Greenpeace: Pembangunan Listrik Nasional Masih Dikotori Batubara | Villagerspost.com

Greenpeace: Pembangunan Listrik Nasional Masih Dikotori Batubara

Massa bergerak menuju istana negara menyeru pemerintah hentikan kecanduan energi kotor khususnya batubara (dok.greenpeace/Jurnasyanto Sukarno

Jakarta, Villagerspost.com – Greenpeace Indonesia menilai, pembangunan tenaga listrik di Indonesia masih dikotori oleh batubara karena sebagian besar pembangkit listrik yang dibangun masih mengandalkan bahan bakar batubara. Hal itu terlihat dari Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik 2018-2027 (RUPTL), yang merupakan rencana pembangunan listrik untuk 10 tahun PT PLN (Persero), yang telah disetujui Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan.

Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia Hindun Mulaika mengatakan, dalam RUPTL baru itu memang ada pengurangan pembangunan pembangkit listrik. PLN hanya akan membangun pembangkit berdaya total 56.024 MW, atau berkurang sejumlah 21.849 MW dibandingkan dengan RUPTL lama untuk menyesuaikan penurunan permintaan listrik.

Sayangnya, dari jumlah tersebut sebanyak 54,4% pembangkit yang akan dibangun masih mengandalkan bahan bakar batubara. Sisanya sejumlah 22,2% menggunakan gas, 23% dari sumber terbarukan, dan 0,4% dari bahan bakar diesel.

“Pengurangan tenaga batubara ini tidak cukup untuk mencegah bencana pencemaran udara dan melindungi konsumen dari kenaikan harga energi. Seperti yang bisa kita lihat, batubara masih mendominasi listrik kita sebesar 54,4%,” kata Hindun.

Seperti dikatakan Jonan, dalam RUPTL baru memang ada pengurangan 5.000 MW pembangkit listrik tenaga batubara. Namun, dalam hal porsi campuran energi, menunjukkan bahwa porsi batubara meningkat menjadi 54,4% dibandingkan dengan RUPTL sebelumnya, yaitu hanya 50,4%.

Pengurangan yang lebih besar terjadi pada energi terbarukan, khususnya rencana pembangkit listrik tenaga air 5.000 MW dan pembangkit listrik tenaga panas bumi sebesar 1.700 MW. Sementara itu, pangsa energi terbarukan lainnya, termasuk solar, biomassa, dan angin, meningkat dari 1.200 MW menjadi 2.000 MW.

“Jonan adalah pemikir inovatif dan kami mengharapkannya untuk membawa sektor energi Indonesia ke depan dan tidak terkunci dalam teknologi lama seperti batu bara. Saat ini, banyak negara lain seperti India, China, dan bahkan Arab Saudi telah mengubah arah investasinya untuk energi terbarukan, sementara Indonesia masih mengandalkan lebih dari 50% sumber listriknya untuk batubara,” kata Hindun

Dia menegaskan, yang tidak kalah penting, di RUPTL yang baru, PLN mengulangi kesalahan lamanya yaitu memperkirakan pertumbuhan permintaan yang berlebihan yang menyebabkan kelebihan kapasitas saat ini, hingga membuat anggaran negara berisiko. Pertumbuhan permintaan diproyeksikan sebesar 6,86% masih terlalu tinggi bila mengingat pertumbuhan permintaan rata-rata 4,4% dalam lima tahun terakhir.

Dengan fakta bahwa pengurangan batubara hanya 5.000 MW atau kurang dari permintaan koalisi BreakFree -13.000 MW dari pembatalan pembangkit batubara baru, dapat diasumsikan bahwa tidak cukup menjawab masalah kapasitas berlebih di jaringan Jawa-Bali.

“RUPTL ini merupakan kemenangan industri batubara karena mendapat keuntungan dari polusi udara dan kenaikan harga listrik. PLN sekali lagi telah membiarkan masyarakat menanggung dampak kesehatan dari polusi udara, menyia-nyiakan modal dan subsidi untuk pembangkit batubara yang tidak dibutuhkan,” kata Hindun. (*)

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *