Harga Daging Rp80 Ribu per Kilogram tak Rasional | Villagerspost.com

Harga Daging Rp80 Ribu per Kilogram tak Rasional

Pedagang daging sapi segar di pasar tradisional (dok. jogjakarta.go.id)

Pedagang daging sapi segar di pasar tradisional (dok. jogjakarta.go.id)

Jakarta, Villagerspost.com – Wakil Ketua Komisi IV Herman Khaeron menilai penetapan harga daging sapi segar dipasar sebesar Rp80 ribu per kilogram oleh pemerintah tak rasional. Herman mengatakan, saat ini harga sapi hidup saja sudah mencapai Rp35 ribu/kg. Dengan menghitung biaya pemotongan dan lain-lain, minimal harga yang diterima masyarakat di pasar adalah sebesar Rp90 ribu/kg.

Karena itu, dia meminta pemerintah mengkaji ulang penetapan harga daging dengan mengedepankan rasionalitas, sehingga sehingga dapat menjadi referensi harga yang menjadi ketetapan bersama. Kaji ulang itu harus dibuat karena faktanya, harga daging segar dipasar saat ini merangkak naik diangka Rp120 ribu/kg selama bulan Ramadan ini.

“Jika harga daging berada diatas harga tersebut, pemerintah harus mengintervensi pasar, tetapi kalau jatuh pemerintah harus memberikan insentif kepada para peternak lokal. Dengan begitu, para peternak lokal masih tetap bisa menjaga harga,” kata Herman saat melakukan kunjungan spesifik ke Bandung, Senin (20/6).

(Baca juga: Harga Daging Meroket, Jokowi Imbau Makan Ikan)

Menurut politisi Partai Demokrat ini, pemerintah dalam menetapkan harga perlu melihat kondisi kewilayahan Indonesia yang terdiri dari pulau-pulau, sehingga membutuhkan transportasi dan distribusi yang memiliki biaya tinggi. Perlu dicatat , penetapan harga juga mengacu kepada harga petani, jadi kalau harga petani ditekan, harga dipasaran juga mengikuti.

Selain itu, lanjut Herman, walaupun Bulog mampu menjual dengan harga Rp80 ribu/kg tetapi dapat dipastikan Bulog tidak mendapat untung. Mereka mendapatkan dana operasional dari raskin, pertama dari pembelian beras pemerintah terhadap bulog yang kurang lebih Rp1.050. “Adapun margin fee yang diperoleh oleh Bulog pada setiap satuan kg yang disalurkan melalui raskin,” ujarnya.

Dengan begitu, pada waktu Bulog menyalurkan daging segar dengan harga Rp80 ribu, mereka tidak membutuhkan biaya operasional. “Lalu biagaimana dengan pihak swasta yang membutuhkan biaya operasional, jika harga yang ditetapkan seperti itu?” tanya Herman.

Dia menilai, situasi mahalnya harga daging saat ini juga perlu dipikirkan, karena dulu harga daging sapi hidup bisa ditekan sampai Rp25 ribu/kg. Dia menduga, salah satu penyebab mahalnya harga daging adalah nilai kurs rupiah terhadap dolar AS yang lemah dan bukan persoalan nilai rupiah terhadap daging.

“Menurut saya, rasionalisasi penetapan harga itu semestinya tidak mengacu kepada negara Australia, Singapura, atau Malaysia yang mengimpor daging kerbau dengan harga Rp40 ribu. Tidak bisa kita melakukan studi-studi kepada negara yang tidak bisa dicompare dengan Indonesia,” jelasnya.

Dalam hal ini, pemerintah juga harus menjelaskan kepada masyarakat. “Harus ada penetapan harga referensi berapa yang ditetapkan pemerintah sebagai harga yang layak dan yang proporsional,” tegas Herman. (*)

Ikuti informasi terkait harga daging sapi >> di sini <<

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *