.

Karena itu, kata dia, tak heran jika banyak lulusan sarjana asal NTT yang memilik bekerja di luar NTT seperti di Kalimantan atau bahkan Malaysia. Namun, sebagai sarjana pertanian, kata Gesti, masalahnya adalah, orang tetap butuh makan dan butuh makanan sehat. “Hasilnya dari mana? siapa yang produksi?” ujarnya. Karena itu, dia memutuskan untuk memulai usaha pertanian terpadunya.

Bagi dia, di awal usahanya, lebih baik memiliki penghasilan 250 ribu sebulan, namun semua kebutuhan pokok bisa dipenuhi sendiri dan terjamin kesehatannya. “Daripada misalnya upah minimum di NTT 1,5 juta rupiah, tapi semua harus beli, lombok beli, garam beli, sayur beli, telur beli. Bagi saya yang penting terjamin makanan kita sehat,” tegasnya.

Selain memilih Gestianus Sino sebagai pemenang utama, ajang Duta Petani Muda 2018 ini juga memilih tiga petani muda terbaik. Gelar itu jatuh kepada Destika (Lampung), Etti Magdalena (Pekanbaru), dan Ahmad Maupur (Tegal).

Destika Restiyani lahir di Sumberjaya, 29 Desember 1990, menggeluti usaha perkebunan dengan komoditas kopi. Usaha tersebut sudah dijalani Destika selama 4 tahun. Sebagian besar areal hutan di Kabupaten Lampung Barat telah dikonversi menjadi perkebunan kopi. Sayangnya, tidak semua perkebunan kopi dikelola dengan baik sehingga produktivitas kopi terus menurun. Hal inilah yang memicu petani kopi untuk membuka lahan baru untuk menambah penghasilan mereka.

Keprihatinan terhadap kondisi tersebut menggerakkan hati Destika untuk ikut serta menjadi petani kopi dan berharap dapat membawa perubahan positif bagi kelangsungan perkebunan kopi di kampung halaman. Cara yang ia tempuh adalah dengan penerapan GAP (good agricultural practice) dan social forestry di mana perkebunan kopi dapat menjadi sumber penghasilan jangka pendek dan menengah dengan praktik yang berkelanjutan. Sebab, kopi merupakan salah satu komoditas unggulan Provinsi Lampung sehingga sangat disayangkan jika potensinya tidak dikelola dengan baik.

Etti Magdalena lahir di Sibolga, 14 April 1986, memiliki usaha Pertanian Pangan dan Hortikultura dengan komoditas sayur hidroponik. Usaha ini sudah dijalani Etti selama 3 tahun lebih. Saat ini ia memasok sayuran ke 5 supermarket di area Pekanbaru untuk sayuran segar paling tidak 3 kali seminggu. Yang membuat Etti senang menekuni usaha hidroponik karena hobi bercocok tanam. Bagi Etti, usaha hidroponik merupakan usaha yang relatif baru dan selalu menjadi pusat perhatian.

Etti membuktikan ketika dia mengikuti pameran atau EXPO, stand-nya selalu ramai dikunjungi. Etti mengaku bangga bisa mengedukasi masyarakat bahwa dengan berhidoponik bisa menghasilkan sayuran sehat. Hidroponik juga merupakan salah satu cara bertani dengan lahan terbatas dan perawatan minimal untuk memenuhi kebutuhan sayur dalam negeri.

Ahmad Maupur lahir di Tegal, 7 September 1983, menjalankan usaha perbenihan untuk komoditas bawang putih yang diberi nama PB Berdikari. Ahmad sudah menjalankan usahanya selama 3 tahun. Ahmad Maupur adalah salah seorang petani muda yang ingin mengembalikan masa kejayaan bawang putih di Desa Tuwel.

Menurut Ahmad, minimnya minat generasi sekarang untuk bertani, berbeda ketika era 80-90 an di mana bawang putih menjadi primadona di daerahnya, hampir semua generasi muda saat itu ingin menjadi petani. Usaha yang digeluti Ahmad bertujuan untuk mengurangi pengangguran, karena bawang putih merupakan komoditas pertanian yang banyak menyerap tanaga kerja. Bawang putih merupakan tanaman yang paling sedikit menggunakan pestisida di bandingkan dengan komoditas hortikultura yang lain, hal ini akan berdampak baik terhadap lingkungan.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *