Greenpeace: PLTU Celukan Bawang Ancam TN Bali Barat | Villagerspost.com

Greenpeace: PLTU Celukan Bawang Ancam TN Bali Barat

Aksi aktivis Greenpeace menentang penggunaan energi batubara yang dinilai sebagai energi kotor (dok. greenpeace)

Jakarta, Villagerspost.com – Greenpeace Indonesia menyatakan, emisi dari pembangkit listrik Celukan Bawang, di Kabupaten Buleleng, sudah mencemari kawasan tersebut dan menyebabkan masalah kesehatan bagi masyarakat setempat. Greenpeace Indonesia juga melaporkan kesaksian warga desa tentang meningkatnya masalah pernafasan di keluarga mereka.

Selain mengancam kesehatan warga, pembangunan PLTU batubara Celukan Bawang juga dinilai akan mengancam kawasan Taman Nasional Bali Barat dan kawasan wisata Pantai Lovina. “Rencana perluasan ini tidak boleh dibiarkan berlanjut. Kami sekarang sedang mengajukan gugatan untuk menghentikan proyek, belum ada konsultasi publik tentang rencana perluasan, yang dipaksakan tanpa penilaian dampak lingkungan yang sesuai dengan hukum,” kata Dewa Putu Adnyana, dari LBH Bali, dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Selasa (17/4).

PLTU Celukan Bawang juga dinilai mengancam mata pencaharian para petani dan nelayan karena hasil tangkapan dan panen berkurang. Meskipun demikian, sekarang ada rencana untuk memperluas pembangkit dan menambah kapasitasnya sebesar 2×330 MW batubara. Ini akan lebih dari dua kali lipat kapasitas pembangkit sebelumnya dan memperburuk polusi yang dihasilkannya.

Jurukampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia Didit Haryo mengatakan, Bali adalah permata berharga bagi Indonesia, yang harus dihargai dan dilindungi, tidak dihancurkan dengan polusi. Begitu banyak mata pencaharian akan hilang ketika emisi dari PLTU ini tersebar di wilayah tersebut. “Memperluas PLTU Celukan Bawang adalah pengkhianatan bagi masyarakat Bali oleh gubernur Bali dan perusahaan pengembangnya,” kata Didit.

Bukan hanya pertanian lokal dan komunitas nelayan yang akan menderita jika perluasan ini terus berlanjut. PLTU Celukan Bawang hanya berjarak 20 km dari Pantai Lovina, kawasan wisata populer yang terkenal karena pantai pasir hitam, terumbu karang, dan lumba-lumba.

Lumba-lumba khususnya akan terpengaruh oleh peningkatan lalu lintas kapal dan kebisingan dari mesin kapal. Polusi meningkat yang mendorong wisatawan pergi, mempengaruhi mata pencaharian semua orang yang bekerja di sektor ini.

PLTU juga menimbulkan risiko bagi Taman Nasional Bali Barat, rumah bagi satwa langka dan dilindungi termasuk macan tutul Jawa, trenggiling dan jalak Bali yang semuanya sangat terancam. Tidak dapat dipungkiri bahwa emisi dari PLTU akan mencemari daerah yang indah ini. “Batubara bukan sumber listrik masa depan,” kata Didit Haryo.

PLTU yang ada dikembangkan oleh sekelompok perusahaan, termasuk China Huadian Engineering Co, Ltd (CHEC), Merryline International Pte. Ltd (MIP) dan PT General Energy Indonesia (GEI), dengan perkiraan total investasi mencapai US$700 juta, didukung oleh China Development Bank. Di dalam negeri, China telah menderita polusi udara yang mengerikan dari ketergantungannya pada batubara.

Ketika China mengalami transisi energi dari batubara dan menunjukkan kepada dunia apa yang dapat diberikan energi terbarukan, perusahaan dan bank China juga harus bertujuan untuk mempercepat transisi energi ke luar negeri dengan berinvestasi lebih banyak ke energi terbarukan. Tahun lalu saja China menghasilkan kapasitas terpasang dari tenaga surya lebih dari seperempat dari total permintaan listrik tahunan Indonesia.

“Ini perlu menjadi masa depan kita juga. Bali hanya akan bertahan hidup dan berkembang sebagai tujuan wisata jika memiliki energi yang bersih dan berkelanjutan, bukan emisi polusi dari pembangkit batubara seperti di Celukan Bawang,” pungkas Didit.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *