Harga Anjlok, Petani Bawang Mumet | Villagerspost.com

Harga Anjlok, Petani Bawang Mumet

Petani bawang di Brebes mengangkut hasil panennya (dok. villagerspost.com/suharjo)

Brebes, Villagerspost.com – Para petani bawang di Brebes, Jawa Tengah dibikin pusing kepala alias mumet lantaran hasil panen bawang merah mereka yang melimpah ternyata tidak dihargai secara memadai. Harga bawang merah yang anjlok hingga di harga Rp10 ribu per kilogram, membuat petani malah mengalami kerugian.

“Mumet harga bawang murah,” kata Kasad, salah seorang petani bawang merah di Brebes, kepada Villagerspost.com, Rabu (5/12), sambil menempuk dahi.

Kasad mengaku, sebenarnya, hasil panen bawang merah rata-rata bagus. “Per petak hasilnya 8 kuintal,” ujarnya. Hanya saja, kata dia, hasil yang bagus itu tidak juga menyejahterakan petani jika harganya anjlok. Pasalnya biaya menanam hingga panen cukup tinggi.

Bawang merah hasil panen dijemur (dok. villagerspost.com/suharjo)

Untuk harga tebas, per petak, kata Kasad, mencapai Rp7 juta. Namun, jika dihitung antara harga yang diterima petani itu, dengan biaya bertani bawang, dari pengolahan lahan, bibit, tanam, pupuk, pengendalian hama, dan panen maka harga per petak senilai Rp7 juta tidak cukup. “Pasalnya biaya produksi sudah di atas itu,” ujar Kasad.

Dia mengaku, sudah tiga musim ini harga bawang merah tidak bersahabat dengan petani bawang. Sehingga banyak petani yang tidak menjual bawang merahnya atau di panen sendiri dan nantinya akan disimpan terlebih dahulu, jika harga sudah baik maka akan di jual.

Petani bawang merah, memanen hasil tanamnya (dok. villagerspost.com/suharjo)

Namun dalam proses pengeringan petani terkendala oleh cuaca yang tidak mendukung karena hampir seminggu cuaca mendung kemudian hujan ini mengakibatkan proses pengeringan terhambat bahkan bawang merah jadi rusak yaitu daun bawang merah bukannya mengering tapi membusuk. “Ada petani yang menjual karena terpaksa untuk menutup biaya operasional karena pupuk dan pengarairan harus di bayar,” ujarnya

Sebelumnya, Ketua Asosiasi Bawang Merah Indonesia (ABMI) Juwari mengungkapkan saat ini harga bawang di tingkat petani pada awal Oktober harga bawang di Brebes sempat berada pada titik terendah, yakni Rp10 ribu per kilogram. Padahal, untuk mencapai break event point alias titik impas, harga bawang seharusnya di angka Rp13.500 per kilogram. Bagi petani yang memiliki lahan 0,25 hektare, selisih harga (untung) seharusnya Rp 5.000. “Kalau hanya dijual Rp15.000 juga hasilnya enggak nutup modal,” kata dia.

Hasil panen bawang merah cukup baik, namun harga tak bersahabat (dok. villagerspost.com/suharjo)

Menurut Juwari, petani merugi lantaran modal yang dikeluarkan sudah besar. Saat menanam, harga bibit bawang sedang naik mencapai Rp3,2 juta per kuintal. Harga normalnya Rp2,5 juta per kuintal. “Modalnya banyak tapi hasilnya sedikit,” ungkapnya.

Karena itu, dia meminta kepada pemerintah untuk ikut berperan serta menstabilkan harga bawang merah. “Pemerintah jangan hanya berperan ketika harga bawang naik, tetapi juga ketika harga turun,” kata Juwari.

Dia menilai keterlibatan Bulog yang dijanjikan pemerintah akan turun tangan untuk mengatasi anjloknya harga hingga saat ini juga belum berjalan. “Bahkan sebuah gudang di Wanasari yang sedianya akan dipakai untuk menampung hasil panen, sampai saat ini belum juga beroperasi,” pungkasnya. (*)

Laporan/Foto: Suharjo, Petani Bawang Merah dari Brebes, Jurnalis Warga untuk Villagerspost.com

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *