Greenpeace Serukan Indonesia Bebas Sampah dan Bebas Insinerator | Villagerspost.com

Greenpeace Serukan Indonesia Bebas Sampah dan Bebas Insinerator

Aktivis Greenpeace membersihkan sampah di kawasan Teluk Naga (dok. greenpeace)

Aktivis Greenpeace membersihkan sampah di kawasan Teluk Naga (dok. greenpeace)

Jakarta, Villagerspost.com – Ratusan aktivis Greenpeace turut melakukan aksi bersih sampah bersama masyarakat. Aksi bersama ini dilakukan di 8 kota yaitu Padang, Pekanbaru, Bandung, Semarang, Jogja, Surabaya, Jayapura, dan Jakarta, dan merupakan bagian dari dukungan Greenpeace terhadap Gerakan Indonesia Bebas Sampah 2020.

“Indonesia sebagai penyumbang sampah ke lautan kedua terbesar di dunia, harus segera berbenah diri dalam pengelolaan sampahnya, karena banyak sampah yang berakhir di lautan dan mengancam keberlanjutan ekosistem laut Indonesia yang indah,” kata Juru Kampanye Laut Greenpeace Indonesia Arifsyah Nasution dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Minggu (21/2).

(Baca Juga: Sampah Jadi Energi, Kebijakan Terburu-Buru)

Arifsyah mengatakan, masyarakat dunia terus menghasilkan lebih banyak sampah dan limbah. Untuk mengubah tren yang mengkhawatirkan ini, dukungan politik pemerintah dan inovasi serta pertanggungjawaban industri yang kuat sangat dibutuhkan. “Pengelolaan sampah perlu dilakukan secara terpadu dan mengatasi akar masalahnya,” ujarnya.

Inisiatif terbaru pemerintah untuk membangun pengolahan sampah waste to energy teknologi termal seperti insinerator termasuk gasifikasi dan pyrolisis yang direncanakan akan dibangun di 7 kota di Indonesia malah akan menghasilkan masalah baru dan bukan merupakan solusi.

Juru Kampanye Detox Greenpeace Indonesia Ahmad Ashov Birry mengatakan, teknologi insinerator akan mampu menghilangkan sampah hanyalah mitos besar. Kenyataanya sampah hanya berubah bentuk menjadi gas dan disebar ke udara, perairan dan daratan yang luas. Pembakaran yang terjadi di insinerator menghasilkan berbagai polutan berbahaya termasuk Dioxin, material paling beracun yang dikenal ilmu pengetahuan yang dapat menyebabkan kanker pada manusia.

“Jika pemerintah terus bersikukuh membangun insinerator dan sejenisnya ini sama saja dengan secara sengaja meracuni udara dan lingkungan kita,” kata Ashov.

Insinerator melepaskan berbagai polutan dalam bentuk gas, abu dan residu beracun lainnya. Filter yang digunakan untuk membersihkan gas dalam cerobong ininerator juga menghasilkan limbah beracun padat dan cair, yang pada akhirnya juga harus dibuang.

Satu-satunya cara untuk memperbaiki situasi ini dan melindungi lautan dari pencemaran yang akut dengan menghindari produksi sampah dan limbah beracun dengan menghapuskan penggunaan bahan beracun berbahaya, mentransformasi proses produksi dan penanganan setelah pakai dari berbagai produk yang kita gunakan.

Aksi masyarakat di Hari Peduli Sampah Nasional ini sudah seharusnya diikuti kepedulian pemerintah untuk tidak membangun insinerator dan sejenisnya yang hanya akan membahayakan lingkungan dan kesehatan masyarakat. Penolakan masyarakat terhadap insinerator telah berkembang di seluruh dunia.

“Masyarakat telah menyadari bahwa tidak ada tempat untuk pembakaran sampah dan limbah B3 dalam masyarakat yang berkelanjutan. Indonesia harus bebas sampah, dan bebas insinerator,” pungkas Ashov. (*)

Ikuti informasi terkait energi sampah >> di sini <<

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *